Hujan di Planet Venus Mengandung Logam dan Paling Asam di Tata Surya

Hujan di Planet Venus Mengandung Logam dan Paling Asam di Tata Surya
Ilustrasi Hujan di Planet Venus. Foto: Ist/Net.

Hujan di planet Venus merupakan hujan yang paling asam di tata surya kita. Cairan terbentuk dari proses penguapan, kondensasi dan curah hujan. 

Wujudnya berupa larutan asam sulfat, berbeda dengan bumi hujannya adalah air. Studi lapisan awan di Venusia menunjukkan konsentrasi asam sulfat dalam larutan tersebut.

Ikatan dengan air sekitar 70 hingga 99 persen. Jadi, asam sulfat tidak stabil dalam bentuk murni. 

Baca Juga: Fenomena Aneh Hujan Berlian di Empat Planet Raksasa, Mengapa Terjadi?

Hujan di Planet Venus Paling Asam di Tata Surya

Planet Venus mempunyai beberapa kemiripan dengan Bumi. Bila kita amati dari ukuran dan mempunyai komposisi yang sama.

Kemudian, kedua planet tersebut mengorbit dalam zona layak huni matahari. Perbedaannya terletak pada cuaca, termasuk hujan yang terjadi. 

Mengutip guinnessworldrecords.com, kekuatan konsentrasi asam sulfat meningkat saat ketinggian awan menurun. Sehingga dapat ditarik kesimpulan jika hujan di planet Venus mempunyai pH sekitar -1,2.

Penggunaan skala pH agar bisa menentukan seberapa asam atau basa larutan berbasis air. 

Pada umumnya skala pH antara 0 dan 14. Asam yang kuat 0 dan 14 adalah dasar yang kuat. Sementara, 7 mengindikasikan netral.

Untuk asam yang sangat kuat, nilainya akan lebih besar dari 14 atau kurang dari 0. Pengukuran pH tidak dapat melakukannya secara langsung. Jadi harus mewakili konsentrasi dari ion hidrogen dalam larutan tertentu. 

Hujan di Bumi biasanya sedikit asam. Kisaran pHnya antara 5 dan 5,5. Meskipun aktivitas vulkanik dan polusi atmosfer meninggalkan pH dengan asam dan kandungan air yang kecil.

Hujan asam di Bumi karena aktivitas manusia mempunyai pH sekitar 4. Sedangkan hujan asam karena alam seperti gunung merapi pH serendah 2.

Hujan di planet Venus kemungkinan penyebabnya dari reaksi sulfur dioksida dan air di atmosfer planet. Sifatnya lebih korosif daripada hujan terasam di planet kita. 

Badai hujan Venusia tidaklah menjadi kontributor yang signifikan terjadinya erosi permukaan. Suhu permukaan Venus rata-rata 473 derajat Celcius atau 884 derajat Fahrenheit. 

Kemudian asal sulfat tersebut akan mengalami penguapan pada 300 derajat Celcius. Dapat disimpulkan bahwa hujan asam mungkin akan mendidih pada ketinggian sekitar 30.000 m atau 98.425 kaki.

Baca Juga: Pengamatan Hujan Besi di Eksoplanet Berwajah Dua, Ini Penyebabnya

Hujan Mengandung Logam

Atmosfer pada Venus berbentuk padat dan tidak layak huni. Suhu permukaannya panas dan hujan asamnya akan menguap.

Venis terdapat awan yang mengandung asam sulfat. Sehingga permukaan tidak akan terlihat bila menggunakan metode konvensional.

Harus melakukan pengamatan dengan pesawat luar angkasa. Kelengkapannya adalah instrumen pencitraan radar, sehingga bisa menembus awan tebal. 

Massa Venus lebih besar dari Bumi, yakni 93 kali lipat. Atmosfer Venus mempunyai komposisi yang beracun. Terutama karbon dioksida, sulfur dioksida dan nitrogen.

Planet Venus mempunyai tekanan udara yang tinggi, angin kencang dan sangat panas. Selain itu, hujan di planet Venus mengandung logam dan asam sulfat. Terkadang  disertai petir efek dari letusan gunung berapi.

Aktivitas Vulkanis

Kondisi permukaan di Venus seperti peringatan akan bahaya pemanasan global. Seluruh atmosfer hampir terdiri dari karbon dioksida, gas rumah kaca dan suhu sangat panas.

Atmosfer juga terdiri dari asam sulfat dan karbon monoksida. Begitu pula dengan hujan di planet Venus.

Para ilmuwan dapat mengamati atmosfer Venus lewat penerbangan Mariner 2. Akan tetapi detail tersebut telah terlihat dari Magellan Orbiter tahun 1992.

Permukaan Venus tanpa kawah besar dan terdapat batuan vulkanik yang mendominasi. 

Batuan vulkanik pada  permukaan planet sekitar 85 persen. Hal tersebut mengindikasikan aktivitas vulkanik pada planet intens dan sedang berlangsung. 

Para pengamat menghitung permukaan planet memiliki lebih dari 1.600 gunung berapi dengan ukuran besar. 

Namun gunung-gunung tersebut tidak meletus seperti gunung berapi di Bumi. Sebab, uap air berkurang karena efek elemen peledak. 

Sulfur dioksida bergabung dengan jumlah jejak air di atmosfer bagian atas akan membentuk awan asam sulfat. Sehingga menjadi penyebab hujan badai.

Sebelum mencapai permukaan, hujan asam akan menguap. Kemudian, uap akan naik ke atmosfer dan melanjutkan siklusnya. Atmosfer planet ini bersirkulasi secara horizontal daripada vertikal. Sama seperti yang terjadi di Bumi.

Hujan di planet Venus sangat asam, menguap jauh sebelum mencapai permukaan planet. Hujan akan lebih banyak saat uap mulai naik atmosfer. (R10/HR Online)

Editor: Jujang