Tergerus Zaman, Pengrajin Atap Kirai di Pangandaran Tetap Bertahan

Tergerus Zaman, Pengrajin Atap Kirai di Pangandaran Tetap Bertahan
Atap daun kirai atau rumbia produksi warga Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Foto:Ceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Sejumlah masyarakat di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, masih banyak yang memproduksi atap daun kirai atau rumbia.

Salah satu yang masih menggeluti produksi atap kirai adalah Edi Risadi.

Warga Langkaplancar ini mengaku, tetap memproduksi atap daun kirai lantaran bahan bakunya masih tersedia banyak di Langkaplancar.

Selain itu, permintaan terhadap atap kirai ini masih cukup banyak.

“Banyak masyarakat yang menggunakan atap daun kirai untuk gazebo, saung ternak dan lainnya,” ujar Edi Senin (5/4/2021).

Edi mengakui, saat ini masyarakat Pangandaran sudah jarang yang memakai atap rumahnya dengan anyaman daun kirai.

“Sekarang kebanyakan pakai genteng atau asbes,” katanya.

Edi menjelaskan, proses pembuatan atap daun kirai cukup mudah.

Pertama yakni memotong dan mengumpulkan daun kirai, membuat tali dan memotong batang bambu sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Setelah semua bahan terkumpul, dilanjutkan ke proses penganyaman, setelah selesai penganyaman, atap daun kirai dijemur sampai kering.

“Setelah kering baru kita antar ke pemesan,” ucapnya.

Ia menyebut, dalam satu hari bisa membuat 25 sampai 30 lembar atap kirai.

“Untuk bahan baku saya dapat dari lahan sendiri dan sebagian dari lahan orang lain,” ungkapnya.

Harga per lembar atap daun kirai Pangandaran ini senilai Rp 2.500 per lembar.

“Kalau mau kita antar ke rumah pembeli, tentu harus ada ongkos kirimnya,” jelas Edi.

Ia berharap masyarakat tetap menggunakan atap daun kirai untuk keperluan saung gazebo atau saung kandang ternak.

“Selain ikut mempertahankan kearifan lokal, menggunakan atap daun kirai juga tentu akan memperindah bangunan itu sendiri, karena kelihatannya lebih alami,” pungkasnya. (Enceng/R8/HR Online)

Editor: Jujang