Daun Sente asal Kota Banjar Berhasil Diekspor Hingga Australia

Daun Sente
H. Yayat saat memperlihatkan proses pengeringan daun sente atau daun kajar. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Daun sente asal Kota Banjar, Jawa Barat, berhasil diekspor hingga ke Australia. Nantinya daun sente atau daun kajar yang sudah melalui proses perajangan akan diproses lagi menjadi bahan herbal.

Pengusaha yang berhasil mengekspor daun tersebut adalah H. Yayat Hidayat. Ia memiliki usaha pengolahan daun sente di Lingkungan Pintusinga, RT. 4, RW. 18, Kelurahan Banjar, Kota Banjar.

Yayat berhasil menggeluti usaha daun sente dari barang tak bernilai ekonomis menjadi barang menghasilkan rupiah setelah melalui produksi.

Bahkan, saat ini produksi usaha daun sente miliknya sudah menembus pangsa pasar luar negeri dan diekspor hingga ke Negeri Kanguru Australia.

Yayat mengaku, awalnya ia menggeluti usaha tersebut karena terinspirasi melihat berbagai informasi dalam sosial media tentang usaha dan budidaya daun kajar atau sente.

Kemudian, sekitar lima bulan yang lalu ia mulai membuka dan menekuni usaha tersebut bersama dengan H. Retno sebagai pihak yang mengelola usahanya.

“Baru sekitar lima bulan ini kami mulai menjalankan pengolahan daun sente atau daun kajar. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai proses berjalan,” kata Yayat kepada HR Online, Sabtu (29/05/2021).

Bahan Baku Daun Sente di Kota Banjar

Lebih lanjut Yayat mengatakan, untuk penyediaan bahan baku dalam proses produksinya, ia membeli daun sente yang dikumpulkan oleh warga.

Jika sudah terkumpul, daun sente kemudian masuk atahapan proses pengolahan hingga menjadi bentuk irisan kecil seperti proses perajangan tembakau. Setelah selesai, selanjutnya masuk ke pengemasan atau packing.

Dalam proses pengerjaannya, ada tiga orang karyawan yang membantunya. Mereka memiliki tugas masing-masing, seperti pengeringan, pengolahan daun, dan bagian perajangan.

“Jadi proses pengolahannya itu, daun sente diiris menjadi bagian kecil seperti tembakau. Setelah itu, baru kemudian proses packing, lalu masuk ke tahap penjualan,” ujar Yayat.

Baca Juga : Jual Daun Sente ke Australia, Pengusaha Muda Kota Banjar Raup Puluhan Juta Rupiah

Untuk distribusi barang, setelah melalui proses perajangan hingga menjadi bagian kecil, daun sente yang sudah melalui pengolahan itu akan dikirim ke distributor wilayah Jawa Timur. Selanjutnya diekspor ke Australia.

Menurut Yayat, dari informasi yang ia terima, nantinya daun sente yang sudah melalui proses perajangan tersebut akan masuk tahap pemrosesan lagi menjadi bahan herbal. Harga jual daun sente yang ia produksi sebesar Rp 23 ribu per kilogram. Tergantung kualitas barang hasil olahan.

“Untuk harga tentunya menyesuaikan dengan kualitas barang. Dalam sekali distribusi, kami biasanya mengirim barang sekitar satu ton daun sente yang sudah berbentuk rajangan,” terang Yayat.

Proses Produksi

Sementara itu, pengelola produksi, H. Retno menjelaskan, dalam prosesnya itu, daun sente yang masih dalam keadaan basah atau baru petik akan diendapkan. Yaitu dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama tiga hari.

Setelah daun terlihat menguning, baru masuk proses perajangan menjadi bagian-bagian kecil seperti tembakau menggunakan mesin perajang.

Kemudian, daun yang sudah melewati proses perajangan akan masuk tahap penjemuran menggunakan panas matahari sampai kondisinya betul-betul kering.

Sebagai perbandingan, sambung Retno, dari 10 kilogram daun sente yang masih basah akan menyusut menjadi 1 kilogram setelah melalui proses perajangan.

“Setelah selesai tahap pengeringan kemudian masuk tahap pengemasan menggunakan plastik atau packing. Pada saat proses pengeringan itu bobotnya akan menyusut,” jelasnya.

Retno menambahkan, selama masa lima bulan menjalankan proses produksi, ia mengaku sempat mengalami kegagalan beberapa kali. Penyebabnya karena tidak bisa memilah daun sente yang berkualitas.

Selain itu, pada awalnya juga masih minim pengalaman dalam tahapan pengolahan produksi daun sente, terutama dalam proses pengeringan.

“Pernah juga dulu waktu awal produksi kami gagal, dan hasilnya malah banyak daun yang busuk. Tapi itu ya karena kami memang masih kurang pengalaman,” pungkasnya. (Muhlisin/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah