Idap Kanker Nasofaring, Warga Pangandaran Butuh Bantuan

Idap Kanker Nasofaring, Warga Pangandaran Butuh Bantuan
Dadang Sumardi (53) warga Desa Batu Karas RT 13 RW 10 Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, mengidap penyakit kanker nasofaring dan kini butuh bantuan. Foto:Ceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Mengidap kanker nasofaring, warga Desa Batu Karas RT 13 RW 10 Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jabar, kini butuh bantuan.

Adalah Dadang Sumardi, seorang penjaga villa pribadi di objek wisata Pantai Batu Karas yang mengidap penyakit langka tersebut.

Latar belakang ekonomi yang lemah, membuat ia kesulitan untuk melaksanakan pengobatan.

Saat ini, Dadang tengah menjalani rawat jalan di RS Dadi Keluarga Purwokerto untuk menjalani kemoterapi dan penyinaran, agar kanker nasofaring yang ia derita sembuh.

Pihak keluarga saat ini kebingungan lantaran biaya penyinaran di RS Dadi Keluarga tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Salah satu anggota keluarga Dadang, Taofik mengatakan, saudaranya tersebut dinyatakan mengidap kanker nasofaring setelah sekian lama menjalani pengobatan kesana-kesini.

“Dadang mulai sakit sejak dua tahun kebelakang,” ujar Taofik Sabtu (29/5/2021).

Divonis Kanker Nasofaring Setelah Anak Istri Meninggal Dunia

Lanjutnya, Taofik mengalami sakit usai istri dan anaknya meninggal dunia.

Istrinya meninggal karena serangan jantung usai mendengar suara petasan.

Sementara anaknya Kaka Handika (12) yang masih bersekolah SD meninggal akibat mengidap kanker darah.

Anaknya menjalani perawatan di RSUP dr Sardjito Yogyakarta selama 8 bulan.

Sejak saat itu, sebenarnya Dadang sudah mengalami sakit yang cukup parah, kerap merasa sakit kepala tak tertahankan.

Dadang juga kerap mengalami sakit daerah hidung, mimisan hingga demam tinggi selama menjaga anaknya.

“Karena ingin fokus mengurusi perawatan anaknya, Dadang tidak langsung memeriksakan diri ke dokter,” jelas Taofik.

Sampai akhirnya Dadang benar-benar tak kuat menahan sakit, ia pun berobat ke dokter umum dan THT.

Dokter pun belum memvonis Dadang terkena kanker nasofaring.

Saat itu dokter memvonis Dadang mengidap tumor dan menyarankan ia untuk terus berobat.

“Namun karena ingin fokus merawat anaknya dan faktor biaya, Dadang tak meneruskan pengobatan,” kata Taofik.

Sampai akhirnya, anak Dadang meninggal dunia. Dadang pun langsung drop dan terpaksa harus dirawat di RSUD Pandega.

Saat menjalani perawatan, dokter menyarankan untuk dirujuk ke Poli Bedah karena ditemukan benjolan pada pundak dan leher.

Dadang pun menjalani operasi, namun usai operasi kondisi kesehatannya tidak mengalami perubahan.

“Malah kondisinya makin memburuk karena rasa sakit bekas operasi,” katanya.

Ada Benjolan di Leher dan Pundak

Saat menjalani pengobatan, dokter juga menemukan abses kronis hingga Dadang harus dirujuk ke Poli Gigi.

Dokter juga sempat menyayat leher dan punggung Dadang untuk dijadikan sampel.

“Namun dokter terakhir yang menangani Dadang sudah angkat tangan, tidak menemukan penyakit yang Dadang derita,” jelas Taofik lagi.

Dadang pun melanjutkan pengobatannya ke spesialis THT RS Dadi Keluarga Purwokerto.

“Ke RS DK Purwokerto empat kali pulang pergi, hasilnya Dadang divonis mengidap kanker nasofaring,” ungkap Taufik.

Saat ini, Dadang tengah menjalani rawat jalan di RS Dadi Keluarga Purwokerto untuk menjalani kemoterapi dan penyinaran.

“Namun sekarang kita terkendala biaya karena biaya kemo dan penyinaran tidak ditanggung BPJS,” pungkasnya. (Ceng2/R8/HR Online)

Editor: Jujang