Indeks Saham Syariah di Indonesia

indeks saham syariah
bisnis muda

Indeks saham syariah yang ada di Indonesia terdiri dari beberapa macam. Mengingat bahwa investasi saham syariah saat ini kian berkembang dan cukup banyak peminatnya. Dari jumlah data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menunjukkan perkembangan tersebut.

Fakta yang pertama, jumlah saham syariah kini terus bertambah banyak dari waktu ke waktu. Di tahun 2013, jumlah saham syariah hanya berjumlah 328. Setelah tujuh tahun kemudian yakni tahun 2020, jumlah saham syariah sudah mencapai 467 saham.

Saham yang berlandaskan syariat Islam ini dimasukkan ke Daftar Efek Syariah (DES) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan untuk setiap dua kali dalam satu tahun.

Fakta kedua, semakin bertambahnya indeks saham syariah di Indonesia yang pesat. Indeks saham syariah ini merupakan berisi saham syariah yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. 

Di masa lalu, indeks saham syariah di Indonesia bernama Jakarta Islamic Index (JII). Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya bursa menambah indeks saham syariah baru antara lain Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan juga Jakarta Islamic Index 70 (JII70).

Jenis Indeks Saham Syariah

Inilah perbedaan indeks saham syariah yang ada di Indonesia, di antaranya:

Jakarta Islamic Index (JII)

JII merupakan jenis indeks saham syariah tertua yang ada di Indonesia. Peluncurannya sejak tahun 2000, dan indeks kini berusia hampir lebih dari 20 tahun di BEI. Melalui indeks ini, kita bisa melihat bagaimana perkembangan di Indonesia.

Berdasarkan sumber data OJK, kapitalisasi pasar JII yaitu sebesar Rp74 miliar di tahun 2000. Hingga 20 tahun kemudian di September 2020, besarnya kapitalisasi pasar JII mencapai Rp1,83 triliun.

Menurut situs dari BEI, konstituen JII ini hanya terdiri atas 30 saham syariah paling likudi di BEI. Seleksi saham yang masuk ke JII ditentukan oleh BEI dengan memenuhi kriteria likuiditas yaitu sebagai berikut:

  • Saham ini yang sudah masuk ke konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan telah tercatat selama 6 bulan terakhir
  • Terpilih 60 saham melalui urutan dari rata-rata kapitalisasi pasar paling tinggi sudah selama 1 tahun terakhir
  • Dari 60 saham tersebut, lalu terpilih 30 saham dari rata-rata nilai transaksi harian pada pasar regular paling tinggi
  • Terdapat 30 saham tersisa adalah saham terpilih.

Indeks Saham Syariah (ISSI)

ISSI merupakan indeks saham yang telah rilis 11 tahun setelah JII resmi diluncurkan yaitu tepatnya pada 2011. Berbeda dengan JII yang berisi 30 saham, ISSI ini meliputi seluruh saham syariah dan tercatat di BEI dan masuk ke dalam DES.

DES ini ditinjau ulang oleh regulator yaitu sebanyak dua kali dalam satu tahun. Dengan begitu, penghuni ISSI juga harus menyesuaikan adanya perubahan dalam DES yang dibuat regulator.

Saat pertama kali rilis pada 2011, kapitaliasi pasar ISSI yaitu sebesar Rp1,96 triliun. Berdasarkan data OJK sejak per September 2020, kapitalisasi pasar ISSI telah berjumlah sebesar Rp2,92 triliun.

Jakarta Islamic Index 70 (JII70)

JII70 merupakan yang paling baru di BEI daripada JII dan ISSI. Perilisannya hadir sejak pada 17 Mei 2018. Sesuai dengan namanya, JII70 ini berisi 70 saham syariah paling likuid.

Metode pemilihan saham ini yang masuk JII70 mirip dengan JII. Hal yang membedakan adalah jumlah saham yang terseleksi pada tahap awal. Berdasarkan situs BEI, berikut ini adalah kriteria likuiditas pemilihan saham yang telah masuk JII70:

  • Saham syariah yang masuk ke dalam konstituen di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ini telah tercatat selama 6 bulan terakhir
  • Terpilihnya 150 saham berdasarkan urutan dari rata-rata kapitalisasi pasar paling tinggi selama waktu 1 tahun terakhir
  • Dari 150 saham tersebut, kemudian terpilih 70 saham berdasarkan rata-rata nilai dari transaksi harian pada pasar regular tertinggi.
  • Terdapat 70 saham yang tersisa adalah saham terpilih.

Pada dasarnya, saham syariah ini merupakan saham dari perusahaan yang aktivitas usahanya tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Maka dari itu OJK dan BEI ini memiliki sejumlah kriteria penting untuk menentukan syariah atau tidaknya dari sebuah saham agar tercipta aktivitas yang sesuai dengan ajaran Islam.