Minggu, Agustus 7, 2022
BerandaBerita TerbaruAsset Kripto, Serba Serbinya Di Sejumlah Negara

Asset Kripto, Serba Serbinya Di Sejumlah Negara

Asset Kripto saat ini tengah menjadi pembicaraan banyak orang di sejumlah negara. Kripto sendiri menjadi perhatian publik terutama nilainya yang terus bergerak fluktuatif.

Beberapa bulan lalu, harga Kripto melonjak naik hingga kisaran ratusan persen. Akan tetapi baru-baru ini harganya terus menurun. Bahkan penurunannya sampai ke angka paling rendah sejak awal kemunculannya.

Terdapat banyak faktor penurunan drastis tengah Kripto alami. Padahal baru saja negara El Salvador secara resmi menjadikan Bitcoin sebagai mata uang sah. Rupanya hal ini tidak membuat harga asset Kripto bergerak naik.

Harga Asset Kripto Tergerus Akibat Larangan China

Negara China memiliki kebijakan sangat keras terhadap industri penambangan asset Kripto. Hal ini mengakibatkan kapitalisasi mata uang digital ini tergerus cukup dalam. Bahkan angkanya hingga 300 miliar dollar AS.

Nilai tersebut setara dengan Rp. 4.320 triliun dalam kurs Rp. 14.400 sejak Jumat 18 Juni lalu. Hal ini terjadi karena sejak akhir minggu lalu pemerintah China membuat kebijakan terkait pelarangan penambangan Bitcoin.

Sehingga sebanyak 2 lokasi penambangan salah satu mata uang kripto di kawasan Sichuan kabarnya tutup. Mengutip sumber resmi, di hari Selasa 22 Juni pemerintah China beberapa hari terakhir meningkatkan upaya pengendalian industry.

Tentu saja pengendalian tersebut bermaksud untuk mata uang kripto yang ada di negara China. Sichuan sendiri merupakan salah satu pusat pertambangan Kripto terutama bitcoin paling besar di China. Sehingga sejumlah penambangan bitcoin di daerah barat daya China tutup sejak Minggu kemarin.

Langkah yang mereka lakukan di Sichuan tersebut berlangsung pasca provinsi lain sudah melakukan terlebih dahulu. Kawasan tersebut termasuk Mongolia Dalam yang sudah menutup aktivitas penambangan kripto lebih dulu.

Sebelunya, pemerintah negara China sudah menyatakan akan memberi tindakan keras pada penambangan bitcoin. Di hari Senin kemarin, bank sentral China yakni PBoC atau People’s Bank of China mengatakan tentang hal ini.

Pihaknya tersebut sudah melakukan pembicaraan bersama Alipay. Adapun Alipay merupakan layanan pembayaran yang menjadi anak usaha Antgroup serta lembaga keuangan yang utama. Bank sentral China menyatakan jika mendesak perusahaan tersebut tidak memberikan layanan tiap transaksi asset Kripto.

Pendiri Coinbase Pesimis Nasib Kripto Di Masa Depan

Nilai Bitcoin beserta asset Kripto lainnya sudah berjuang sangat keras. Harga untuk gabungan market kripto tergelincir sampai di bawah USD 1,5 triliun. Angka tersebut sudah turun hingga USD 2,5 triliun pada bulan Mei lalu.

Nyatanya, Elon Musk sudah mengupayakan pompaan aset ini. Namun harga Bitcoin maih turun hingga kembali pada kisaran USD 30.000 atau 431 juta rupiah untuk satu koinnya. Sekarang, grafik bitcoin kian jatuh dalam kurun waktu 50 hari.

Bahkan garis grafiknya di bawah rata-rata pergerakan selama 200 hari. Banyak orang menyebut pola pergerakan ini sebagai salib maut. Melansir sumber di Jakarta, salah satu pendiri Coinbase yakni Fred Ehrsam menanggapi hal tersebut.

Ia mengingatkan jika ‘sebagian besar’ mata uang kripto serta asetnya sampai NFT akan mempunyai sedikit nilai. Bahkan menurutnya bisa saja tidak memiliki nilai sama sekali tiga hingga lima tahun mendatang.

‘Salib maut’ milik Bitcoin menjadi salah satu indikator harga yang sangat tertinggal. Terakhir kali pola perdagangan seperti ini terjadi pada bulan Maret tahun 2020 silam. Hal tersebut sebagai pertanda kenaikan bicoin terbesar.

Serta membantu cryptocurrency lebih kecil dan kemudian melonjak menuju level paling tinggi sepanjang masa. Banyak orang akan mencoba bermacam hal. Serta terdapat jutaan cryptocurrency maupun asset kripto seperti jutaan website. Kebanyakan dari hal tersebut kemudian tak akan berfungsi nantinya, ujar Ehrsam.

Sebuah Perusahaan Beli Bitcoin 7T Langsung Merugi

Meskipun harganya bergerak fluktuatif, nyatanya masih ada perusahaan yang membeli asset Kripto dalam jumlah banyak. Perusahaan tersebut ialah di bidang teknologi bernama MicroStrategy. Mereka sudah membeli Bitcoin seharga USD 489 juta atau lebih dari 7 triliun rupiah.

Kendati mata uang kripto ini terus menurun, mereka rupanya tidak takut serta tetap menganggap sebagai investasi bak. Pendiri dari perusahaan yakni Michael Saylor mengatakan jika uang tersebut mereka pakai untuk menebus 13,005 Bitcoin.

Secara keseluruhan, MicroStrategy sudah memiliki 105.085 Bicoin. Kini harga aset Bitcoin perusahaan nilainya setara dengan USD 3,3 miliar. Pembelian terkini di kisaran harga USD 37 ribu mengalami penurunan jauh dari puncak.

Selain itu terdapat indikasi kian turun mengenai regulasi di kawasan China serta merazia aktivtias penambangan Bitcoin. Karena itulah Saylor menyarankan jika pemegang bitcoin tak perlu panic serta tetap yakin walaupun ada penurunan harga.

Baru saja membeli Bitcoin, MicroStrategy langsung saja merugi. Pasalnya harga aset tersebut kembali jatuh ke nilai USD 33 ribu. Akibatnya mereka menelan kerugian sampai USD 60 juta. Kendati demikian, Saylor menyatakan jika investasi besar perusahaan lewat bitcoin berlaku dalam jangka panjang.

Perusahaan ini pun yakin jika Bitcoin di masa depan akan kembali naik. MicroStrategy merupakan perusahaan perangkat lunak untuk para pembisnis. Seperti halnya perusahaan Tesla milik Elon Musk, mereka kini orang bicarakan karena menyimpan asset Kripto yakni Bitcoin dalam angka besar.

Waspada Tagihan Listrik Naik Karena Penambang Kripto

Aktivitas penambangan sejumlah asset kripto bisa dilakukan oleh siapa pun. Bahkan aktivitas penambangan tersebut populer semenjak virus corona mewabah. Karena banyak orang beraktivitas dari rumah dan menambah pundi-pundi uang lewat penambangan kripto.

Karena inilah tak jarang tagihan listrik kantor mengakibatkan lonjakan tinggi walaupun bekerja dari jarak jauh. Lonjakan tagihan listrik ini patut perusahaan waspadai. Kaspersky mencurigai jika terdapat aktivitas penambang kripto yang para penjahat siber lakukan .

Pasalnya mereka kerap memanfaatkan sejumlah perangkat keras milik orang lain. Di antaranya tablet, komputer, ponsel pintar sampai server. Pelaku tersebut memanfaatkan kekuatan di bidang pemrosesan perangkat.

Tujuannya adalah penambangan mata uang kripto salah satunya ialah Bitcoin. Di kawasan Asia Tenggara, serangan siber terkait cryptomining atau penambangan kripto masuh dalam angka tinggi. Bahkan setidaknya ada 8.926.117 percobaan serangan. Jumlah serangan tersebut sudah Kaspersky blokir pada tahun 2020 lalu.

Angka itu termasuk tertinggi jika mereka bandingkan dengan percobaan phishing yang terdeteksi yakni mencapai 2.890.825. Serta upaya ransomware tahun lalu hanya mencapai 804.513 saja. Kalau seorang pemilik usaha serta para staf bekerja dari jarak jauh, namun tagihan listrik kantor meningkat tak wajar ada baiknya waspadai.

Kemudian lakukanlah pemeriksaan backend pada TI perusahaan. Bisa saja terdapat dugaan jika penambang kripto menggunkan sumber daya energy binsis tersebut dengan biaya perusahaan. Dalam laporan ancaman UMKM terkini pada tahun 2020 belum lama ini, upaya penambangan kripto tergolong menurun.

Kisaran penurunannya sampai 8.926.117 di tahun 2020 dari angka 13.247.796 yang terdeteksi besar-besaran pada 2019 lalu. Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia serta Vietnam menjadi kawasan dengan jumlah upaya penambangan asset Kripto terbanyak. Kaspersky berhasil memantau hingga mencegahnya dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut.