Delta, Varian Terbaru Virus Corona

Delta Varian Terbaru Virus Corona
Delta Varian Terbaru Virus Corona

Delta Varian menjadi variasi terbaru virus corona yang saat ini tengah menghantui dunia termasuk di Indonesia. Pasalnya, virus yang berasal dari India ini sudah sampai di kawasan Kudus Jawa Tengah. Bahkan beredar kabar jika varian terbaru dari virus Corona ini memiliki tingkat penularan yang cenderung lebih cepat.

Virus corona sejak tahun 2019 sudah mewabah di berbagai negara dunia sampai sekarang ini. Angka orang yang terinfeksi maupun kematian terus bertambah seiring berjalannya waktu. Padahal banyak orang mengharapkan corona segera hilang dari dunia ini.

Pasalnya terdapat banyak pihak merasa rugi bahkan bidang perekonomian pun terganggu. Tetapi kini malah muncul Delta Varian terbaru dari Corona. Seperti apa varian terbaru dari Covid-19?

Mengenal Delta Varian

Sebelumnya, masyarakat di seluruh dunia mengenal Delta varian dengan nama Corona variasi B.1617.2 atau bernama varian India. Akan tetapi sejak akhir bulan Mei 2021 kemarin, organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dunia yakni WHO mencoret penggunaan nama tersebut.

Di penghujung bulan Mei, secara resmi WHO memberikan nama menggunakan huruf Alfabet Yunani pada keempat varian Corona. Adapun penamaan ini berlaku untuk penyebab Covid-19 yang menarik perhatian orang seluruh dunia.

Pakar di bidang Bakteriologi yang terlibat pada pembahasan WHO yakni Mark Pallen mengatakan jika semula mereka akan menggunakan nama lainnya.

Yaitu penggunaan sejumlah nama para dewa Yunani. Tetapi setelah melalui beberapa tahap pertimbangan, pada akhirnya WHO menyetujui penamaan sejumlah dewa Yunani.

Seperti Alpha, Kappa, Beta sampai Delta. Pasalnya penggunaan nama ilmiah tergolong sulit orang dalam pengucapan, pengingatan serta rentan kala pembuatan laporan. Varian Delta sendiri WHO identifikasi di tanggal 1 Juni tahun 2021 lalu pada 62 negara.

WHO pun meminta warga dunia untuk waspada serta tidak mengabaikan protokol kesehatan. Karena varian virus Delta merupakan variant of concern atau tergolong berbahaya dengan tingkatan penularan jauh lebih cepat.

Selain itu, varian virus Corona seperti Delta bisa dengan cepat menjadi fokus utama peredarannya di satu wilayah saja. Kondisi tersebut pun menunjukkan jika virus corona Delta varian dari India ini mempunyai keunggulan dalam segi pertahanan hidup.

Sederet Fakta Virus Delta

Virus corona Delta Varian asal India ini secara pasti sudah masuk ke Indonesia. Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan mengatakan jika varian terbaru ini sudah mereka temukan di kawasan Kudus, Bangkalan serta DKI Jakarta.

Selain di Indonesia, virus Delta ini juga sudah berada di kawasan Inggris. Bahkan menjadi salah satu penyebab angka kenaikan kasus corona di negara ini. Beredar kabar jika virus Delta lebih cepat menular daripada varian yang berasa dari Inggris yaitu B117 atau kini bernama Alpha.

Ciri-ciri dari varian terbaru corona adalah 60% lebih cepat tingkat penularannya. Menurut penelitian, Delta jauh lebih cepat menular daripada Alpha.

Laporan di hari Kamis tanggal 10 Juni lalu menyebut jika sebanyak 7.393 kasus harian terbaru di Inggris terjadi mulai dari bulan Februari lalu.

Sementara untuk varian Delta sendiri telah teridentifikasi mencapai 42.323 kasus di kawasan Inggris. Angka ini tergolong mengalami kenaikan signifikan dari tanggal 2 Juni sebelumnya yaitu berkisar 29.892 kasus.

Selain di Inggris, virus Delta menurut laporan sudah tersebar di kawasan Singapura. Sampai bulan Mei lalu, dari angka 449 kasus di negara tersebut sekitar 428 berakibat dari variasi Delta.

Melansir salah satu situs kenamaan, varian ini juga mereka yakin menjadi pemicu klaster Rumah Sakit bernama Tan Tock Seng.

Sebelumnya rumah sakit tersebut sempat tutup sementara di tanggal 6 Juni karena tak adanya transmisis terbaru dalam kurun waktu 28 hari. Berdasarkan laporan dari kawasan Inggris menyebut jika Delta Varian mampu menurunkan tingkat efektivitas daripada variasi Alpha.

Gejala Terpapar Virus Variasi Delta

Bukan hanya Delta Varian, gejala dari terpaparnya virus ini juga sudah tersebar sampai Indonesia. Bupati Kudus sendiri mengungkap jika sebanyak 28 warganya sudah terpapar virus yang berasal dari India tersebut pada hari Minggu lalu.

Data tersebut ia dapat berdasarkan hasil sejumlah penelitian yag tim peneliti UGM lakukan. Adapun sebuah penelitian yang berlangsung di Inggris menguip jika satu dosis vaksin jenis Pfizer mampu memberikan perlindungan sekitar 33 persen terhadap variasi Delta.

Mengutip salah satu sumber, sejumlah ilmuwan berpendapat jika virus Delta tampaknya mengakibatkan bentuk gejala parah. Sejumlah gejala yang muncul antara lain mual, sakit perut, muntah, nyeri sendi dan hilangnya nafsu makan.

Tetapi gejala lainnnya yang terlihat dan muncul di kawasan India, para pasien mengalami gangguan pencernaan hingga gangrene. Seorang ahli jantung di kawasan Mumbai India mengungkap jika beberapa pasien mengalami kondisi pembekuan darah kecil parah. Sehingga mereka mengalami gangrene.

Ahli tersebut juga mengatakan jika ia sudah merawat sampai 8 pasien menderita pembekuan darah dalam 2 bulan terakhir. Bahkan dua di antara pasien tersebut memerlukan tindakan amputasi pada jari maupun kaki mereka.

Sementara itu, ahli lainnya juga mengungkap gejala para penderita variasi virus Delta. Ia pun berkata jika gejala yang pasien pada umumnya sama yaitu gangguan pendengaran, mual sampai sakit perut akut. Bahkan penderita Delta Varian sampai memerlukan perawatan rumah sakit di antaranya berbagai komplikasi hingga oksigen tambahan.

Bermutasi Menjadi Delta Plus

Baru-baru ini, Delta Varian yang pertama kali hadir di India bermutasi menjadi variasi Delta Plus. Bahkan variasi Delta Plus ilmuwan anggap lebih berbahaya karena memiliki kekebalan terhadap salah satu bentuk pengobatan.

Adapun variasi Delta sudah menjadi penyumbang paling besar pada angka positif baru Covid-19 di kawasan India. Bahkan varian terbaru ini sudah menjadi masalah sangat pelik di sejumlah negara salah satunya Indonesia terlebih kawasan Kudus.

Berdasarkan laporan media kenamaan, Variasi Delta Plus mempunyai nama lainnya yaitu AY.1. Pada data awal menunjuk jika varian ini menunjukkan sejumlah tanda resistensi. Kekebalan tersebut kepada terapi antibodi jenis monoclonal maupun perawatan pada penderita Covid yang belum lama resmi di India.

Salah satu ilmuwan yang sudah mengkhususkan diri pada sekuensing genom yakni Bani Jolly menjelaskannya melalui media sosial Twitter. Keterangan tersebut yaitu sejumlah kecil dari sekuens Delta atau bernama B.1.617.2. Sekuens yang mempunyai lonjakan dari K417N ini bisa mereka temukan dalam GISAID.

Bahkan sekuens ini sudah mereka identifikasi dalam genom di sejumlah negara. PHE atau Public Health England pada laporan terbarunya mengenai Delta Plus teridentifikasi dalma 6 genom asal India di 7 Juni. Badan kesehatan sudah melakukan konfirmasi adanya total sampai 63 genom variasi dengan K417N yang bermutasi.

Sementara itu, sejumlah ilmuwan berkata jika tak ada alasan untuk khawatir sebab prevalensi variasi baru tersebut masih tergolong rendah di kawasan India. Laporan itu serta menyebut jika delta varian plus berada di 36 kasus kawasan Inggris dengan kemungkinan 2 terinfeksi. Sebagian besar kasus tersebut berkaitan pada perjalanan ke negara lainnya.