Jumat, Agustus 12, 2022
BerandaBerita TerbaruModerna Vaksin Untuk Virus Corona, Seperti Apa?

Moderna Vaksin Untuk Virus Corona, Seperti Apa?

Moderna vaksin hingga saat ini belum termasuk dalam program vaksinasi di Indonesia. Akan tetapi vaksin ini sudah banyak digunakan pada sejumlah negara lainnya.

Vaksin Moderna sendiri masih menjadi rencana akan pemerintah gunakan untuk vaksinasi gotong royong. Namun belum terdapat kepastian kapan vaksin ini tiba. Pasalnya proses negosiasi masih berjalan serta belum terdapat kontrak sebagai pengikat.

Honesti Basyir selaku Direktur Utama PT Bio Farma menjelaskan terdapat sejumlah hal yang jadi tantangan pengadaan vaksin ini. Contohnya ialah Moderna Vaksin dan Pfizer memberikan syarat agar bebas dari tanggung jawab jika vaksinnya menjadi pemicu KIPI.

Mengenal Moderna Vaksin

Perusahaan bioteknologi asal AS sudah memproduksi Moderna Vaksin dan sudah mereka uji pada 30 ribu orang. Dari pengujian tersebut, terdapat hasil yang tergolong aman. Saat itu, data sementara menunjukan jika Moderna mempunyai efektivitas hingga 94,5 persen guna pencegahan virus Covid-19.

Perusahaan Moderna mengatakan hendak melanjutkan pengujian vaksinnya dalam bentuk skala besar. Bahkan skalanya mencapai 151 kasus. Dalam jumlah ini, terdapat 90 relawan yang sudah mengambil vaksinnya.

CEO Moderna yakni Stephane Bancal menyatakan jika perkembangan uji coba vaksin tersebut menjadi momen penting. Bancal mengatakan jika analisis positif dari studi fase III vaksin memberikan mereka validasi klinis pertama. Yakni jika vaksin dapat mencegah penularan penyakit virus Covid-19 termasuk untuk kondisi parah.

Pencapaian hasil positif ini kemungkinan berkat dorongan dari kerja keras serta pengorbanan dari banyak orang. Downing Street juga menambahkan jika hasil analisis moderna tampaknya bagus serta menjadi langkah signifikan untuk menemukan vaksin efektif.

Untuk bahan pembuat vaksin moderna sendiri tampaknya sedikit memiliki perbedaan, karena termasuk dalam RNA. Hal ini mengartikan jika terdapat sebagian kecil yang berasal dari kode genetic virus corona. Kemudian dokter akan menyuntikan dalam aliran darah manusia.

Sampai saat ini, bahan utama untuk Moderna vaksin yang begitu melimpah ialah air. Tak hanya itu, vaksin juga kerap mengandung ajuvan yang membantu tbuh membuat respons imun lebih kuat.

As Beli Lagi 200 Juta Dosis Moderna

Pada tanggal 16 Juni lalu, pemerintah Amerika Serikat membeli lagi sebanyak 200 juta dosis Moderna vaksin. Hal  ini termasuk pilihan pembelian vaksin eksperimental yang kemungkinan dalam tahap pengembangan.

Dosis tambahan dalam Moderna ini menambah total pembelian hingga 500 juta dosis. Pembelian dosisi kali ini mereka gunakan untuk vaksinasi primer. Misalnya untuk anak-anak maupun sebagai dosis penguat potensial menurut perusahaan.

Adapun perusahaan Moderna tengah melakukan uji klinis guna pengujian suntikan penguat ketiga dari vaksin. Mereka juga tengah menguji vaksin jenis ekperimental guna terlindung dari varian penyakit Covid-19.

Pemerintah AS bulan Agustus lalu sudah meneken kontrak untuk pembelian sebanyak 100 juta dosis Moderna. Untuk pembelian tersebut seharga 1,53 miliar dolar AS atau nilainya setara dengan Rp. 21.98 triliun. Selain itu tedapat opsi pembelian sebanyak 400 juta dosis tambahan.

Perusahaan juga mengajukan persetujuan penuh di kawasan AS guna vaksin Covid-19 yang kini tengah mereka gunakan. Selain itu mereka juga meminta pihak regulator agar setuju terkait penggunaan darurat untuk usia remaja mulai dari 12 sampai 17 tahun.

Presiden AS yakni Joe Biden berniat memberikan vaksin kisaran 70 persen untuk orang dewasa di Amerika. Vaksinasi itu setidaknya satu dosis vaksin Covid-19 di tanggal merah bertepatan kemerdekaan 4 Juli lalu. Meskipun laju vaksinasi secara signifikan cukup melambat sejak bulan April lalu.

Pembelian Moderna vaksin sampai 217 juta dosis  ke pemerintah AS menyatakan jika hal ini bermaksud untuk memastikan pasokan berjalan. Setidaknya jumlah itu akan aman hingga kuartal pertama tahun 2022 mendatang.

Lansia 90 Tahun Di Jepang Meninggal Pasca Vaksinasi Moderna

Belum lama ini, kementerian Kesehatan Tenaga kerja serta Kesejahteraan Jepang setempat mengumumkan hal mengejutkan. Mereka mengumumkan terdapat seorang pria berusia 90 tahunan meninggal dua pasca mendapat suntikan Moderna Vaksin.

Penyebab kematian pria tersebut yakni akibat pendarahan subarachnoid. Serta terdapat hubungan sebab akibat dengan vaksinasi tengah mereka evaluasi. Pada tanggal 13 Juni lalu, sebanyak 440 ribu vaksinasi telah pihak berwenang berikan di kawasan Jepang.

Serta sampai sejauh ini tidak terdapat gejala yang memiliki hubungan dengan anafilaksis yang terlapor dalam indeks evaluasi internasional. Hal ini berdasarkan laporan oleh Kementerian setempat ewat pertemuan kelompok ahli yang berlangsung di Rabu 23 Juni kemarin.

Orang yang meninggal tersebut ialah pria dengan usia 94 tahun. Pria ini sudah mendapat vaksinasi Moderna tepat tanggal 8 Juni tahun 2021 lalu. Pemerintah melaporkan jika ia mengalami pendarahan jenis subarachoid di hari berikutnya yakni 9 Juni 2021.

Kejadian ini merupakan pertama kalinya kematian yang mereka konfirmasi untuk vaksinasi menggunakan Moderna. Di sisi lain, vaksin Pfizer sudah mereka berikan sebanyak kurang lebih 23,25 juta kali.

Sebanyak 277 orang meninggal dunia karena gagal jantung maupun stroke hemoragik. Mengenai keterkaitan kausal dengan proses vaksin, berstatus tidak ataupun dalam evaluasi. Kementerian setempat memutuskan untuk melanjutkan tahap vaksinasi.

Pihaknya juga menyatakan jika tidak ada masalah serius yang menjadi pengaruh sistem vaksinasi hingga saat ini. Kejadian ini juga belum mereka pastikan sebagai akibat dari Moderna vaksin ataupun faktor lainnya.

Amerika Serikat Tinjau Kasus Peradangan Jantung Akibat Vaksin Pfizer Dan Moderna

Di sisi lain, Panel Pusat Pencegahan serta Pengendalian Penyakit kawasan Amerika Serikat pada Rabu akan bertemu. Pertemuan ini guna peninjauan terkait kemungkinan antara kasus peradangan jantung dengan Pfizer sera Moderna Vaksin.

CDC sendiri tengah mendalami kasus terkait peradangan jantung. Utamanya pada pemuda dalam kurun waktu berbulan-bulan lamanya. Kementerian Kesehatan Israel di awal Juni mengatakan jika menemukan kaitan antara kasus serupa dengan vaksin Pfizer.

Pertemuan komite ini akan mulai pada pukul 11 siang waktu setempat. Dalam pertemuan tersebut CDC akan memeberikan rincian 300 kasus kebih yang sudah terkonfirmasi miokarditis juga pericarditis. Kasus tersebut terdapat di antara 20 juta lebih remaja maupun dewasa muda yang sudah mendapat vaksin di AS.

Di awal bulan Juni ini, CDC mengaku masih melakukan evaluasi terkait resiko dari kondisi tersebut. Mereka juga tidak mengkonfirmasi terdapat hubungan kasual di antara keduanya. Tetapi CDC berkata jumlah pemuda lebih tinggi dari perkiraan sudah mengalami kondisi peradangan jantung.

Kondisi tersebut terjadi pasca pemberian dosis kedua vaksin jenis mRNA. Serta lebih dari setengah kasus yang terlapor berada di antara usia 12 sampai 24 tahun. ACIP serta akan membahas mengenai manfaat vaksin VS resiko potensial yang terjadi pada remaja maupun dewasa muda dari keadaan jantung ini.

Kendati demikian, pejabat kesehatan Israel sudah menetapkan jika ada kemungkinan antara vaksin dengan peradangan jantung. Kekhawatiran mengenai varian Delta mendorong negara itu untuk mendesak warga berusia 12 sampai 15 tahun mendapat vaksin.

Pihak Moderna vaksin sendiri mengatakan tidak bisa melakukan identifikasi mengenai hubungan kasual antara kasus dengan vaksinasi buatan mereka.