Produsen Mogok Jualan, Tahu Tempe di Kota Banjar Terancam Langka

Tahu Tempe di Kota Banjar
Pengrajin tahu di sentra pembuatan tahu Dusun Parung, Desa Balokang, Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),– Para produsen atau pengrajin tahu tempe di Kota Banjar, Jawa Barat, akan melakukan aksi mogok jualan. Aksi mogok tersebut akan digelar selama dua hari mulai hari Senin tanggal 7 Juni sampai Selasa 8 Juni 2021. Hal ini sebagai bentuk kekecewaan atas naiknya harga kedelai impor yang mencapai Rp 11 ribu per kilo gram.

Akibat rencana aksi mogok jualan para pengrajin tersebut stok Ketersediaan tahu tempe di Kota Banjar pun bakal mengalami kelangkaan.

Salah seorang pengrajin tahu di sentra pembuatan tahu Dusun Parung, Desa Balokang, Aceng Kurina (25), mengatakan, aksi mogok jualan tersebut berdasarkan kesepakatan bersama. Sebelumnya, para pengrajin tahu tempe sempat bertemu pada hari Kamis lalu di Dusun Parung.

Dari hasil kesepakatan tersebut para pengrajin tahu tempe sepakat untuk melakukan aksi mogok jualan dan bagi yang berjualan akan dikenakan sanksi sebesar Rp 1 juta.

“Aksi ini bentuk protes kami agar harga kedelai bisa secepatnya kembali normal. Dari kesepakatan itu bagi yang nekat berjualan juga akan dikenakan sanksi” kata Aceng kepada HR Online, Minggu (6/6/2021).

Selain aksi mogok jualan, lanjut Aceng, para pengrajin dan penjual tahu juga bersepakat nantinya setelah aksi akan menaikan harga jual tahu di pasaran dengan harga eceran terendah (HET) sebesar Rp 2 ribu per bungkus kecil atau naik Rp 500 dari harga sebelumnya.

Sedangkan untuk harga terendah tahu dalam bungkus besar yaitu sebesar Rp 4 ribu per bungkus atau naik sebesar Rp 500 per bungkusnya. Sementara sebelumnya harga tahu Rp 3500 per bungkus.

“Setelah aksi kami para pengrajin dan pedagang juga akan menaikan harga tahu di pasaran. Ini dilakukan agar tidak terus menerus merugi,” ujar Aceng. 

Lebih lanjut, Aceng menjelaskan, aksi tersebut demi keberlangsungan kehidupan para pengrajin tahu. Tujuannya agar tetap bisa berproduksi dan memberikan pesan moral kepada para pengrajin tahu agar memahami kondisi itu.

Selain itu juga, sebagai pemberitahuan kepada pihak pemerintah Kota Banjar agar memperhatikan dan memberikan kebijakan atau intervensi atas naiknya harga bahan baku pembuatan tahu tempe tersebut.

“Kami ingin agar harga kedelai ini bisa terkendali dan menjadi perhatian. Soal nanti terjadi kelangkaan tahu tempe di pasaran karena adanya aksi mogok itu sudah resiko” kata Aceng.

Pengrajin Tahu Tempe di Kota Banjar Bukan Mogok Jualan

Dari informasi yang diterima, aksi mogok jualan tersebut bukan hanya dilakukan pengrajin tahu. Tetapi juga para pengrajin tempe yang ada di Kota Banjar.

Sementara itu, Kepala Dinas KUKMP Kota Banjar, Edi Herdianto membenarkan atas adanya rencana aksi dari para pengrajin tahu tempe tersebut. 

Namun, menurutnya hal itu bukan aksi mogok berjualan. Namun para pengrajin ingin beristirahat sekaligus sosialiasi kepada warga dan konsumen nanti akan ada kenaikan harga tahu dan tempe di pasaran.

“Mereka itu hanya ingin menyampaikan bahwa setelah aksi nantinya akan ada kenaikan harga tahu tempe dan kami memahami itu karena sebelumnya juga sudah kami adakan rapat bersama,” kata Edi Herdianto.

Lanjut Edi mengatakan, terkait kenaikan harga kedelai tersebut pihaknya tidak bisa memberikan intervensi lebih jauh. Hal ini karena naiknya harga kedelai itu imbas kebijakan dari pemerintah pusat bukan merupakan kebijakan daerah.

Namun demikian, lanjutnya, Dinas KUKMP memastikan untuk ketersediaan bahan baku kedelai hingga saat ini masih aman. Selain itu juga masih bisa mencukupi kebutuhan pasar di Banjar.

Untuk itu, sambung Edi, pihaknya juga sudah melakukan rapat koordinasi antara para pengrajin dan pihak distributor. Rapat tersebut untuk sama-sama mencari solusi agar para pengrajin tahu tempe bisa tetap melakukan aktivitas produksi.

“Hari Jum’at lalu sudah kami koordinasikan. Akhirnya ada kesepakatan sebagai solusinya nanti akan ada kenaikan harga tahu dan tempe di tingkat pasar,” jelasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online)

Editor: Ndu