Tradisi Ngaweulit di Pangandaran, Mata Pencaharian yang Hampir Punah

Tradisi Ngaweulit di Pangandaran
Tradisi Ngaweulit di Pangandaran. Pengrajin hateup sedang mengambil daun dahon. Foto: Ceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Tradisi ngaweulit di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, jadi penunjang ekonomi bagi masyarakat sekaligus mata pencaharian bagi para pengrajin. Ngaweulit sendiri merupakan tradisi pembuatan atap atau masyarakat biasa menyebutnya hateup. Masyarakat Pangandaran membuat atap ini dari daun dahon.

Kebiasaan ini awalnya untuk mengisi waktu, namun kemudian menjadi aktivitas produksi yang bisa menambah penghasilan warga.

“Harga satu hateup per lembar yang sudah siap pakai sekitar Rp 1.500 dari pengrajin,” ujar Ratinah, salah satu pengrajin hateup di Pangandaran.

Atap atau hateup dari daun dahon ini merupakan bagian penting dalam bangunan rumah maupun saung.

Hateup ini umumnya banyak dimanfaatkan oleh warga yang tinggal di pesisir pantai maupun muara sungai. Tradisi ngaweulit sendiri sudah akrab dalam keseharian warga Pangandaran yang tinggal di pesisir pantai.

“Pesanan hateup biasanya datang dari bakul atau pengepul, tapi ada juga perorangan yang datang langsung untuk memesan,” jelas Ratinah.

Bakul hateup biasanya menjual Rp 2 ribu kepada pembeli. Pembeli biasanya memanfaatkan hateup tersebut untuk atap bangunan rumah makan tradisional.

“Saya sudah membuat hateup ini sekitar 40 tahun. Sudah jadi tradisi kalau anak zaman dulu biasa membantu orang tua, biar bisa mandiri,” jelas Ratinah.

Tradisi Ngaweulit di Pangandaran Hampir Punah

Namun saat ini, lanjut Ratinah, sudah jarang yang mampu membuat hateup. Hal ini lantaran atap bangunan rumah sudah memakai genting..

“Sekarang saja yang jadi pengrajin hateup di Desa saya cuma ada dua orang. Itupun usianya di atas 50 tahunan,” ungkapnya.

Karena sudah jarang pengrajin hateup, tradisi ngaweulit di Pangandaran ini bakal jadi kenangan. Padahal pengerjaannya tidak terlalu sulit. Hanya perlu sabar, tekun, dan telaten agar hasilnya maksimal.

Sementara untuk bahan baku berupa daun dahon juga tidak sulit untuk didapatkan. Daun dahon ini bisa ditemukan di Kecamatan Kalipucang, Pangandaran, Parigi, hingga Kecamatan Cijulang.

Meskipun demikian, keberadaan pohon dahon juga terancam punah lantaran sudah jarang yang menanamnya di jalur sungai.

Pohon dahon ini sangat penting, tidak hanya sebagai penyelamat alam karena mencegah abrasi sungai, tetapi juga punya nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat yang tahu cara memanfaatkannya. (Ceng2/R7/HR-Online)

Editor: Ndu