Ulama di Kabupaten Tasikmalaya Dianiaya, Santrinya Turun ke Jalan

Ulama
Puluhan massa yang mengatasnamakan Aliansi Umat Peduli Ulama menggelar aksi bela ulama di Areal Batu Andesit, Jalan KH. Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Jumat (04/06/2021). Foto: Apip Wilianto/HR.

Berita Tasikmalaya, (harapanrakyat.com),- Ulama di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dianiaya, massa yang mengatasnamakan Aliansi Umat Peduli Ulama menggelar aksi bela ulama di Areal Batu Andesit, Jalan KH. Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Jumat (04/06/2021).

Mereka menggelar aksi guna untuk mendorong proses hukum agar pelaku pengeroyokan terhadap ulama NU di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, secepatnya diproses hukum.

Korlap aksi, Pipin Hidayat mengatakan, massa yang menggelar aksi ini tidak mengatasnamakan satu organisasi, tapi merupakan aksi gabungan bersama Aliansi Umat Peduli Ulama. Karena, pada dua hari kebelakang ada satu persoalan yang menimpa ulama.

“Menurut kami itu adalah ulama atau ajengan yang harus kita jaga marwahnya. Pesan yang ingin kami sampaikan bahwa, ketika ada terjadi pelanggaran terhadap ulama atau ajengan, maka harus kita dorong persoalan hukumnya. Tindakan penganiayaan, pengeroyokan terhadap ajengan jadi tugas kami sebagai santri-santrinya ini yang harus mendorong,” ujar Pipin.

Baca Juga : Klub Sepak Bola dari Pelosok Tasikmalaya Siap Menembus Liga Satu

Pihaknya berharap, dalam aksinya tersebut, pesan yang disampaikan kepada masyarakat Tasikmalaya bahwa, tindakan penganiayaan terhadap ulama tidak boleh terjadi lagi. Khususnya ulama di Kabupaten Tasikmalaya.

Oleh karena itu, pihaknya tetap mendorong proses hukum terhadap pelaku, dan aparat berwajib segera menangkap oknum pelaku yang telah melakukan tindakan melanggar hukum tersebut.

“Kalau terkait proses di Polres Tasikmalaya Kota belum masuk ke kami informasinya. Tapi yang jelas ada proses hukum yang sedang polisi lakukan. Kami menunggu proses hukum supaya masalah ini bisa cepat selesai,” katanya.

Apabila proses hukumnya tidak selesai, lanjut Pipin, maka pihaknya akan melakukan gerakan dengan membawa massa dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

“Jadi persoalannya bukan saja yang terjadi di Tasikmalaya. Tapi persoalannya itu adalah ulama atau ajengan. Seharusnya itu kita jaga marwah seorang ajengannya. Apalagi Tasikmalaya ini kan terkenal dengan julukan Kota Santri,” pungkas Pipin. (Apip/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah