Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita Terbaru3 Operator 5G, Tampilkan Teknologi Berbeda

3 Operator 5G, Tampilkan Teknologi Berbeda

3 Operator 5G, Tampilkan Teknologi Berbeda. Juli ini, XL Axiata rencana menemukan SKLO (Surat Keterangan Laik Operasional) buat layanan 5G. Nantinya akan menyusul 2 operator lain, Telkomsel serta Indosat Ooredoo. 3 operator papan atas akan berebut pasar “menjual” 5G, tetapi teknologi yang mereka pakai berbeda-beda.

Telkomsel memakai spektrum n-40 (2,3 GHz) selebar 30 MHz yang setelah itu meningkat jadi 50 MHz khusus buat 5G, tanpa embel-embel teknologi yang lain. Pencapaiannya juga prima, kapasitas download memegang angka 750 Mbps. Walaupun dengan keadaan rata-rata cuma antara 100 Mbps serta 250 Mbps.

Baik Indosat Ooredoo ataupun XL Axiata tidak mempunyai spektrum 2,3 Ghz seperti Telkomsel. Mereka cuma memiliki 850 MHz, 1800 MHz (1, 8 GHz) serta 2,1 GHz, Telkomsel pula memiliki. Daftarkan email Kemudian Indosat juga bekerja sama dengan Cisco yang menawarkan teknologi yang belum sempat tersedia di Asia Tenggara. Segment routing IPv6 (SRv6) dengan network slicing (irisan jaringan).

Layanan 5G

Indosat menggunakan pita selebar 20 MHz di spektrum 1800 MHz (n3) yang memang mengundang resiko. Di spektrum ini Indosat cuma memahami pita selebar 22,5 MHz yang sejatinya telah ada 60 juta pelanggan 4G mereka. Tetapi nyatanya teknologi SRv6 ini unggul, sukses menggapai kapasitas download hingga 540 Mbps dengan latensi (perjalanan data dari awal hingga tujuan dengan ukuran milidetik) yang mencapai 10 md.

Angka yang lumayan besar, terlebih bila fokusnya penggunaan buat layanan industri, UMKM serta IoT (internet of things). Modulasi amplitudo XL Axiata tampaknya akan memakai teknologi lain lagi, DSS (dynamic spectrum sharing) di middle band ataupun midwave. Teknologi ini beda dengan CA (carrier aggregation) seperti yang ada di layanan 4G, yang mencampurkan 2 frekuensi yang sama buat menemukan kapasitas lebih besar.

Bagi Direktur Network XL Axiata, Gede Dharmayusa, 4G- 5G DSS merupakan pemanfaatan spektrum yang sama buat 2 teknologi yang berbeda, 4G serta 5G. Tujuannya, memesatkan implementasi serta penetrasi 5G dengan menggunakan spektrum yang sudah ada saat ini.

Yang masih ada di 4G. Sebab sumber spektrum yang dipergunakan di- share antara 4G serta 5G. Pasti saja DSS belum sanggup memperkenalkan pengalaman 5G yang sesungguhnya. DSS lebih di lihat sebagai enabler buat menghadirkan teknologi 3 operator 5G kepada pengguna.

Modulasi Amplitudo

Kecepatan yang dapat kamu peroleh sangat bergantung dari keadaan trafik jaringan. Namun secara teoritis, dengan 20 Mhz serta modulasi 256 QAM, quadrature amplitude modulation–skema yang bawa informasi yang memodulasi.

Ini mengganti amplitudo dari 2 gelombang pembawa maksimum keluarannya (throughput) bisa mencapai sampai 260 Mbps. Buat layanan 5G, XL Axiata akan memakai spektrum 1800 MHz buat DSS serta 2100 MHz buat jangkar (anchor) 4G LTE.

XL Axiata telah meyakinkan keahlian 5G dengan teknologi ini pada uji coba Desember lalu. Operator, dengan demikian, akan optimal memberikan layanan 5G bila pemerintah telah merilis spektrum yang sangat maksimal dalam implementasi 5G. Ini sanggup memenuhi kebutuhan akan cakupan serta kapasitas.

Spektrum midband sepertu 3,5 GHz yaitu salah satu pita spektrum yang maksimal untuk 5G. Dengan jangkauan yang nyaris sama dengan jangkauan spektrum LTE saat ini (2100 MHz serta 1800MHz) serta pita yang cukup lebar. Spektrum ini bisa memenuhi kebutuhan coverage serta kapasitas sekaligus.

Biaya Sosial Besar

Operator pula berharap pemerintah dapat merilis spektrum 2600 MHz yang sebesar 190 MHz. Sebesar 150 MHz antara lain masih ada satu kelompok penyiaran tv analog, yang izinnya baru habis pada 2025. Tahun ini mungkin pemerintah akan melelang ataupun memakai cara beauty contest buat beberapa spektrum, 700 MHz sebesar 90 MHz, 26 GHz serta 35 GHz sebesar masing-masing 1000 MHz.

Tetapi investasi yang besar buat milimeterband di spektrum di atas 6 GHz, akan membuat belum pasti operator papan tengah ingin turut lelang. Investasi 3 operator buat layanan 5G saat ini lumayan besar.

Bila masing-masing senantiasa membangun jaringan sendiri, BTS sendiri, serat optik (FO–fiber optic) masing-masing. Melayani 5G tidak bisa jadi terlepas dari kewajiban membangun jaringan FO, yang akan masuk menyusup ke kawasan-kawasan ekonomi yang padat.

Seperti kawasan industri, perkantoran dan sebagainya, tidak hanya jaringan angkutan perkotaan, perkebunan serta peternakan. Bayaran investasi (capex–capital expenditure) sesungguhnya dapat ditekan jika seluruh operator ingin terbuka.

Biaya sosial akan bisa murah jika, misalnya, Telkom yang memiliki jaringan FO lebih dari 100.000 km panjangnya, menyewakan sebagian kapasitas FO-nya. Di satu kawasan yang cuma ada FO kepunyaan XL Axiata, ataupun kepunyaan Smartfren/Moratel, operator lain tidak harus membangun, lumayan menyewa.

Terlebih, di kawasan perkotaan padat bisnis, keharusan membangun BTS yang jarak antara lain tidak sampai 200 m dapat digantikan dengan jaringan FO. Ini sekaligus dapat berperan selaku BTS. Arogansi superior, ditambah kekhawatiran sang penyewa akan lebih unggul.

Ini membuat pemilik infrastruktur berbentuk BTS serta FO enggan menyewakan fasilitasnya. Namun konsolidasi, tidak wajib merger, jadi suatu peluang buat mengefisienkan layanan telekomunikasi yang telah jadi kebutuhan pokok warga.