Benda-Benda yang Termasuk Najis dan Cara Mensucikannya

Benda-Benda yang Termasuk Najis
Ilustrasi Benda-Benda yang Termasuk Najis. Foto: Ist/Net

Benda-benda yang termasuk najis bisa menjadi penghalang dalam keabsahan ibadah. Oleh karena itu, penting untuk seorang muslim mengerti tentang najis dan jenis-jenisnya.

Baca juga: Cara Membersihkan Najis Mughaladzah Berdasarkan Ajaran Agama Islam

Definisi najis bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis penggolongannya. Namun, pada dasarnya sesuatu yang haram mutlak tidak dapat dimakan bisa menjadi salah satu jenis najis tersebut.

Islam sebagai agama yang universal, tentunya telah membedakan antara haram dan halal, mana yang bersih mana yang najis. Segalanya telah termaktub dalam firman-Nya.

Selain itu, Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan panutan dalam perihal kebersihan. Allah akan mempermudah jalan apabila kita melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan.

Pembahasan Lengkap Benda-Benda yang Termasuk Najis

Najis merupakan suatu kotoran yang menjadi penghalang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dalam bahasa Arab, “al-qadzarah” najis ini memiliki makna kotoran.

Menurut Asy-Syafi’iyah, definisi najis adalah suatu hal yang kotor sehingga mencegah sahnya shalat tanpa ada keringanan. Sedangkan definisi menurut Al-Malikiyah, najis merupakan hukum mutlak suatu benda yang mewajibkan seseorang untuk tidak melaksanakan shalat jika terkena atau sedang berada di dalamnya.

Apabila bersanding dengan hadats, najis ini masih memiliki sejumlah perbedaan. Jikalau hadats hanya khusus kotoran yang kita temukan di badan. Sedangkan najis bisa kita temukan di badan, pakaian, atau suatu tempat.

Selain itu, definisi najis dalam konsep Islam sudah sangat konkrit, berbeda dengan hadats yang masih abstrak pengertiannya dan merujuk pada suatu keadaan badan seseorang.

Simpelnya, apabila seseorang kentut, tandanya ia sedang dalam kondisi hadats kecil. Apabila seseorang selesai melakukan hubungan dengan pasangan, maka ia dalam kondisi hadats besar.

Sedangkan contoh najis yakni apabila pakaian seseorang terkena air kencing. Hadats bisa hilang hanya dengan wudhu (hadats kecil) dan mandi besar (hadats besar).

Untuk najis, asalkan najis sudah hilang, maka benda tersebut kembali suci. Bisa dengan mencuci atau beberapa ada yang perlu membasuhnya dengan tanah.

Pembagian Benda-Benda yang Termasuk Najis Dalam Ajaran Islam

Menurut Syara’ (Peraturan Islam) yang termasuk benda najis adalah seperti rincian di bawah ini:

1. Bangkai Binatang Darat

Semua bangkai binatang yang tinggal di darat termasuk najis. Namun ada pengecualian untuk binatang yang tidak berdarah ketika masih hidup seperti belalang serta mayat manusia adalah benda yang suci.

Baca juga: Cara Membersihkan Najis Dalam Islam yang Menjadi Penghalang Ibadah

Adapun untuk bangkai binatang yang tinggal di laut seperti ikan, maka itu juga suci. Tertulis dalam firman Allah Quran Surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya, “Diharamkan atas kamu (makan) bangkai,”

2. Darah

Segala jenis darah adalah tergolong najis kecuali dua hal, yaitu hati dan limpa. Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Majah,

“Telah halal untuk kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah, yakni belalang dan ikan, hati dan limpa.”

Sebagai bentuk pengecualian yaitu darah yang tertinggal dalam daging hewan sembelihan juga dalam darah ikan. Keduanya merupakan darah yang termaafkan, artinya halal.

3. Nanah

Karena merupakan darah yang membusuk, nanah juga merupakan benda najis. Baik itu nanah kental maupun nanah yang hanya cair.

4. Segala Macam Sesuatu yang Keluar dari Alat Kelamin Maupun Anus

Benda yang keluar dari dua pintu, seperti tinja, air kencing, ataupun sesuatu yang tidak biasa semisal mazi baik dari binatang halal maupun haram merupakan benda yang najis. Kecuali mani, tidak termasuk najis.

5. Arak

Benda-benda yang termasuk najis juga berasal dari segala jenis minuman yang memabukkan.

6. Anjing dan Babi

Anjing dan babi merupakan hewan yang tidak suci. Untuk yang lainnya merupakan hewan suci.

7. Bagian Tubuh Binatang yang Dipotong Selagi Binatang Tersebut Hidup

Ibarat bangkai, bagian tubuh dari binatang yang diambil selagi masih hidup. Karena bangkai sendiri hukumnya najis, maka hal ini juga mengikut hukum bangkai.

Baik itu dari kambing, ayam, atau lainnya. Kecuali untuk bulu dari hewan yang halal dimakan, seperti bulu domba, bulu unta, atau bulu kambing tidak termasuk najis.

Pembagian Benda-Benda yang Termasuk Najis Berdasarkan Tingkatannya

Pembahasan sebelumnya merupakan benda-benda termasuk najis secara umum menurut syara’. Sedangkan menurut fiqh, najis terbagi menjadi tiga golongan, yaitu sebagai berikut:

1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)

Najis mukhaffafah merupakan najis yang berasal dari air kencing bayi laki-laki dengan umur kurang dari dua tahun. Sang bayi pun belum pernah mengkonsumsi apapun selain air susu ibunya.

2. Najis Mutawassitah (Najis Sedang)

Merupakan najis yang berasal dari qubul atau dubur, baik itu manusia maupun binatang (kecuali air mani), benda cair yang memabukkan, serta susu dari hewan yang haram dimakan.

Baca juga: Tata Cara Menyembelih Hewan Qurban Menurut Tuntunan Syariat Islam

Kemudian, ada juga bangkai tulang maupun bulu, kecuali bangkai mayat manusia, ikan, dan belalang. Najis mutawasitah ini masih terbagi menjadi dua:

Pertama adalah najis ‘ainiyah, merupakan najis yang tampak atau bisa di lihat. Umumnya memiliki bau, warna, dan rasa. Kedua yakni najis hukmiyah, merupakan najis yang tak nampak wujudnya, semisal arak yang telah mengering atau bekas kencing.

3. Najis Mughallazah (Najis Berat)

Najis mughalladzah yakni najis berat yang berasal dari anjing dan babi.

Bagaimana Mensucikan Benda-Benda yang Termasuk Najis?

Penggolongan najis tentunya memiliki perbedaan dalam hal thaharah (membersihkannya). Di bawah ini ada tata cara menyucikan benda-benda yang termasuk najis sesuai tingkatannya.

1. Menyucikan Najis Mukhaffafah (Ringan)

Sesuatu yang terpapar najis ringan atau mukhaffafah, yakni kencing atau kotoran bayi yang belum genap 2 tahun dan hanya minum ASI, cara mensucikannya bisa dengan percikan air.

Namun, percikan air tersebut merupakan air yang mengalir membasahi semua bagian yang terkena najis. Kapasitas air harus lebih banyak dari najis tersebut. Semisal yang terkena naji adalah pakaian, maka tinggal perciki air mengalir tadi lali keringkan seperti biasanya.

2. Najis Mutawassithah (Sedang)

Karena terbagi menjadi dua bagian, cara mensucikannya pun juga punya aturan masing-masing. Untuk yang pertama adalah membersihkan terlebih dahulu najis ‘ainiyah.

Caranya mensucikannya sebanyak tiga kali lalu siram dengan air yang lebih banyak. Sedangkan untuk najis hukmiyah, membersihkannya bisa dengan air yang mengalir dengan jumlah yang lebih banyak dari najis.

3. Najis Mughallazah (Berat)

Contohnya seperti terkena ludah anjing atau babi. Langkah pertama buang terlebih dahulu wujud najis sampai benar-benar hilang.

Jika sudah, najis mughaladzah ini harus dibasuh dengan basuhan sebanyak 7 kali. Salah satu basuhan wajib memakai campuran tanah atau debu.

Mengenal Benda-Benda yang Termasuk Najis Ma’fu

Sebenarnya najis ada najis-najis yang sifatnya bisa ditoleransi atau termaafkan. Artinya kita tidak wajib membasuh najis tersebut.

Contoh najis ma’fu ini, seperti bangkai binatang yang tidak mengeluarkan darah ataupun nanah barang sedikit saja. Najis seperti ini bisa termaafkan baik ketika mengenai pakaian ataupun mengenai air.

Selain itu yang termasuk jenis najis ma’fu lagi adalah najis kecil tak kasat mata. Permisalannya ketika membuang air kecil dengan tidak melepas semua pakaian.

Bisa jadi ada bagian dari pakaian yang terciprat air kencing dengan buliran yang tak kasat mata. Hal yang demikian tidak menghalangi keabsahan shalat seseorang dan masih bisa menggunakannya untuk ibadah karena termasuk kategori najis ma’fu.

Hikmah Mensucikan Diri dari Benda-Benda yang Termasuk Najis

Sebagaimana telah kita ketahui bahwasanya Islam merupakan agama yang sangat mementingkan kebersihan. Baik itu kebersihan lahirnya maupun kebersihan batin.

Firman Allah SWT dalam Quran Surat Al-Muddatsir ayat 4-5 artinya, “Dan sucikanlah pakaianmu, dan segala bentuk dosa (termasuk menyembah berhala) jauhilah.” Hal ini menyatakan apabila kebersihan lahir dan batin dipadukan karena terdapat keterkaitan.

Dalam hadits lain riwayat At-Thabrani Nabi SAW bersabda, “Jaga kebersihan sebisanya, sebab Allah SWT menciptakan Islam di atas kebersihan, dan tidak ada surga melainkan orang-orang yang bersih.”

Oleh karena itu, banyak hikmah apabila kita bisa menjaga kesucian dari segala benda-benda yang termasuk najis, seperti telah terangkum di bawah ini:

1. Guna Memelihara Kesehatan Raga

Dengan selalu mensucikan diri, baik ketika terkena najis maupun tidak, membersihkan kotoran pada benda atau tempat, artinya kita sedang mencegah datangnya bibit penyakit atau zat lain yang membahayakan tubuh.

2. Memelihara Kesehatan Jiwa

Jiwa sehat sedikit banyak terpengaruh dari kesehatan raga. Umumnya, orang yang sakit memiliki ketenangan jiwa yang tak utuh dan daya ingat rapuh. Selain itu, jika badan bersih, perasaan akan aman dari orang lain.

3. Memelihara Akhlakul Karimah

Suci dari hadats dan najis merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Dengan demikian, beribadah tentunya harus dalam keadaan bersih lahir batin.

Kepercayaan diri seseorang ibadahnya Allah SWT terima akan tumbuh apabila ia senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Hal itulah yang nantinya menjadi bakal akhlakul karimah seseorang.

Keterkaitan Benda-Benda yang Termasuk Najis dengan Thaharah

Mengetahui jenis-jenis najis dan bagaimana kita harus mensucikannya merupakan sebuah keharusan sebagai seorang muslim. Jangan sampai ibadah kita tidak Allah SWT terima hanya karena kelalaian kita terhadap kebersihan.

Baca juga: Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Simak Penjelasannya

Thaharah atau bersuci sudah Allah cantumkan anjurannya dalam Kitab Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 48, “Kami (Allah) telah menurunkan dari langit berupa air untuk bersuci,” tentu ada keterkaitan erat dengan pembahasan najis.

Sedangkan bersuci dengan debu pun juga telah ada dalam sabda Rasulullah Saw. Dalam hadist riwayat Muslim, “Telah Allah jadikan untuk kita di bumi, masjid sebagai tempat ibadah dan debunya untuk bersuci.”

Kegunaan air ini adalah untuk menghilangkan segala jenis kotoran, baik hadats maupun najis. Sedangkan debu, fungsinya adalah untuk tayamum serta campuran dalam menyucikan najis mughaladzah.

Kita tidak bisa menganggap sepele najis yang menempel di tubuh, pakaian, atau tempat yang akan kita gunakan untuk ibadah. Sebab, bisa jadi itu akan menjadi dosa yang akan menyiksa di alam baka.

Suatu hari, Rasulullah bercerita kepada sahabat tentang perjalanan beliau melewati sebuah pemakaman. Rasulullah menjumpai ada dua kuburan yang Allah sedang menyiksa penghuninya.

Salah seorang sahabat bertanya, “Mungkinkah kedua orang itu melakukan dosa besar?” “Tidak,” Rasulullah menjawab, “Pertama tersebab orang itu kerap mengghibah dan kedua karena apabila ia kencing tidak dibersihkan.”

Jika sudah senantiasa membersihkan diri dan lingkungan dari benda-benda yang termasuk najis, maka tidak akan ada lagi penghalang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt.

Biasakan diri untuk bersuci untuk membersihkan lahir dan batin. Segala hal yang bersih itu belum tentu suci, namun suatu hal yang suci sudah pasti bersih segalanya. (R10/HR-Online)