Senin, Oktober 18, 2021
BerandaBerita TerbaruOksigen Tertua di Alam Semesta, Temuan Para Astronom di Galaksi Kuno

Oksigen Tertua di Alam Semesta, Temuan Para Astronom di Galaksi Kuno

Oksigen tertua di alam semesta telah ditemukan para ilmuwan dalam sebuah studi. Kelompok bintang besar tersebut mendapat julukan SXDF-NB1006-2.

Kemudian terletak sekitar 13,1 miliar tahun cahaya dari Bumi. Para ilmuwan menemukan galaksi tersebut yang paling tertua pada tahun 2012.

Penemuan Oksigen Tertua di Alam Semesta

Saat pertama kali mengamati, para astronom menemukan jika galaksi mempunyai hidrogen terionisasi. Dalam sketsa seniman mempunyai warna ungu. 

Sebuah tanda jika terdapat radiasi yang mengalir. Selain itu, bintang-bintang galaksi cukup energik. Mampu melepaskan elektron dari atom di wilayah ruang tersebut.

Saat ini, para tim melakukan pengamatan baru dari panjang gelombang cahaya inframerah tertentu dari galaksi tersebut. Lalu menunjukkan atom oksigen yang mempunyai dua elektron hilang. Terjadi di wilayah yang kecil dengan penggambaran warna hijau.

Mengutip sciencemag.org, para ilmuwan melaporkan jika semua elemen di alam semesta lebih berat dari hidrogen, helium dan litium sudah ditempah oleh fusi nuklir di inti bintang. Lalu menyebar ke luar angkasa oleh ledakan supernova. 

Penemuan tersebut menunjukkan jika tersebut dapat teramati saat ini. Sudah menjadi galaksi dengan oksigen tertua di alam semesta. Setidaknya terdapat satu generasi bintang terbentuk, hidup dan mati.

Kurangnya cahaya inframerah dari galaksi di berbagai panjang gelombang, menunjukkan terdapat sedikit debu. Kemudian menyerap lalu memancarkan kembali radiasi bintang. 

Kemungkinan terdapat banyak galaksi pada usia yang sama dengan halo oksigen. Para tim mencatat dan mendeteksi, lalu menganalisis agar dapat membantu menjelaskan tentang bagaimana bintang dan galaksi terbentuk. Selanjutnya mempelajari tentang revolusinya di alam semesta. 

Baca Juga: Umur Alam Semesta, Ilmuwan Ungkap Sekitar 13,77 Miliar Tahun

Galaksi Primordial Mempunyai Oksigen Terjauh

Tanda-tanda oksigen di salah satu galaksi pertama di alam semesta telah ditemukan oleh para astronom. Galaksi tersebut telah lahir tidak lama setelah Abad Kegelapan Kosmik. Dalam sebuah penelitian baru menemukan kosmik yang ada sebelum alam semesta mempunyai bintang.

Penemuan oksigen tertua di alam semesta dapat membantu memecahkan misteri seberapa besar bintang pertama membantu membersihkan kabut keruh. Para peneliti melakukan analisis yang berpusat di galaksi SXDF-NB1006-2.

Pada penelitian sebelumnya menunjukkan jika sekitar 13,8 miliar tahun lalu, setelah alam semesta lahir pada Big Bang. Semua atom yang ada terpecah menjadi inti bermuatan positif dan elektron dengan muatan negatif.

Pasalnya, alam semesta begitu panas. Sup ion dengan muatan listrik ini menyebarkan cahaya kemudian mencegah untuk bergerak dengan bebas.

Abad Kegelapan Alam Semesta

Sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, alam semesta cukup mendingin. Hal tersebut bertujuan supaya partikel bergabung kembali menjadi atom. Pada akhirnya memungkinkan cahaya pertama di kosmos berasal dari Big Bang yang bersinar. 

Namun setelah era kombinasi, muncul Abad Kegelapan Kosmik. Selama zaman ini terjadi, tidak ada cahaya lain. Karena bintang-bintang belum terbentuk. 

Kejadiannya berlangsung lebih dari setengah miliar tahun. Gumpalan gas runtuh dan membentuk bintang dan galaksi pertama. Perkiraan oksigen terdeteksi di alam semesta ini 10 kali lebih sedikit di SXDF-NB1006-2 daripada matahari.

Sinar ultraviolet intens mengionisasi dan menghancurkan sebagian besar hidrogen bermuatan netral. Lalu membelahnya untuk membentuk proton dan elektron.

Dengan melihat galaksi kuno, para peneliti kemungkinan akan menemukan petunjuk tentang penyebab reionisasi. Kemungkinan besar, galaksi yang teramati merupakan sumber cahaya kuat untuk reionisasi. 

Baca Juga: Black Dwarf Supernova Menyilaukan Tanda Kehancuran Alam Semesta

Berburu Galaksi Purba dengan Oksigen

Para tim melakukan analisis tentang galaksi terjauh dengan oksigen tertua di alam semesta. Penelitian berfokus pada cahaya dari oksigen dan partikel debu.

Kemudian mencari unsur berat di alam semesta awal. Tim melakukan pendekatan untuk mengeksplorasi aktivitas pembentukan bintang pada periode tersebut. 

Terdapat tanda-tanda oksigen yang jelas dari SXDF-NB1006-2. Oksigen tersebut terionisasi dan menunjukkan jika galaksi mempunyai sejumlah bintang raksasa muda. Jumlahnya beberapa lusi lebih berat daripada matahari. 

Bintang muda ini memancarkan sinar ultraviolet yang kuat. Galaksi ini tampaknya tidak memiliki lubang hitam supermasif. Namun mempunyai sejumlah bintang masif. Jadi, kemungkinan bintang masif tersebut telah mengionisasi ulang alam semesta. 

Pengamatan dengan resolusi lebih tinggi akan memungkinkan untuk dapat melihat distribusi dan pergerakan oksigen tertua di alam semesta. Kemudian memberikan informasi untuk memahami dari sifat galaksi tersebut. (R10/HR Online)

Editor: Jujang

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img