Sejarah Idul Adha dalam Islam, Wujud dari Ketaatan Kepada Allah SWT

Sejarah Idul Adha dalam Islam Wujud dari Ketaatan Kepada Allah SWT
Ilustrasi Sejarah Idul Adha. Foto; Ist/Net

Sejarah hari raya Idul Adha memang tidak luput dari kisah teladan umat Islam yang taat kepada Allah SWT. Hal tersebut juga harus menjadi pengetahuan penting untuk kita.

Jangan sampai kita tidak tahu, apa penyebab terjadinya hari raya Qurban. Padahal dibalik sejarah tersebut ada banyak hikmah yang kita petik sebagai pelajaran hidup.

Qurban atau Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar Islam. Pada hari itu, semua umat Islam merasakan nikmatnya makan daging.

Bukan cuma itu saja, akan tetapi juga semua berlomba-lomba untuk menyiapkan hewan qurban terbaik. Maa Syaa Allah, Idul Adha juga menjadi salah satu ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Akan tetapi, setiap merayakan Idul Adha tentunya ada 4 tokoh yang berperan dalam sejarah ini. Siapa? Mereka adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Sarah, dan Siti Hajar.

Sudah tahukah Anda bagaimana sejarah tentang Idul Adha tersebut? Sebagai seorang umat Islam, perlu sekali kita mengetahui hal tersebut.

baca juga: Tata Cara Sholat Idul Adha yang Mudah Sesuai dengan Ajaran Islam

Kupas Tuntas Sejarah Idul Adha Dalam Islam

Perlu Anda ketahui bahwasanya sejarah Idul Adha itu bermula ketika Allah Ta’ala menguji Nabi Ibrahim dan Siti Sarah, istrinya. Allah memberikan mereka cobaan yang berupa anak.

Sudah lama menikah, tapi tak kunjung memiliki momongan. Tujuan Allah memberikan cobaan tersebut adalah untuk menguji seberapa besar sabar Ibrahim dan Sarah.

Namun, karena mereka taat dengan Allah, membuat mereka tidak menyerah untuk terus berikhtiar. Tak cukup itu, siang dan malam Ibrahim dan Sarah tak henti-hentinya berdoa, memohon pertolongan kepada Allah SWT. Selain itu, Ibrahim juga yakin, Allah akan mendengar doa-doanya.

baca juga: Rukun Ibadah Haji dan Penjelasannya Sesuai Syariat Islam

Hadiah Istimewa untuk Ibrahim

Karena hanya percaya dengan kekuasaan Allah saja, maka Allah pun mengerti maksud dari Ibrahim dan istrinya. Hingga tiba waktunya, Ibrahim dan istrinya berhak mendapatkan hadiah dari Allah. Allah SWT mengabulkan doa Ibrahim.

Namun, ketika Allah mengabulkan doa Ibrahim. Ketahuilah di sini akan bermulanya sejarah tentang Idul Adha. Usia Siti Sarah sudah tak lagi muda. Tak seharusnya juga ia mengandung.

Lantas Sarah memberikan saran kepada suaminya untuk menikahi Siti Hajar. Ibrahim akhirnya menyetujui usulan dari Sarah, istrinya. Hingga akhirnya Ibrahim menikah dengan Hajr.

Pernikahan tersebut membuat Hajr mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut mereka beri nama Ismail. Akan tetapi, kisah bahagia mereka tak berhenti di situ saja.

baca juga: Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat Lengkap dengan Contoh dan Manfaatnya

Ditinggal Berjuang Ketika Masih Bayi

Sewaktu masih bayi, Ismail juga harus ditinggalkan oleh ayahnya. Nabi Ibrahim mendapatkan tugas besar dari Allah Ta’ala. Ia juga harus meninggalkan semuanya, termasuk anak dan istrinya. Bukan cuma itu saja, akan tetapi ayah Ismail juga tidak membawa bekal apapun.

Perpisahan keluarga tersebut juga berakhir sangat lama. Mengejutkan lagi, ketika Nabi Ibrahim pulang dari pengembara memenuhi panggilan Allah Ta’ala, semua keluarganya sudah tidak ada di tempat sebelumnya mereka berpisah.

Mengetahui hal tersebut, ada seseorang yang memberikan informasi tentang keberadaan anak istrinya. Ia mengatakan bahwasanya anak serta istrinya berada di suatu tempat menggembala kambing.

Tempat itulah yang disebut padang Arafah. Selanjutnya, dalam sejarah Idul Adha menjelaskan terjadinya pertemuan yang mengharukan antara Ibrahim beserta istri dan anaknya.

Ketika dalam perjalanan menuju rumah, mereka memutuskan untuk bermalam di Masya’ir haram. Alasannya adalah karena kelelahan.

Mimpi dari Allah SWT

Pada malam itu, suami dari Hajar dan Sarah bermimpi. Mimpi yang mengharuskan Ibrahim untuk merenggut dan merampas kebahagiaan keluarganya.

Saat setelah ditinggalkan ayahnya memenuhi tugas llahi, Ismail sudah tumbuh menjadi dewasa. Belum cukup rindunya terbalas karena kehadiran ayahnya, akan tetapi Ibrahim harus mendapatkan mimpi tersebut.

Bukannya bahagia mendapatkan petunjuk dari Allah, akan tetapi Nabi Ibrahim juga merasa Allah memberinya ujian berat untuknya.

Menyembelih Anak Kandungnya Sendiri

Dalam Al-Quran Surat As-Saffat ayat 102 menjelaskan bahwasanya Allah telah berfirman kepada Ibrahim untuk mengorbankan Ismail.

Ismail dengan bijaksana dan suara yang lembut berkata kepada ayahnya. Jika memang itu perintah Allah, maka lakukan saja wahai ayahku. In Syaa Allah, engkau akan menemuiku termasuk dalam orang-orang yang sabar.

Mimpi tersebut juga Ibrahim sampaikan kepada Hajar sebagai ibu dari Ismail. Tentu saja ia amat sangat terkejut. Pasalnya, orang tua mana yang tega menyembelih anaknya sendiri. Akan tetapi, itu hanya berlaku sebentar untuk Hajar. Ia juga percaya jika semua itu adalah perintah dari Allah Ta’ala.

Permohonan Ismail Kepada Ibrahim

Setelah semua ikhlas dan percaya bahwa itu semua merupakan perintah dari Allah, akhirnya tibalah sejarah Idul Adha akan bermula dan menjadi kisah teladan bagi umat Islam.

Sebelum Ibrahim benar-benar menyembelih Ismail, ada satu permohonan yang harus Ibrahim kabulkan. Ia meminta sang ayah untuk mengikatnya kuat-kuat. Supaya ia tidak banyak gerak dan merepotkan ayahnya.

Bukan hanya itu saja, Ismail juga meminta ayahnya untuk menanggalkan pakaian yang dikenakannya. Supaya tidak terkena darah. Selanjutnya Ismail juga meminta kepada ayahnya untuk mempercepat proses penyembelihan.

Ia berharap dengan demikian, rasa sakit yang Ismail rasakan berkurang. Terakhir, Ismail juga meminta ayahnya untuk memberikan pakaiannya kepada ibundanya. Tujuannya adalah menghiburnya ketika sedih. Semua permintaan anaknya, Ibrahim kabulkan.

Setelah mencium dan memeluk Ismail. Dengan parang tajam yang ia genggam, maka dengan bertetesan air mata, parang Ibrahim dekatkan ke leher Ismail. Akan tetapi, tiba-tiba saja pedang menjadi tumpul dan sudah tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

Itulah mukjizat dari Allah. Meskipun menjadi ujian bagi Ibrahim dan Ismail, akan tetapi pertolongan Allah itu tetap ada. Kemudian, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menggantinya dengan seekor domba yang gemuk.

Keberadaan domba tersebut sudah terikat di pohon besar dekat dengan Gunung Tsubair. Akhirnya, Nabi Ibrahim menyembelih domba tersebut di Mina. Itulah penjelasan sejarah lengkap mengenai Idul Adha dalam agama Islam. (Muhafid/R6/HR-Online)