Tesla Raup Laba 16 Triliun di Triwulan Kedua

Tesla

Berita Bisnis, (harapanrakyat.com),- Tesla menjadi perusahaan yang mencatat pertumbuhan positif pada kuartal II tahun ini. Bahkan pertumbuhan tersebut berhasil melampaui proyek analisis.

Laba bersih yang berhasil produsen mobil listrik ini raih sebesar US$ 1.14 miliar pada triwulan kedua. Pencapaian ini mengartikan kenaikan sampai 10 kali lipat dari periode serupa tahun 2020 lalu yakni US$ 104 juta.

Pencapaian ini hampir sebesar tiga kali lipat dari laba bersih kuartal 1 tahun ini sebesar US$ 438 juta. Perusahaan Tesla mampu mengalahkan ekspektasi juga mencatatkan profitabilitas pada kuartal kedelapan. 

Profil Perusahaan Tesla

Perusahaan ini sebelumnya bernama Tesla Motors lalu berganti menjadi Tesla Inc. Yakni sebuah usaha yang bergerak di bidang otomotif juga penyimpanan energy dari Amerika Serikat. 

Pendiri perusahaan ini antara lain Elon Musk, JB Straubel, Marc Tarpenning, Martin Eberhard juga Ian Wright.

Basis perusahaan berada di kawasan Palo Alto California. Spesialisasi yang ada dalam badan usaha tersebut ialah mobil listrik, komponen mesin serta produksi perangkat isi ulang baterai.

Perusahaan tidak memakai baterai fungsi tunggal dengan ukuran besar. 

Mereka menggabungkan sel baterai gabungan yang terdiri atas ribuan baterai lithium ion dengan seri 18650. 

Baterai berbentuk silinder dengan ukuran kecil dan bisa anda temukan pada perangkat laptop ataupun barang elektronik lainnya.

Baterai yang perusahaan gunakan cukup murah untuk mereka produksi serta memiliki ukuran lebih ringan. 

Pengurangan biaya serta bobot baterai perusahaan lakukan dengan mengurangi komponen keamanan yang tersemat.

Menurutnya, komponen berupa keamanan ini bersifat redundant sebab satu paket baterai sudah terdapat fitur itu. 

Kini Panasonic menjadi penyuplai tunggal untuk sel baterai jenis tersebut ke perusahaan ini.

Biaya perakitan baterai pada mobil listrik perusahaan menjadi yang paling murah di dunia.

Kisaran biaya ini kurang lebih 200 USD untuk satu kWh.

Pada produk perusahaan bernama Model S, baterai ada di bagian lantai mobil.

Sementara pada model Roadster, baterai berada pada bagian belakang tempat duduk.

Fitur tersebut memungkinkan Tesla dengan Model S mempunyai ruang lebih untuk manusia ataupun barang. 

Akan tetapi fitur itu mempunyai resiko karena posisi baterai berada dekat dengan aspal sehingga kemungkinan mudah rusak.

Laba Tesla Berlipat Hingga 16 Triliun

Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat yakni Tesla mengumumkan kinerja keuangan cemerlang mereka pada Q2-2-21. Pada periode tersebut , perusahaan berhasil meraih keuntungan sampai berlipat ganda.

Mengutip salah satu sumber terpercaya, perusahaan ciptaan Elon Musk ini melaporkan laba bersih dengan nilai setara Rp. 16,5 triliun pada Q2-2021. Laba bersih tersebut mereka dapatkan dari sejumlah lini usaha perusahaan.

Pendapatan dari penjualan di bidang otomotif berhasil mencapai US$ 10,21 miliar secara keseluruhan atau setara dengan Rp. 148 triliun. Pada Q2 2021, perusahaan mencatatkan pengiriman sampai 201.250 kendaraan listrik.

Selain itu mereka juga mencatatkan produksi sejumlah 206.421 kendaraan. Dari bisnis bidang energy, perusahaan mengumumkan pendapatan sebesar US$ 801 juta yakni Rp. 11,6 triliun. 

Pencapaian tersebut dari bisnis yang memasok fotovoltaik surya juga sistem penyimpanan energy.

Angka itu merupakan peningkatan sampai 60% daripada Q1 2021. Mereka juga melaporkan pendapatan sampai US$ 951 juta senilai dengan Rp. 13,7 triliun. 

Pendapatan tersebut berasal dari layanan purna jual produk kendaraan.

Sekarang diketahui jika perusahaan mengoperasikan sebanyak 598 pusat layanan juga 1.091 kendaraan sebagai pendukung. 

Selama periode ini, perusahaan mengaku mendapatkan cukup banyak tantangan. Adapun tantangan ini terdiri atas reaksi keras yang berasal dari konsumen China, penarikan di AS juga China.

Selain itu ada pula penundaan pengiriman jenis performa tinggi dari mobil andalannya yakni Model S Plaid karena kelangkaan chip. 

Dalam perilisan pendapatan tersebut, Elon Musk menyebut jika pihaknya tengah memperjuangkan modul keselamatan sebagai pengontrol airbag juga sabuk pengaman.

Kemudian Elon Musk menyebuk jika Tesla masih percaya terkait pemasok dan permasalahan kelangkaan bisa terselesaikan.

Produk S Plaid Tesla Siap Cetak Rekor

CEO Tesla yakni Elon Musk rupanya memiliki banyak ambisi setelah peluncuran mobil listrik Model S Plain. 

Salah satu yang sedang ia bidik adalah memecahkan rekor mobil sedan dengan 4 pintu terkencang. 

Rekor tersebut berada di sirkuit legendaris pada kawasan Nurburgring Jerman. Dalam sebuah wawancara, Elon menyebut jika model sedan tersebut memiliki modal sangat besar sebagai mobil 4 pintu paling kencang di Nurburgring.

Lantaran pada tahun lalu, mereka pernah melakukan uji coba prototype Model S Plaid dalam sirkuit dengan julukan Green Hell atau Neraka Hijau. 

Saat itu pengemudi yang bernama Thomas Mutch berhasil memacu kendaraan listrik tersebut berkeliling Sirkuit Nurburgring selama 7 menit 13 detik saja.

Catatan ini cukup impresif mengingat kendaraan masih berbentuk purwarupa bukan sebuah produk jadi. 

Elon mengucap jika mereka dapat mencapai waktu itu tanpa adanya perbaikan yang perusahaan lakukan sekarang.

Sehingga ia yakin jika mereka dapat memecahkan rekor terdahulu. Kini pemegang rekor sedan model 4 pintu terkencang di sirkuit tersebut adalah Jaguar XE SV Project 8 buatan Inggris. Catatan waktunya yakni 7 menit 18,3 detik.

Sebenarnya Model S Plaid dalam uji coba sebelumnya sudah berhasil mengalahkan catatan tersebut. 

Hanya saja pihak Sirkuit Nurburgring tak mencatat sebab upaya kala itu masih berupa uji coba. Hal inilah membuat Elon percaya diri jika Tesla Model S Plain akan mengitari Sirkuit Nurburgring lagi.

Tesla Punya Aset Kripto

Aset Kripto memang menjadi bahan perbincangan saat ini. Terlepas dari kekhawatirannya mengenai dampak lingkungan terkait aktivitas aset Bitcoin, sampai kini Tesla belum menjual kripto kepunyaannya. 

Produsen mobil listrik tersebut melaporkan tak ada penjualan maupun pembelian terkait aset digital terbaru. 

Laporan ini mengacu berdasarkan laporan keuangan kuartal dua tahun 2021 yang rilis 26 Juli lalu. 

Mengutip dari sumber terpercaya, perusahaan sampai saat ini masih memegang Bitcoin dengan nilai US$ 1.3 miliar.

Februari lalu, perusahaan mengumumkan pembelian Bitcoin seharga US$ 1.5 miliar. Berdasarkan laporan keuangan kuartal 1 tahun 2021, mereka melepas aset kripto 10 persen dan meningkatkan pendapatan sampai US$ 272 juta.

Belum lama ini, Elon Musk mengungkap jika perusahaan miliknya yang lain yakni SpaceX juga memegang aset Bitcoin. 

Sementara produsen mobil listrik tersebut melaporkan penurunan sampai US$ 23 juta terkait kepemilikan Bitcoin.

Hal tersebut lantaran mereka menganggap Bitcoin sebagai aset inventaris. Ini mengartikan berdasarkan Prinsip Akuntansi umum, nilai Bitcoin tercatat sebagai harga terendah dalam kuartal tersebut. 

Pada bulan Mei lalu, Elon Musk mengumumkan jika perusahaan mobil listriknya ini tak lagi menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran.

Alasannya yaitu karena ada permasalahan lingkungan terkait penggunaan batubara juga bahan bakar fosil lainnya saat aktivitas penambangan bitcoin. Awal bulan ini Elon mengatakan profil terkait lingkungan Bitcoin sudah membaik.

Selain itu kemungkinan perusahaan Tesla akan menerima kembali aset Bitcoin sebagai salah satu alat pembayaran.