Sabtu, Januari 29, 2022
BerandaBerita TerbaruFenomena Blue Moon, Apakah Bulan Benar-Benar Berwarna Biru?

Fenomena Blue Moon, Apakah Bulan Benar-Benar Berwarna Biru?

Fenomena Blue Moon akan mencapai puncak pada tanggal 21-22 Agustus 2021. Sebenarnya fenomena ini jarang sekali terjadi, karena akan melibatkan munculnya bulan purnama tambahan dalam waktu tertentu. Bulan biru musiman ini merupakan bulan ketiga dari empat bulan purnama dalam satu musim.

Menurut NASA, fenomena ini terjadi setiap 2,5 tahun. Namun untuk istilah bulan biru kali ini, penerapannya pada bulan kedua dalam satu bulan kalender. Antara bulan purnama terdapat sekitar 29,5 hari, jadi dua bulan purnama tidak biasa masuk dalam bulan yang panjangnya 30-31 hari. 

Baca Juga: Fenomena Matahari Memutih, Menyebabkan Temperatur Dingin

Fakta Fenomena Blue Moon, Apakah Benar Terlihat Biru?

Philip Hiscock, seorang folklorist di Memorial University of Newfoundland mengatakan jika ungkapan bulan biru sudah ada sejak 400 tahun silam. Kebanyakan bulan biru tidak dapat dibedakan dari bulan lainnya.

Fenomena Blue Moon ini terlihat abu-abu pucat dan putih. Jadi warnanya tetap sama, meskipun memasukkan bulan purnama kedua ini menjadi bulan kalender.

Asal penamaan Blue Moon sebagai bulan purnama kedua dalam satu bulan. Namun terdapat gagasan lainnya yang menyebutkan jika Blue Moon sebagai bulan ketiga dari empat bulan purnama dalam satu musim. Gagasan tersebut berasal dari Sky dan Teleskop, majalah edisi Maret 1946.

James Hugh Pruiett telah menerbitkan artikel dalam majalah tersebut dengan judul Once in a Blue Moon. Kemudian definisi tersebut telah disederhanakan menjadi fenomena Blue Moon terjadi tujuh kali dalam 19 tahun. 

Melansir laman space.com, ternyata pada tahun 1883 bulan tampak kebiruan. Fenomena tersebut terjadi setelah gunung Krakatau meletus. Debu di udara berfungsi sebagai penyaring, sehingga menyebabkan matahari terbenam dan bulan tampak hijau kebiruan di seluruh dunia.

Hal tersebut melahirkan ungkapan Blue Moon. Kejadian lainnya yang menyebabkan bulan kebiruan adalah badai debu dan kebakaran hutan. 

Bulan biru ini terjadi saat atmosfer bumi mempunyai kandungan debu dan asap dengan ukuran tertentu. Kemudian harus sedikit lebih lebar dari 900 nanometer untuk partikelnya.

Partikel dengan ukuran tersebut lebih efisien dalam menghamburkan cahaya merah, kemudian bulan akan bersinar melewatinya dan tampak kebiruan. 

Baca Juga: Fenomena Perihelion Merkurius Akan Terjadi Akhir Juli 2021

Kapan Terjadinya Bulan Biru

Pada umumnya setiap musim akan berlangsung selama tiga bulan dan mempunyai tiga bulan purnama. Musim tersebut antara lain musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Adanya musim, dapat mengacu periode waktu antara equinox dan titik balik matahari. 

Fenomena Blue Moon musiman akan datang 22 Agustus 2021. Pada awal musim panas utara, bulan purnama Juni jatuh beberapa hari setelah titik balik matahari Juni. Sehingga untuk memasukkan empat bulan purnama ke musim sekarang ini masih cukup waktu.

Pasalnya, akan berakhir pada ekuinoks 22 September 2021. Akan tetapi, fenomena ini tidak terjadi di bulan keempat bulan purnama atau bulan biru, melainkan bulan ketiga. 

Fenomena Blue Moon menjadi pertanda datangnya musim gugur di belahan Bumi utara. Karena lebih dekat ekuinoks daripada titik balik matahari.

Bulan biru akhir musim panas di belahan Bumi utara ini mempunyai karakteristik seperti bulan purnama terdekat di titik balik musim gugur. 

Karakteristik bulan biru ini akan menampilkan berapa malam cahaya bulan senja hingga fajar pada lintang tengah utara. Sedangkan di belahan Bumi selatan menjadi pertanda datangnya musim semi. Hal tersebut menunjukkan selang waktu yang lebih lama dari rata-rata antara bulan terbit. 

Seberapa Sering Bulan Biru Musiman Terjadi?

Setiap 19 tahun akan terjadi fase bulan berulang dekat tanggal kalender yang sama. Mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena 235 bulan lunar mempunyai kesamaan dengan 19 tahun kalender. 

Jadi, bulan purnama kemungkinan akan jatuh pada 24 Juni, 24 Juli, 22 Agustus, serta 20 September di tahun 2040. Hal ini apabila menghitungnya 19 tahun dari sekarang. 

Sementara itu, bulan biru musiman terjadi dalam 76 musim dari 235 bulan purnama. Jika pada setiap musim terdapat tiga bulan purnama, maka totalnya 228.

Namun, dalam siklus 19 tahun ini terjadi 235 bulan purnama. Dengan demikian, akan terjadi tujuh bulan purnama ekstra sebagai Blue Moon musiman setelah fenomena 22 Agustus 2021.

Fenomena Blue Moon tersebut kemungkinan akan terjadi lagi 19 Agustus 2024, 20 Mei 2027, 24 Agustus 2029, 21 Agustus 2032, 22 Mei 2035, 18 Mei 2038, dan 22 Agustus 2040. Di zaman modern, banyak yang mengenal Blue Moon sebagai bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender. (R10/HR Online)

Editor: Jujang

- Advertisment -