Petani di Kota Banjar Menjerit, Harga Gabah Anjlok Hasil Panen Menurun

Harga Gabah Anjlok Hasil Panen Menurun
Petani di Pananjung Barat, Desa Sinartanjung saat merontokkan padi dengan cara manual. Untuk musim tanam tahun ini, mereka menjerit karena harga gabah anjlok dan hasil panennya juga menurun. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Harga gabah yang anjlok dan hasil panen musim tanam tahun ini yang menurun, membuat para petani padi di Lingkungan Pananjung Barat, Desa Sinartanjung, Kota Banjar, Jawa Barat, menjerit.

Salah seorang petani di lingkungan setempat, Asal (60) mengatakan, pada musim panen ini hasilnya kurang memuaskan. Hal tersebut karena produksinya menurun dan kualitasnya kurang bagus.

Menurutnya, biasanya dari lahan seluas 150 bata, dalam satu kali musim panen jika kondisi panen padinya bagus dapat menghasilkan sekitar 1 ton gabah. Akan tetapi, sekarang hanya sekitar 6-7 kuintal gabah.

“Dalam satu tahun, saya panen sampai 2 kali. Biasanya dapat 1 ton, tapi sekarang mah cuma 6 kuintal. Banyak tanaman yang terkena hama wereng, lembing dan keong,” kata Asal kepada wartawan, Sabtu (28/8/2021).

Petani Kota Banjar Mengeluh Harga Gabah Anjlok

Selain hasil panen yang menurun, mereka juga mengeluhkan murahnya harga gabah saat musim panen. Sehingga tidak bisa menutup biaya produksi saat musim tanam.

“Selain produksi yang menurun karena terserang hama, saat ini juga harga gabah anjlok atau sedang murah. Gabah petani hanya dibeli antara Rp 350-400 ribu per kuintal,” keluhnya.

Sedangkan untuk biaya produksi sendiri, ia harus mengeluarkan untuk biaya ongkos buruh saat musim tanam, membeli pupuk untuk perawatan mahal. Sehingga hasil panen tahun ini tidak bisa menutup biaya produksi saat musim tanam.

“Harganya murah. Nggak nutup, malah banyak ruginya. Belum buat tanam. Kemudian buat beli pupuknya aja lagi mahal 3 ribu per kilo,” ujar petani asal Kelurahan Pataruman yang tak memiliki kartu tani.

Tak hanya Asal, petani lainnya, Ateng Jaelani menambahkan, musim panen ini sawah miliknya juga mengalami penurunan. Biasanya Ateng bisa menghasilkan 7-8 kuintal, namun sekarang hanya menghasilkan 3,5 kuintal gabah.

Lebih lanjut Ateng menuturkan, bahwa hasil panen yang sekarang kurang memuaskan, selain faktor hama juga karena tanaman padi varietas mawar sawah. Jadi, di lokasi sawahnya tersebut banyak mengandung resapan air, sehingga tanaman padinya terendam.

“Kalau panen padi yang kemarin hasilnya bagus. Tapi untuk yang jenis mawar ini memang menurun, cuma dapat sekitar 3,5 kuintal,” katanya. (Muhlisin/R5/HR-Online)

Editor : Adi Karyanto