Macam-Macam Pelaksanaan Haji, Lengkap dengan Penjelasannya

Macam-Macam Pelaksanaan Haji,
Ilustrasi Macam-Macam Pelaksanaan Haji. Foto: Ist/Net

Macam-macam pelaksanaan haji terbagi menjadi tiga menurut cara pelaksanaannya. Ada haji ifrad, haji qiran, serta haji tamattu’.

Baca juga: Rukun Ibadah Haji dan Penjelasannya Sesuai Syariat Islam

Haji termasuk salah satu rukun Islam, yakini yang kelima. Sehingga hukum melaksanakannya adalah wajib (bagi yang mampu). Artinya, hanya umat Islam yang telah berkecukupan dari segi fisik, mental, dan material saja yang wajib melaksanakannya.

Karena haji merupakan bagian dari bentuk ibadah, maka Islam telah memberikan panduan pelaksanaannya. Mulai dari doa, tata cara, hingga hikmah yang tersimpan di dalamnya.

Pelaksanaan haji tidak bisa kita lakukan kapan saja, melainkan ada waktu-waktu tertentu sesuai syariat agama. Hal ini juga sebagai upaya dalam menggapai ridho Allah Swt.

Pengertian dan Macam-Macam Pelaksanaan Haji

Secara harfiah (bahasa) haji berarti menyengaja. Sedangkan menurut istilah, haji adalah menyengaja mengunjungi Rumah Allah (Baitullah) di Makkah, dengan tujuan dan maksud melaksanakan serangkaian ibadah kepada Allah swt.

Dalam definisi lain, haji berarti ziarah ke tempat tertentu yang agung, yakni Ka’bah (Baitullah), Padang Arafah, Muzdalifah, serta Mina. Pelaksanaan haji ada di bulan Syawal, Zulkaidah dan zulhijjah.

Sebelum masuk ke pembahasan pelaksanaan haji, ada baiknya kita mengupas terlebih dahulu mengenai dasar hukum haji serta apa saja rukun dan syarat sah haji. Simak ulasan di bawah ini.

Dasar Hukum Pelaksanaan Haji

Rukun Islam ke lima ini hanya wajib bagi orang yang telah mampu segalanya, termasuk waktu dan finansial. Seperti yang telah tertera dalam firman Allah quran surat Ali-imran ayat 97.

Artinya, “Dan Allah Swt mewajibkan atas insannya haji ke Baitullah (Rumah Allah) untuk orang yang sanggup melaksanakannya.”

Dalam surat lain yakni quran surat al-baqarah ayat 196 yang artinya, “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.”

Beberapa ayat lain seperti Al-maidah ayat 1, At-taubah ayat 19, telah menjelaskan tentang bagaimana adab dalam pelaksanaan haji dan umrah. Umat manusia tinggal mengimplementasikannya dalam tindakan.

Syarat Haji

Sebelum pergi pelaksanaan haji, ada macam-macam syarat yang harus terpenuhi, seperti di bawah ini:

1. Islam

2. Baligh (Sudah dewasa)

3. Berakal sehat (tidak gila)

4. Merdeka (bukan seorang tahanan atau budak)

5. Istitha’ah (Mampu)

Untuk syarat nomor lima, mampu di sini mengandung banyak maksud sebagai berikut:

1. Mempunyai kecukupan dana untuk naik haji, mulai dari berangkat dan kembali. Kerap dengan sebutan ONH (Ongkos Naik Haji).

Dana lain seperti biaya untuk keluarga di rumah juga harus mencukupi.

2. Mempunyai kendaraan, baik milik personal maupun milik swasta atau pemerintah. Syarat ini berlaku untuk muslim muslimah yang berdomisili jauh dari Makkah.

3. Terjamin keselamatan jiwa, raga, dan harta selama perjalanan mengerjakan haji.

4. Bagi perempuan harus membawa mahram, jika tidak bisa dengan sesama perempuan yang telah saling menjaga kepercayaan.

5. Sehat, baik jasmani maupun rohani. Orang yang lemah fisik, bisa membayar untuk orang lain untuk mewakilkan.

6. Telah mempunyai ilmu seputar peraturan, hukum, dan tata cara haji.

Rukun Haji

Dalam pelaksanaan haji terdapat rukun tersendiri. Apabila seseorang meninggalkan salah satu dari macam-macam rukun ini, maka pelaksanaan hajinya tidak sah atau gugur.

Rukun haji hukumnya wajib dan tidak bisa menggantinya dengan membayar dam (denda). Rukun haji ada 6 yakni:

1. Ihram

Ihram merupakan niat saat pelaksanaan ibadah haji. Pelaksanaannya memakai pakaian ihram, yakni pakaian dengan warna putih bersih dan tidak berjahit (untuk laki-laki).

Baca juga: Syarat Wajib Haji yang Harus Terpenuhi, Berikut Ini Penjelasannya

Tujuan ihram ini adalah untuk menyetarakan semua jamaah haji, bahwasanya di hadapan Allah derajatnya adalah sesama hamba.

2. Wukuf

 Rukun wukuf yakni berdiam diri di padang arafah sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Dalam ritual ini, baiknya jamaah memperbanyak dzikir dan berdoa.

3. Thawaf

Thawaf merupakan ritual dalam macam-macam pelaksanaan haji, yakni mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran berlawanan arah jarum jam. Orang yang melakukan thawaf harus tertutup segala auratnya dan terhindar dari hadas dan najis (suci).

4. Sai

Rukun sai yaitu berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit marwah sebanyak tujuh kali setelah thawaf. Harus bermula dari Shafa dan berakhir di bukit Marwah.

5. Tahallul

Yakni mencukur rambut, pelaksanaannya setelah melontarkan jumrah aqabah tanggal 10 dzulhijjah. Laki-laki akan mencukur dan merapikan rambut, sedangkan bagi wanita sekurang-kurangnya adalah tiga helai rambut saat mencukur.

6. Tertib

Terakhir yaitu tertib, di mana pelaksanaan rukun-rukun di atas harus urut runtut, mulai dari ihram, wukuf, thawaf, sai, dan tahallul.

Dalam pelaksanaannya, secara umum haji terbagi menjadi tiga macam. Silakan simak penjelasan di bawah ini untuk penjelasan yang lebih lengkap.

Macam-Macam Pelaksanaan Haji yang Ifrad

Pelaksanaan haji yang pertama adalah haji ifrad, di mana cara pelaksanaannya yaitu dengan melakukan haji terlebih dahulu kemudian baru umrah. Secara harfiah, ifrad ini bermakna memisahkan sesuatu yang tergabung menjadi sendiri.

Pelaksanaan haji ifrad ini, jamaah harus terlebih dahulu menyelesaikan ibadah hajinya, kemudian baru mengikuti ibadah umrah. Tata caranya yaitu setiba di Baitullah jamaah mengerjakan thawaf qudum.

Setelah itu, melaksanakan shalat dua rakaat, tempatnya di belakang makam nabi Ibrahim. Kemudian jamaah mengerjakan rukun sai untuk hajinya tanpa melakukan tahallul.

Selanjutnya menetapkan diri dalam keadaan ihram, jamaah tidak boleh melakukan hal-hal terlarang saat ihram. Masa ihram ini berlanjut hingga tiba waktu tahallul tanggal 10 dzulhijjah.

Barulah setelah usai melaksanakan haji ifrad, jamaah boleh melepas pakaian ihram dan mengganti pakaiannya dengan yang lain. Untuk melaksanakan umrah, jamaah kembali lagi dengan ihram.

Pelaksanaan seperti haji ifrad ini tidak ada kewajiban untuk membayar dam (denda).

Macam-Macam Pelaksanaan haji yang Qiran

Jenis pelaksanaan haji seperti haji qiran ini merupakan cara melaksanakan ibadah haji dengan menggabungkan niat antara haji dan umrah menjadi satu pelaksanaan. Haji qiran waktu pengerjaannya adalah pada bulan-bulan haji.

Tata cara yang pertama kali untuk pengerjaan haji qiran adalah jamaah berihram untuk haji dan berihram untuk umrah. Selanjutnya melaksanakan thawaf qudum saat tiba di Makkah, dan shalat dua rakaat di belakang makam Nabi Ibrahim.

Jamaah kemudian melaksanakan rukun sai dari shafa ke marwah untuk haji dan umrohnya. Cukup dengan satu kali sai tanpa melakukan tahallul.

Saat itu jamaah masih berada dalam kondisi ihram, sehingga haram baginya melakukan hal-hal terlarang saat ihram. Masanya berlaku hingga tiba waktu tahallulnya, yakni tanggal 10 dzulhijjah.

Ada hal yang tak boleh terlupakan ketika melakukan macam-macam pelaksanaan haji seperti qiran ini, yaitu adanya kewajiban membayar dam atau denda.

Menebus dam ini bisa dengan menyembelih hewan kurban, seekor kambing atau sepertujuh dari sapi pada tanggal 10 dzulhijjah atau masih di hari tasyrik.

Macam-Macam Pelaksanaan Haji yang Tamattu’

Macam-macam pelaksanaan haji tamattu’ ini merupakan cara pelaksanaan ibadah dengan mendahulukan umrah terlebih dahulu, baru kemudian mengerjakan haji.

Pelaksanaan yakni dengan cara berihram mengerjakan ibadah umrah di bulan-bulan haji seperti syawal, dzulqa’dah, dan 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Jamaah haji tamattu’ kemudian menuntaskan serangkaian ibadah umrohnya. Mulai dari thawaf umrah, sai, hingga melakukan tahallul dari ihramnya.

Baca juga: Soal Penerapan Haji Digital, Ini Kata Kemenag Pangandaran

Bertahallul bisa dengan mencukur sebagian rambut atau memangkas pendek rambut kepalanya. Pada saat itu, jamaah telah terbebas dari keadaan ihram, sampai nanti tiba hari tarwiyah tanggal 8 dzulhijjah.

Pada tanggal tarwiyah tersebut jamaah kembali melakukan ihram dari Makkah untuk hajinya. Setelah itu barulah jamaah menyelesaikan ibadah hajinya dengan sempurna.

Untuk pelaksanaannya, seperti haji tamattu ini, jamaah masih mempunyai kewajiban untuk membayar dam (denda).

Bisa dengan menyembelih seekor kambing, sepertujuh unta atau sapi, pelaksanaannya di tanggal 10 dzulhijjah atau di hari-hari tasyrik (11, 12, 13 dzulhijjah).

Perbedaan Macam-Macam Pelaksanaan Haji dengan Umrah

1. Berdasarkan Hukumnya

Sebagaimana kita tahu jika hukum macam-macam pelaksanaan haji adalah wajib bagi umat Islam yang mampu baik secara fisik dan finansial. Maka jika seseorang telah mencukupi dan tidak melaksanakan haji, maka mereka akan termasuk dalam kaum yang berdosa.

Sedangkan untuk ibadah umrah mempunyai hukum berbeda dengan macam-macam pelaksanaan haji. Hukum umrah adalah sunnah muakkad, umat Islam boleh menjalankannya, tidak melaksanakannya pun juga tidak masalah.

2. Berdasarkan Rukunnya

Rukun haji dan umrah menjadi patokan sah dan tidaknya sebuah ibadah dan sifatnya tidak bisa diganti dengan dam.

Pelaksanaan haji memiliki 6 rukun. Pertama, ihram, wukuf, thawaf, sai, tahallul dan tertib. Sedangkan rukun umrah hanya terdiri dari ihram, thawaf, sai, tahallul, serta tertib.

Adalah wukuf yang di Padang Arafah yang membedakan antara umrah dengan macam-macam pelaksanaan haji.

3. Waktu Pelaksanaan

Untuk pelaksanaan haji memiliki waktu lebih sempit daripada umrah. Hanya pada awal bulan syawal hingga tiba hari raya idul adha bulan dzulhijjah.

Sedangkan rentang waktu ibadah umrah luas, bisa kapan saja tanpa batasan.

4. Dari Segi Kewajiban

Ada beberapa kewajiban yang terkandung dalam ibadah umrah dan macam-macam pelaksanaan haji.

Kewajiban tersebut merupakan serangkaian ritual manasik yang apabila ada jamaah yang meninggalkannya bisa mengganti dengan membayar dam.

Kewajiban ibadah haji yaitu, ihram dari miqat, bermalam di Muzdalifah, menginap di Mina, melakukan thawaf wada’, serta melontar jumrah.

Sedangkan kewajiban dalam ibadah umrah hanya ada dua, ihram dari miqat dan menghindari larangan dalam ihram.

Hikmah Macam-Macam Pelaksanaan Haji

Setiap ibadah dalam Islam, memiliki hikmah dan pelajaran masing-masing. Seperti halnya dengan melaksanakan ibadah haji ini.

Di bawah ini ada beberapa hikmah yang dari pelaksanaan haji.

1. Kualitas kedisiplinan meningkat. Karena ketika berada di tanah suci, jamaah yang melaksanakan ibadah haji terbiasa melakukan ritual haji dan sholat tepat waktu.

Pola disiplin ini nantinya akan berlanjut meski pelaksanaan haji telah selesai.

2. Meningkatkan kualitas dalam beribadah kepada Allah. Dengan pelaksanaan haji, Allah menjanjikan akan menghapus dosa-dosa apabila ibadah terlaksana dengan tulus ikhlas.

Dengan demikian, ibadah selain haji bisa tertunaikan dengan lebih baik.

3. Timbulnya sikap sabar, karena selama mengerjakan ibadah haji, jamaah perlu menahan diri dari godaan dan cobaan. Maka itulah, sabar harus menjadi tameng jamaah dalam berbagai fasilitas haji dengan jamaah lainnya.

4. Dalam pelaksanaan haji akan melahirkan macam-macam kebaikan seperti memupuk rasa solidaritas dan persaudaraan sesama umat islam di berbagai negara. Jamaah akan bersatu tanpa membedakan rupa, tinggi badan, bahasa, atau yang lainnya.

Tidak ada perselisihan, justru ukhuwah semakin terbina adanya.

5. Dengan mengerjakan serangkaian ibadah haji, maka dakwah islamiyah akan semakin mudah. Bertemu dengan orang baru, jamaah bisa saling bertukar pikiran maupun pengalaman.

Dengan demikian penanaman nilai-nilai islam dalam kehidupan akan semakin mengakar kuat dalam raga.

Baca juga: Daftar Haji Tahun 2021 di Pangandaran Berangkatnya Tahun 2039

Demikianlah pembahasan mengenai macam-macam pelaksanaan haji dan ruang lingkup seputarnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (R10/HR-Online)