Senin, Oktober 18, 2021
BerandaBerita TerbaruSejarah Cipto Mangunkusumo, Intelektual Kritis yang Revolusioner

Sejarah Cipto Mangunkusumo, Intelektual Kritis yang Revolusioner

Siapa yang tidak pernah membaca sejarah Cipto Mangunkusumo, beliau adalah seorang intelektual kritis dan revolusioner yang kini menyandang gelar sebagai pahlawan Nasional.

Gelar pahlawan Nasional diperoleh karena perjuangannya yang tidak surut hanya satu gerakan terpusat saja. Melainkan juga saat itu beliau berjuang hingga ke beberapa daerah di pulau Jawa, tak terkecuali dengan Surakarta.

Seorang pemuda lulusan Stovia (Sekolah Kedokteran Jawa) ini terkenal sebagai pribadi yang cerdas semenjak kecil.

Bahkan beberapa referensi mengatakan bahwa, ia pernah mendapatkan bintang kehormatan dari ratu Belanda karena peranannya dalam menyelesaikan wabah pes abad 20 di Kota Malang, Jawa Timur.

Menarik nya, perjuangan sang dokter ahli kritik ini tidak hanya pada bidang medis saja, tetapi juga merambah pada ranah perjuangan politik kebangsaan.

Adapun untuk lebih memahami kiprah yang sesungguhnya, artikel ini akan mengajak anda pada fakta-fakta menarik yang belum banyak terpublikasi. Berikut adalah ulasannya.

baca juga: Sejarah Seni Indonesia di Masa Revolusi 1945

Fakta Menarik dari Sejarah Cipto Mangunkusumo yang Tersembunyi

Tentu anda belum tau kan, apa saja fakta menarik dan tersembunyi yang pernah ada dalam sejarah guru bangsa ini.

Ternyata salah satu yang tak bisa terlupakan dalam historiografi Indonesia yaitu, peran dan perjuangan nya untuk kesejahteraan buruh dan petani.

Kampanye Anti Raja Tahun 1919

Sebagaimana dalam catatan sejarah pergerakan, ternyata pahlawan yang lahir pada 4 Maret 1886 di desa Pecangakan Jepara, Jawa Tengah ini, merupakan figur intelektual yang anti Raja.

Misalnya saja pada waktu itu, ia pernah menyampaikan kritik pedas untuk kerajaan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia menyampaikan kritik itu pada meja Volkraad (sekarang sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat).

Adapun beberapa kalimat pedas yang keluar dari pikiran beliau antaralain, bertujuan untuk memperingati kebijakan kerajaan yang terlalu menindas rakyat, yaitu berupa pajak yang mahal.

Penentangan terhadap nilai-nilai yang bersifat feodal ini tak berhenti sampai pada meja Volksraad saja, sejarah Cipto Mangunkusumo mencatat bahwa, ternyata ia pernah sampai menghasut petani dan buruh untuk mempensiun Raja dari tahta nya pada tahun 1919.

Atas peristiwa ini, akhirnya sang dokter yang terkenal suka mengkritik ini, sering mendapat julukan pahlawan anti Raja.

baca juga: Sejarah Senjata Tradisional Suku Jawa yang Beracun dan Mematikan

Volksraad Sering Jadi Podium Adu Debat Kalangan Reformis dan Elit Kerajaan

Volksraad adalah sebuah badan baru dan modern yang tercipta dari inisiatif pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mewadahi aspirasi publik.

Sebagaimana dalam buku Takashi Shiraishi berjudul “Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926”, (1997: 126), mengatakan bahwa “Badan Wakil Rakyat” ini sering digunakan sebagai media adu debat antara figur reformis seperti Cipto dengan figur elit yang berasal dari kerajaan.

Seiring dengan perkembangan zaman, lahir banyak intelektual pribumi yang kemudian menjadi wakil rakyat dan memperjuangkan suara mereka di meja badan tersebut.

Kisah adu debat yang terkenal panas adalah beliau mengatakan bahwa elit kerajaan hanya membuat rakyat susah saja.

Rasanya rakyat Jawa sudah tidak memiliki kepercayaan lagi pada mereka yang sering menghambur-hamburkan uang di atas penderitaan rakyat.

baca juga: Sejarah AURI, Percobaan Pembunuhan Soekarno oleh Pilot Kebanggaan Indonesia

Memperjuangkan Kesejahteraan Petani dan Buruh

Beberapa catatan dalam sejarah Cipto Mangunkusumo juga mengungkapkan bahwa, sang pahlawan yang sering menjunjung adat Jawa ini, ternyata sangat memperhatikan kesejahteraan para petani dan buruh.

Hal ini bisa terlihat ketika beliau memberikan pengajaran politik untuk para petani dan buruh dalam partainya bernama Insulinde.

Ia sering memberikan pelajaran pada kelas buruh dan petani tentang bagaimana cara menemukan pola-pola penindasan kolonial dan feodal (kerajaan) yang sering terjadi.

Sementara para buruh dan petani tertindas, kaum elit kerajaan dan kolonial enak-enak menikmati hasil keringat mereka.

Fenomena yang terbuka semacam ini kemudian menjadi pemicu dari lahirnya semangat pergerakan petani dan buruh di Indonesia.

Bahkan Cipto sendiri pernah memprovokasi massa untuk melakukan pemogokan buruh yang disertai pemberontakan.

Kelas Kritik, Salah Satu Materi “Memprovokasi Massa Menuntut Harga Pajak yang Tinggi”

Seperti yang sudah tergambar dalam catatan sejarah Cipto Mangunkusumo, ternyata figur orang Jawa yang gemar kretek ini sering memberikan kelas provokasi untuk melakukan aksi massa pada birokrasi kerajaan.

Salah satu materi yang paling ampuh memobilisasi massa adalah soal penetapan harga pajak yang terlalu tinggi bagi para petani dan buruh.

Tak tanggung-tanggung, terkadang ia memberikan kelas dengan nada yang provokatif. Sering kali beliau menyampaikan materinya dengan semangat yang menggebu-gebu di atas kursi.

Sesekali juga ia menggebrak meja untuk membangkitkan semangat massa agar memberontak.

Orang Pertama yang Berani Mengkritik Raja

Untuk pertama kalinya sejarah Cipto Mangunkusumo mendapatkan pengakuan sebagai orang pertama yang berani mengkritik Raja.

Beberapa kritik yang ada dalam pikiran beliau, sering sekali sampai langsung ke kuping raja. Hal ini tak jarang membuat berbagai raja yang ada di Vorstenlanden kesal dengan ulahnya.

Alih-alih Raja menyuruh para tentaranya menangkap Cipto, ia justru mengakui kesalahan yang sering terjadi di keraton. Tak jarang pihak kerajaan sering mengadakan rekonsiliasi dengan para petani dan buruh untuk menetapkan pajak yang lebih ringan dari pada sebelumnya.

Begitulah sejarah Cipto Mangunkusumo yang patut menjadi perhatian publik. Dari fakta-fakta menarik yang tersembunyi inilah kita bisa belajar lebih baik kala berpolitik dan mengkritik. (Erik/R6/HR-Online)

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img