spot_imgspot_img
BerandaBerita TerbaruSejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

Sejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

- Advertisement -

Dalam sejarah pembantaian PKI, wilayah Madiun yang memiliki julukan “Kota Pendekar” pernah jadi saksi tewasnya Kolonel Soetarto dengan cara yang mengenaskan.

Kolonel Soetarto merupakan sosok penting, namun jarang ada yang menyebutkan dalam catatan sejarah Indonesia. Antek PKI menembaknya dari belakang pada tahun 1948.

Tak banyak orang tahu tentang kisah di balik pembunuhan ini, bahkan hingga saat ini pembunuh berdarah dingin itu masih menjadi misteri.

Baca Juga: Sejarah PKI Madiun 1948, Musso Pemimpin Komunis yang Terlatih dari Soviet

Penelitian Harry A. Poeze dalam buku berjudul “Madiun 1948: PKI Bergerak”, yang terbit pada tahun 2011, menggambarkan kisah-kisah menarik dari peristiwa ini.

Berikut fakta-fakta menarik dari sejarah pembunuhan kolonel Soetarto yang belum bisa terakses hingga saat ini.

Kronologi Pembunuhan Kolonel Soetarto dalam Sejarah Pembantaian PKI

Peristiwa kelam ini merupakan satu sejarah yang tak bisa masyarakat Madiun lupakan, khususnya para veteran yang mengalami masa ini. Tak jarang beberapa pelaku sejarah meneteskan air mata jika mengingat peristiwa ini kembali.

Namun demi terangnya sejarah bagi generasi bangsa, berikut ini beberapa fakta dari kronologi pembunuhan Kol. Soetarto.

Penembakan Terjadi di Halaman Depan Rumah

Harry A. Poeze (2011: 102), menyebutkan, terjadinya pembunuhan terhadap sang Kolonel yang sederhana ini, terjadi tepat di depan halaman rumahnya.

Baca Juga: Ismail Marzuki, Pencipta Halo-halo Bandung yang Memikat Istri dengan Lagu

Kutipan sejarah pembantaian PKI itu juga menyebut tragedi berdarah yang melibatkan pria berpostur ideal ini, terjadi pada tanggal 2 Juli 1948.

Ia tewas menjelang petang hari tatkala keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya. Tak ada yang menyangka saat akan membuka batang pintu, peluru memberondongnya dari belakang. Pelakunya adalah seorang pria tak dikenal.

Belakangan sejawat di Angkatan Darat menuduh pelaku sebagai antek dari PKI. Mengingat pada waktu itu, musim sekali konflik berdarah antara tentara dan kelompok radikalisme ini.

Tempat Kejadian Perkara dan Fitnah PKI Kepada Pasukan Siliwangi

Fakta yang tak pernah banyak diperbincangkan banyak sejarawan atau peneliti juga adalah fenomena tempat kejadian perkara, dan fitnah antek komunis terhadap pasukan Siliwangi.

Peristiwa ini bermula pada tanggal 3 Juli 1948. Terdapat seorang Komandan Militer Kota datang ke Markas Siliwangi.

Ia menyampaikan telah menemukan peci bivak dan lencana Siliwangi di dekat tempat terjadinya pembunuhan Soetarto.

Barang bukti yang ditemukan oleh Komandan Kota bernama Achmadi itu berubah menjadi bola liar di antara divisi angkatan bersenjata Republik Indonesia.

Sementara menurut potongan laporan sejarah pembantaian PKI, peristiwa menegangkan ini bisa dipadamkan oleh petinggi Siliwangi bernama Omon Abdurakhman.

Beliau berhasil meyakinkan Komandan Achmadi, dengan berkata, “Tidak akan begitu bodoh para pembunuh tersebut meninggalkan barang bukti semacam itu, ini hanya akal-akalan dari fitnah PKI yang menyesatkan”.

Kabar Gembira, Seorang Pembunuh Sudah Tertangkap

Sejarah pembantaian PKI merekam bahwa, pernah ada satu surat kabar Belanda bertajuk de Waar heid yang mengungkap seorang pembunuh Kolonel Madiun Soetarto, sudah tertangkap.

Baca Juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik

Sayangnya pembunuh itu tidak mendapatkan peradilan, sebagaimana mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja konstitusi pengadilan.

Peristiwa ini menimbulkan banyak perdebatan di kalangan pejuang, sebab dengan alasan juridisch-staatsrechtelijk, si pembunuh aman dari eksekusi mati.

Meskipun sudah ada kabar tertangkap, surat kabar ini tidak juga memberikan keterangan dari mana kelompok asal pelaku yang terduga PKI.

Kendati demikian, banyak orang menilai bahwa dalang dari kematian Soetarto adalah para antek komunis pengikut ajaran Trotskisme.

Sementara itu, Front Demokrasi Rakjat (FDR) menuding pelaku yang sering diidentikkan dengan PKI itu justru berasal dari kelompok yang berbeda. Mereka menyebut satuan aksi rakyat bernama Barisan Banteng sebagai pelaku pembunuhan.

Sebelumnya, Kolonel Soetarto pernah Bersinggungan dengan Amir Syarifudin

Tuduhan yang selalu mengarah pada PKI tidak sampai berhenti pada fitnah-fitnah yang ada. Akan tetapi berdasarkan keterangan saksi yang ada saat itu menyebut jika, Kolonel Soetarto pernah bersinggungan soal perjuangan dengan petinggi komunis bernama Amir Syarifudin.

Lelaki berkacamata bulat dan tebal itu memang terkenal sebagai provokator ulung dalam peristiwa Madiun 1948, tak terkecuali dengan kasus kematian sang kolonel.

Banyak pendapat yang menuduh Amir sebagai kepala di balik tewasnya Soetarto. Namun meskipun banyak tuduhan dan kecurigaan terhadap pria yang gemar nyangklong ini, tak ada satupun barang bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jenderal Sudirman Menuduh FDR yang Bersalah

Harry A. Poeze mengatakan, Jenderal Sudirman pernah menuduh Front Demokrasi Rakjat (FDR) sebagai pelaku pemberontakan Soetarto.

Pernyataan Panglima Besar itu tercatat dalam sejarah Indonesia sejak bulan Oktober 1948. Adapun alasan Jenderal bintang lima itu menuduh FDR karema beberapa bukti yang bisa diujikan.

Seperti halnya persaingan FDR dengan tentara dalam perjuangan kemerdekaan RI yang cenderung berbeda. Organisasi yang dipimpin Amir Syarifudin ini berambisi menguasai perjuangan angkat senjata yang berseberangan dengan para tentara.

Secara jelas FDR ingin mengacaukan perjuangan tentara dengan cara menimbulkan fitnah dalam urusan intern para pejuang.

Meskipun Jenderal Sudirman sudah mengajukan bukti yang nyata dan valid. Namun hingga saat ini kematian Kolonel Soetarto masih menjadi misteri dalam penggalan sejarah pembantaian PKI 1948. (Erik/R7/HR-Online)

Editor: Ndu

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -