Rabu, Oktober 27, 2021
BerandaBerita TerbaruSejarah Presiden Soekarno, Masa Kecilnya Pernah Sakit-sakitan

Sejarah Presiden Soekarno, Masa Kecilnya Pernah Sakit-sakitan

Sejarah presiden Soekarno, sangat menarik untuk kita ulas. Mengapa tidak, jika Anda tahu, ternyata masa kecil presiden pertama ini pernah sakit-sakitan.

Hal inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang, sebab tak banyak buku sejarah yang menjelaskan pernyataan ini.

Namun kini, melalui buku Walentina Waluyanti De Jonge berjudul “Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen : Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap”, artikel ini akan membahas sisi lain dari kisah menarik Soekarno pada masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Selain kisah masa kecilnya yang pernah sakit-sakitan, ternyata ada beberapa cerita menarik yang tak kalah langkanya dengan itu.

Seperti halnya pernah berseteru dengan penghulu di pernikahan pertama, tak pernah mengenal sendok dan garpu, hingga pernah menumbuhkan kumis yang terinspirasi dari bintang film Amerika.

Berikut adalah kisah menarik Soekarno di masa kecil, remaja, hingga dewasa. Silakan simak penjelasan di bawah ini.

baca juga: Sejarah Pembacaan Teks Proklamasi, Lapangan Ikada Gagal Jadi Tempat Kemerdekaan

Sejarah Presiden Soekarno Saat Kecil

Soekarno pernah menceritakan masa kecilnya yang sedikit menyedihkan, kepada wartawan asing bernama Cindy Adams.

Soekarno menceritakan, sebagai anak dengan pertumbuhan yang buruk, membuat orang tuanya khawatir dan putus asa.

Ia tumbuh dengan perkembangan kesehatan yang sangat buruk. Ia terkena penyakit seperti malaria, disentri dan lain sebagainya sudah biasa ia rasakan sebagai meriang yang datang dan pergi.

Sementara orang tua yang khawatir, segera mencari solusi untuk menangani masalah ini dengan mengganti nama Kusno (nama awal Soekarno).

Orang tuanya mempercayai hal ini bisa mengusir segala jenis penyakit, menurut kepercayaan tradisi masyarakat Jawa.

baca juga: Sabotase Kemerdekaan, Sejarah Sekitar Proklamasi yang Terlupakan

Tak Pernah Mengenal Sendok dan Garpu di Meja Makan

Ia juga pernah menceritakan bagaimana keadaan sulit ekonomi orang tua nya, di kala ia masih anak-anak.

Meskipun banyak orang yang menyebutnya berasal dari kalangan ningrat, namun segala bentuk kemalaratan yang cukup menyedihkan juga pernah ia alami dan orang tuanya.

Sebagaimana dalam bukunya Walentina Waluyanti De Jonge, “Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen : Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap”, (2014: 184), mengungkapkan, Soekarno tidak pernah menutup-tutupi, jika masa lalunya pernah melarat habis.

Bahkan, ia bercerita tentang bagaimana pada masa kanak-kanak lalu, tidak pernah mengenal sendok dan garpu di meja makan rumah.

Ia hanya tahu cara makan yang sesuai dengan tradisi Islam, yaitu menggunakan jari tangan.

Berselisih dengan Penghulu karena Dasi

Barangkali ini kisah yang paling menggelitik di balik cerita Soekarno yang heroik. Usut punya usut, presiden pertama Indonesia ini ternyata pernah berselisih dengan penghulu saat akan melakukan ijab kabul pernikahan pertamanya dengan putri H.O.S Tjokroaminto, bernama Oetari.

Perselisihan ini, awalnya pemicunya karena penghulu meminta Soekarno untuk melepaskan dasi saat ijab kabul berlangsung.

Mereka menganggap memakai dasi waktu itu sebagai simbol budaya dari agama Kristen, sehingga pada zaman itu yang masih fanatik, memakai dasi adalah sesuatu hal yang tidak wajar dalam tradisi Islam.

Soekarno pun sedikit agak tersinggung dengan masalah ini, bahkan sempat mengundurkan diri dari pernikahan, apabila untuk sekedar menikah saja aturan yang berlaku sangat membebani.

Namun karena beberapa negosiasi sahabat dan keluarga pada penghulu, akhirnya nikah terus lanjut dengan dasi yang masih terpasang rapi di kemeja.

Pernah Menumbuhkan Kumis

Sebagaimana umumnya lelaki, Bung Karno dewasa juga pernah berusaha gaul, dengan menumbuhkan kumis yang klimis. Kata Bung Karno, upaya menumbuhkan kumis ini adalah sebuah tekad untuk memiliki penampilan yang sama dengan Norman Kerry, yaitu seorang aktor Amerika terkenal pada masa Perang Dunia I.

Kebiasaan Memperhatikan Penampilan

Menurut Dewi Soekarno (salah satu dari istri Soekarno) bercerita tentang bagaimana Bung Karno tetap memperhatikan penampilannya, bahkan ketika usianya beranjak senja.

Bung Karno, sering memintanya untuk tidak saja mengecat rambutnya yang sudah penuh dengan uban, melainkan juga pada alisnya yang sedikit-sedikit mulai memutih karena faktor usia.

Kebiasaan ini Bung Karno pada istrinya ini biasanya menjelang acara-acara tertentu, seperti akan berpidato resmi kenegaraan, ataupun menghadiri undangan penting dari luar negeri.

Dewi sebagai seorang istri yang baik, berusaha menyamarkan pucat di wajah suaminya yang sudah senja. Ia membubuhi sedikit rona merah dengan pupur membayang yang tipis di wajah suaminya itu.

Manusia Kreatif yang Gigih dan tak Gampang Menyerah

Meskipun besar dalam keluarga serba kekurangan, Bung Karno bisa berjuang hingga sukses meraih cita-cita, terutama kemerdekaan bangsa dan negara.

Dari kisah ini, mengajarkan kita bahwa usaha yang sudah sungguh-sungguh, tidak akan mengkhianati hasilnya.

Sejarah Presiden Soekarno mulai dari kecil, remaja, hingga dewasa telah mengajarkan bangsanya, tentang bagaimana cara memperjuangkan kemerdekaan secara individual. Namun keseriusannya meraih kemerdekaan, ia juga ternyata seorang manusia kreatif yang gigih dan tak gampang menyerah. (Erik/R6/HR-Online)

- Advertisment -

Berita Terbaru