Asal-Usul Masyarakat Jawa, Sejarawan Kolonial Menyebut Berasal dari Laut Merah

Asal-Usul Masyarakat Jawa
Arsip berbentuk potret para pemain kesenian topeng. Pertunjukan seni ini merupakan salah satu warisan dari para leluhur orang Jawa yang hingga saat ini masih bisa kita jumpai. Foto: Net/Ist

Menurut seorang kolonial yang juga sejarawan bernama Thomas Stamford Raffles mengungkapkan bahwa asal-usul masyarakat Jawa berasal dari laut merah.

Hal ini tentu menjadi satu fakta yang mengejutkan sekaligus menarik untuk banyak sejarawan yang tertarik mengulas sejarah Jawa.

Meskipun ini mengejutkan sebagai fakta sejarah, artikel berikut juga akan membahas beberapa hal unik dari sejarah awal lahirnya masyarakat Jawa menurut versi orang kolonial.

baca juga: Jalur Rempah di Indonesia, Pulau Jawa Paling Subur

5 Hal Unik dari Asal Usul Masyarakat Jawa

Adapun dalam artikel ini banyak dibahas sumber-sumber yang berasal dari sudut pandang orang kolonial. Sehingga banyak fakta yang unik dan baru kita ketahui sisi lainnya dari orang Jawa.

Selain menjadi keunikan tersendiri, fakta menarik dari orang Jawa yang sesungguhnya ini akan terlihat jelas saat anda memahami penjelasan berikut di bawah ini.

Orang Jawa Ternyata Berasal dari Timur Tengah

Dalam catatan sejarah asal usul masyarakat Jawa pertama kalinya ternyata juga ada yang menyebut berasal dari orang-orang Timur Tengah.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Raffles dalam bukunya berjudul “The History of Java”, (2008: 430), yang menguatkan teori di atas dengan menyebut asal orang Jawa dari Laut Merah.

Hal ini juga sebagai kepulauan yang berasal dari daratan yang sama. Berdasarkan penelitian Raffles, pulau Jawa dengan Timur Tengah saat itu menyatu, tanpa terpecah belah.

Sementara fakta unik yang lain menyebut bahwa orang Jawa berasal dari golongan masyarakat Mesir yang terbuang karena berbeda kepercayaan.

baca juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik

Orang Mesir yang Terbuang ke Jawa

Masih menurut Raffles, ia menyebut bahwa orang Mesir yang terbuang ke pulau Jawa memiliki kepercayaan yang berasal dari elemen-elemen bumi.

Masih soal asal-usul masyarakat Jawa, beberapa golongan dari mereka kemudian menyembah elemen bumi seperti, matahari, bulan, air, api, serta sisanya hutan dan pepohonan.

Mereka juga dipercaya sebagai golongan masyarakat yang menjadikan hutan sebagai tempat tinggal yang ideal. Hal ini kemungkinan karena adaptasi lingkungan dari gurun dan menemukan hutan.

baca juga: Sejarah Wayang Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Tradisi Jawa

Tertarik Pada Kesenian dan Suara Burung sebagai Pertanda Kebaikan

Orang Jawa yang dipercaya berasal dari Mesir itu juga ternyata tertarik pada sebuah kesenian sebagai tradisi pengiring kepercayaan.

Hal ini dapat kita lihat dalam ungkapan Raffles pada penelitiannya yang menyebut bahwa mereka memainkan kesenian yang terbuat dari elemen hutan (bambu) seperti angklung.

Selanjutnya, banyak di antara orang Jawa yang memainkan bunyi-bunyian semacam meniru suara burung. Hal ini untuk membuat satu persembahan alam dari mereka yang memujanya.

Selain meniru suara burung, mereka juga percaya pada tingkah laku burung yang memakan sesaji yang menaruhnya di altar pemujaan.

Apabila burung-burung memakannya, maka kebanyakan dari mereka mempercayai bahwa sesuatu yang baik akan datang, sebaliknya jika burung itu tidak memakan persembahan, maka itu keburukan.

Asal Nama Jawa Diserap dari Nama Biji-bijian

Asal usul masyarakat Jawa mempercayai bahwa nama pulau yang mereka tempati berasal dari biji Jawa-wut.

Hal ini juga berdasarkan penelitian Raffles yang mengungkapkan bahwa Jawa-wut merupakan biji-bijian yang paling diminati oleh orang Jawa saat itu.

Dengan kata lain, biji Jawa-wut merupakan makanan pokok masyarakat Jawa kuno yang masih belum mengenal beras atau nasi sebagai makanan intinya.

Selain itu, masyarakat Jawa kuno juga mempercayai bahwa penamaan Jawa ini erat kaitannya dengan kisah kematian sepasang raksasa.

Saat itu, kematian sepasang raksasa tersebut memegang satu papan prasasti bernama Jawa. Adapun menurut Raffles mereka memegang dua papan itu sebagaimana ia dalam posisi melindungi sesuatu.

Kepercayaan terhadap kematian sepasang raksasa yang sedang memegang prasasti Jawa ini kemudian menjadi cerita rakyat yang saat ini jarang yang mengetahui, sekalipun oleh orang Jawa.

Memiliki Raja Bernama Sang Aji Saka

Adapun fakta kelima sekaligus fakta yang terakhir dan belum terungkap yaitu, ternyata rakyat Jawa sejak dulu sudah memiliki tokoh raja bernama Sang Aji Saka.

Banyak yang mempercayai tokoh ini memiliki kesaktian yang bisa bermanfaat untuk banyak orang di negerinya. Kepercayaan ini kemudian mengantarkan sosok Sang Aji Saka menjadi keramat selepas meninggal.

Sementara menurut beberapa sumber menyebut, Sang Aji Saka meninggal dunia karena terkena wabah penyakit dahsyat yang ada di Jawa pada tahun sebelum masehi.

Meskipun demikian, Sang Aji Saka masih menjadi misteri dalam kisah asal-usul masyarakat Jawa. Namun ini merupakan satu bentuk folklore (Cerita Rakyat) yang perlu tetap lestari. (Erik/R6/HR-Online)