Selasa, Oktober 26, 2021
BerandaBerita TerbaruDjohan Sjahroezah, Inlander Kaya yang Dihujat Teman Eropa

Djohan Sjahroezah, Inlander Kaya yang Dihujat Teman Eropa

Djohan Sjahroezah semenjak kecil, remaja, hingga dewasa terkenal sebagai pemuda yang berasal dari keluarga elit lokal bersahaja.

Ayahnya seorang pegawai pemerintahan Belanda yang cukup kaya, karena menduduki jabatan tertentu dalam kursi kolonial.

Meskipun kaya raya, tapi Djohan tidak pernah sombong, dan memperoleh pelajaran yang kemudian dijadikan peluang untuk memperjuangkan nasib negara dan bangsanya dari cengkeraman kolonial.

Berikut ini kisah kepopuleran Djohan saatmasa-masa sekolahnya di Bandung.

Kisah Menarik dari Catatan Masa Kecil Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah

Karena tidak memiliki kulit yang sama dengan orang Belanda, Djohan kerap menerima hujatan dari teman-teman Eropa-nya. Djohan memang seorang pribumi, tetapi Ia sekolah di lembaga kolonial.

Selain itu, ia juga salah seorang murid yang cerdas dan bisa membawa kepercayaan seorang guru untuk menitipkan situasi kelas saat sang guru berhalangan masuk sekolah.

Baca Juga: Sejarah Pembaruan Islam di Indonesia dan Peran Penting Orang Minangkabau

Inilah salah satu penggalan kisah menarik dari masa kecil Boeng Djohan (Panggilan teman di Partai Sosialis Indonesia) semenjak kecil.

Berasal dari Kalangan Terdidik

Djohan Sjahroezah berasal dari keluarga terdidik. Ayahnya seorang pegawai negeri yang setiap hari harus membaca buku-buku Inggris dan Belanda.

Djohan meniru kebiasaan ayahnya tersebut, meskipun saat itu, Ia masih belum mengerti tulisan dan ejaan huruf latin yang benar. Sebab kebanyakan teman Inlanders (pribumi) menggunakan aksara daerah.

Setelah ia remaja, ayahnya memasukan Djohan ke sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yakni lembaga pendidikan orang Belanda setingkat SMP.

Karena terbilang anak Cerdas, Djohan akhirnya bisa menyelesaikan studinya dengan cepat, yaitu tiga tahun. Hal ini cenderung cepat, sebab teman-temannya ada yang sampai empat tahun lamanya.

Menurut catatan kolonial yang bersumber dari keterangan gurunya di kelas, Djohan dikenal sebagai anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga cekatan.

Hal ini bisa ia buktikan saat itu jika ada kesempatan untuk menjawab soal secara cepat (dalam bahasa Belandanya; overhoon), Djohan selalu cepat mengerjakannya dengan benar dan tepat.

Selain cerdas dan cekatan, Djohan Sjahroezah juga selalu tampil parlente sejak kecil. Ini terbukti dengan kebiasaan bersih dan rapi Djohan yang terbawa hingga dewasa.

Hal ini selaras dengan pernyataan Riadi Ngasiran dalam bukunya berjudul “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah: Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah”, (2015: 45).

Saat Belajar di Bandung, Aktif dan Bergaul dengan Orang Eropa

Selain bergaul dengan anak-anak pribumi, Djohan juga sering kali bermain dan diskusi dengan orang-orang Eropa dan Belanda.

Hal ini terbukti dengan kelancaran berbahasa Belanda dan Inggrisnya saat ia aktif dalam organisasi kepartaian masa Sukarno bernama PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Selama di Bandung ia juga mengagumi Sukarno yang memiliki usia lebih tua dari dirinya. Saat itu Sukarno berada di penjara dan melakukan gugatan dengan pledoi “Indonesia Menggugat”.

Baca Juga: Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920 dan Upaya PKO Membendungnya

Penampilan tersebut sangat menimbulkan kesan yang membekas pada Djohan Sjahroezah. Bahkan ia mengaku bahwa perjuangannya dalam PSI terinspirasi dari Sukarno.

Namun terkadang, ia juga mengkritik Sukarno. Sebab menurut Djohan, Sukarno sering mengungkapkan istilah-istilah yang hiperbola dan jauh dari kenyataan, seperti “pernah dijajah 350 tahun”, dsb.

Setelah dari Bandung Djohan Pergi ke Batavia

Setelah menyelesaikan studinya di Bandung, kemudian anak dari Tanzil Sutan Pamuntjak ini melanjutkan sekolahnya pada lembaga studi Belanda Algemene Middlebare School (AMS) di Batavia.

Sekolah ini dinilai elit dan tidak sembarang orang yang bisa melanjutkan studi di sana, sebab para mahasiswanya harus menggunakan bahasa Belanda pada setiap pembelajaran.

Hal ini tentu bukan menjadi sesuatu yang sulit mengingat Djohan Sjahroezah sudah terbiasa berbahasa Belanda dan Inggris sejak kecil. Ayahnya langsung yang mengajari Djohan sampai mahir.

Meskipun Djohan dinilai sempat radikal karena kepeloporannya dalam gerakan bawah tanah, tapi ternyata dia dulu di AMS pernah hafal lagu kebangsaan Belanda “Wilhermus” & “Neerland Bloed”.

Selalu Berhadapan dengan Politik Apharteid

Karena berasal dari kalangan elit lokal, Djohan sering kali dihujat dan berhadapan dengan masalah yang meyudutkan pada isu Apharteid.

Terkadang teman-teman Belandanya tidak ingin bergaul dengan Djohan, sebab ia tidak memiliki kesamaan warna kulit sebagaimana orang Eropa.

Padahal secara tradisi dan kultur, Djohan Sjahroezah sudah menjadi seorang kolonial bahkan dari lagu kebangsaan Belanda saja beliau hafal dan suka menyanyikannya sebelum aktivitas kelas di AMS mulai.

Mampu Melanjutkan Studi Hingga RHS

Masih menurut Ngasiran Riadi (2015: 47), meskipun Djohan sering menerima hujan dari teman-teman Eropa-nya di kelas, hal ini tidak menjadi halangan untuk karirnya ke depan.

Ia membuktikannya dengan melanjutkan studi lanjutan hingga ke Reght Hoge School (RHS) di jurusan fakultas hukum.

Selama ia kuliah di RHS, kegiatan berpolitiknya semakin luas dan terbuka. Hal ini yang kemudian mengantarkan Djohan Sjahroezah menjadi salah seorang Anggota Badan KNIP pada era Sukarno. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img