Senin, Oktober 18, 2021
BerandaBerita BanjarHarga Telur Kian Anjlok, Peternak Ayam di Kota Banjar Terancam Bangkrut

Harga Telur Kian Anjlok, Peternak Ayam di Kota Banjar Terancam Bangkrut

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Harga telur ayam anjlok membuat peternak ayam petelur di Kota Banjar, Jawa Barat, terus mengalami kerugian dan terancam gulung tikar.

Pasalnya, harga komoditas telur ayam ras yang saat ini semakin anjlok hingga mencapai harga terendah, yaitu Rp 16 ribu per kilogram.

Seperti diungkapkan Abah Een Supendi, peternak ayam petelur di Dusun Pananjung Timur, RT. 26, RW. 6, Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Menurutnya, sudah sejak dua bulan yang lalu harga telur ayam ras terus merosot.

Bahkan, saat ini ia menjual telur ayam ras dari hasil budidaya ternak ayam petelur miliknya itu dengan harga Rp 16 ribu per kilogram. Hanya selisih sedikit harga yang ia jual kepada konsumen agar tidak terus merugi untuk membeli pakan.

“Sekarang harga telur merosot terus, tapi harga pakan naik. Nggak bisa turun-turun. Saya jual itu 16 ribu rupiah satu kilonya,” tutur Een, Jumat (25/09/2021).

Harga Telur Anjlok dan Harapan Peternak di Kota Banjar

Harga telur ayam ras tersebut menurutnya sangat memberatkan peternak. Apalagi jika dibandingkan dengan harga pakan ayam yang sekarang ini terus naik dan tak kunjung turun.

Een menyebutkan, saat ini untuk harga pakan ayam petelur sebesar Rp 350 ribu per karung, dengan berat isi 50 kilogram per karungnya. Sehingga banyak peternak yang keberatan karena hasil penjualan telur habis untuk membeli pakan.

“Kalau kondisinya seperti sekarang ini tidak seimbang. Karena pakan ayam lebih tinggi dari harga telur,” terangnya.

Seharusnya, kata Een, ada keseimbangan antara harga pakan ayam dengan harga jual telor dari tingkat peternak. Karena usaha apapun harus ada keseimbangan supaya mendapatkan keuntungan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Baca Juga : Bisnis Cacing Sutra di Kota Banjar Selalu Diburu Peternak Ikan

Untuk itu, ia pun meminta tolong kepada pemerintah agar bisa menstabilkan antara harga telur ayam dengan harga pakan. Hal itu karena selain merugikan peternak, ia khawatir nantinya banyak peternak yang gulung tikar.

“Ya kalau seperti ini terus, lama-lama peternak ayam bisa bubar karena tidak ada keuntungannya. Makanya kami ingin kestabilan harga telur. Jangan harga pakan selangit, tapi harga telur merosot. Cuma itu saja harapan saya ada keseimbangan,” tandasnya.

Peternak Kurangi Pakan

Lebih lanjut Een mengatakan, untuk menyiasatinya agar tidak terus merugi, sekarang ini ia lebih memilih mengurangi kapasitas pakan ayam. Meski hal itu juga mengurangi kualitas telur yang dihasilkan.

Biasanya, dari 300 ayam petelur yang ia pelihara, dalam satu hari menghabiskan pakan sebanyak 30-40 kilogram. Namun sekarang dikurangi menjadi 25 kilogram per hari.

Selain itu, Een juga belum berani menambah jumlah ayam petelur untuk menghindari kerugian yang lebih besar sampai situasi berjalan normal.

“Tadinya ayam saya ada 600 ekor, tapi sekarang saya seleksi tinggal 300, dan saya seleksi lagi jadi 150. Tadinya juga saya mau beli lagi, tapi kondisinya masih seperti ini. Makanya saya tahan dulu sampai harga stabil,” pungkas Een. (Muhlisin/R3/HR-Online)

Editor : Eva

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img