Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah

Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia
Potret Klenteng mewah yang pernah dibangun oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia pada tahun 1950. Foto: Ist/Net

Selain sukses dalam hal ekonomi, sejarah budaya Tionghoa di Indonesia juga mencatat bahwa mereka berhasil menanamkan nilai-nilai konfusianisme yang berasal dari para leluhurnya. Namun ada juga beberapa jejak budaya Tionghoa di Indonesia yang memperlihatkan nuansa mewah.

Sebut saja pembangunan klenteng yang mewah di setiap sudut pemukiman kampung Cina yang ada di perkotaan.

Namun uniknya gaya hidup mereka juga tak terlepas dari kemewahan. Seperti misalnya, orang Tionghoa perkotaan yang ternyata pernah punya bioskop sendiri.

Baca Juga: Sejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

Bagaimana sejarahnya, nah artikel ini bermaksud untuk menjelaskan beberapa hal unik dan menarik lainnya dari perkembangan budaya Tionghoa yang ada di Indonesia. Berikut ini adalah ulasannya.

5 Hal Unik dan Menarik dari Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia

Selain gemar membangun gaya hidup yang mewah, ternyata orang Cina memiliki etos kebudayaan yang kuat.

Salah satu yang paling menarik adalah, kegigihan menjalani hidup di tengah kesulitan karena tekanan sosial dari masyarakat pribumi.

Namun karena etos kerjanya yang sangat kuat mereka mampu mendominasi pribumi dalam hal ekonomi, dan pembangunan sosial lainnya.

Pernah Punya Bioskop dan Klenteng Mewah di Perkotaan

Charles A. Copple dalam bukunya berjudul “Tionghoa Indonesia Dalam Krisis”, (1994: 30), mengung-kapkan, saking suksesnya secara ekonomi, kelompok yang hobi bermigrasi ini juga bisa membangun klenteng dan bioskop mewah di tengah perkotaan.

Adapun kekayaan yang mereka dapatkan antara lain berasal dari berdagang dan membuka toko yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, seperti perusahaan sembako.

Atas dasar solidaritas yang kuat antar ras, mereka akhirnya patungan dan membangun sebuah tempat peribadatan bernama Klenteng, dan tempat hiburan masyarakat berupa bioskop yang mewah.

Dari jejak budaya Tionghoa di indonesia terlihat, pembangunan ini dilakukan di tengah halaman khusus kediaman orang-orang Tionghoa yang ada di perkotaan dengan nama wijk.  

Pernah Bubar pada Era Demokrasi Termpimpin

Karena dinilai mampu menimbulkan kecemburuan sosial dari kaum pribumi, maka pemerintahan era Presiden Sukarno pernah membubarkan perkampungan khusus orang Cina.

Sejak dibubarkannya hal ini, banyak orang Tiongoa yang melakukan migrasi ke tempat yang lebih elit dari pada sebelumnya.

Dari jejak Budaya Tionghoa di Indonesia terlihat orang Cina pada tahun 1950, banyak kelompok-kelompoknya yang memilih pindah ke perumahan elit, bekas orang Belanda di perkotaan Jakarta.

Baca Juga: Sejarah BAPERKI, Organisasi Sosial Tionghoa yang Dicap Identik dengan PKI

Sementara orang Tionghoa yang berasal dari peranakan memilih tetap tinggal di perkampungan dan berbaur bersama para pribumi.

Tidak Pernah Merasa Menjadi Bangsa Manapun, Kecuali Mewarisi Peradaban Tionghoa

Selain memiliki budaya etos kerja yang kuat, ternyata orang Cina juga terkenal memiliki karakter yang sangat keras kepala.

Hal ini terlihat ketika penelitian Coppel pada tahun 1994 menemukan alasan mereka mengapa selalu menggunakan nama Tiongkok padahal mereka tinggal di Indonesia.

Adapun jawaban mereka adalah, “tidak pernah merasa menjadi bangsa manapun kecuali mewarisi peradaban Tionghoa sampai kapanpun”.

Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia juga terlihat dari fenomena nama orang Cina yang ada di Indonesia hingga saat ini.

Meskipun mereka berperawakan orang Cina dan memiliki nama Indonesia, namun mereka juga memiliki nama Tionghoa, pemberian ibu dan bapaknya tatkala lahir saat itu.

Baca Juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi

Dengan kata lain, meskipun mereka menyadari sebagai orang Indonesia, tak jarang masyarakat Tionghoa juga mengakui bahwa mereka tetap bangsa Cina. Hal ini yang kemudian menyebabkan mereka memiliki dua kewarganegaraan ganda, yang dinilai akan membawa masalah kebangsaan.

Tionghoa Peranakan dengan Tionghoa Totok

Sebagian masyarakat Cina yang ada di Indonesia sering membedakan dirinya antara Tionghoa Peranakan dengan Tionghoa Totok.

Sementara menurut penelitian yang dilakukan oleh Copple, hal ini merupakan masalah rasial yang diciptakan oleh kelompok mereka sendiri.

Adapun secara pengertian, keturunan peranakan adalah, sebuah kelompok besar dari masyarakat Cina yang hidup dan besar dari ras campuran.

Sementara keturunan Totok adalah sebaliknya, mereka memiliki kasta yang lebih tinggi daripada peranakan. Hal ini karena keturunan Totok masuk dalam kategori orang Cina yang memiliki kepribadian murni, asli, dan sejati.

Sedangkan menurut ilmuan sosial seperti Copple, setiap orang Tionghoa yang lahir di Indonesia adalah keturunan “peranakan”.

Hal ini terbukti sejak abad dua puluh masehi, kebanyakan orang Cina yang datang ke Indonesia hampir semuanya berjenis kelamin laki-laki.

Keturunan Peranakan Lebih Mudah Terpengaruh Budaya Pribumi

Beberapa peneliti menyebut bahwa keturunan dari Cina peranakan lebih mudah terpengaruh budaya pribumi.

Seperti terpengaruh oleh bahasa induk, atau bahasa dalam kesehariannya. Tak jarang ada orang Cina yang berbahasa Jawa, Sunda, Sumatera, dan seterusnya.

Sementara Cina Totok menggunakan bahasa yang sering kita temukan di negara asalnya. Seperti Bahasa Hokian, Bahasa Hakka, Bahasa Kanton, dan Bahasa Teochiu.

Hingga pada tahun 1994, orang Tionghoa peranakan berjumlah 85 persen, artinya peranakan Totok semakin memudar karena sudah tidak adanya masyarakat yang berasal dari Cina asli yang melakukan imigrasi ke berbagai negara, tak terkecuali dengan Indonesia.

Begitulah 5 perkembangan unik dari sejarah budaya Tionghoa di Indonesia, dari jejak yang ada ternyata mereka tidak hanya membangun Klenteng dan bioskop yang mewah. Mereka juga pernah tinggal di perumahan elit Jakarta bekas tempat tinggal orang kolonial pada masa pemerintahan Hindia Belanda. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)