spot_imgspot_img
BerandaBerita TerbaruKisah Mas Marco dan Doenia Bergerak yang Dibredel Belanda

Kisah Mas Marco dan Doenia Bergerak yang Dibredel Belanda

- Advertisement -

Kisah Mas Marco erat kaitannya dengan surat kabar Doenia Bergerak yang dibredel Belanda. Mas Marco Kartodikromo sendiri merupakan nama tersohor dalam dunia surat kabar era kolonial.

Beliau merupakan junior dari Raden Tirto Adisoerjo, seorang wartawan pertama yang berasal dari warga pribumi asli di pulau Jawa.

Perjalanan Mas Marco dengan surat kabar miliknya bernama “Doenia Bergerak” ini terdapat pada buku Takashi Shiraishi berjudul, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” terbitan tahun 1997.

Inilah Beberapa Kisah Menarik dari Mas Marco Kartodikromo

Apabila sejarawan lain menulis wartawan menarik pertama yaitu Tirto Adisoerjo, hal ini berbeda dengan dengan Takashi Shiraishi.

Sejarawan asal Jepang ini mengulas Tirto sang juru tulis handal itu dengan cara yang lebih simpel dan sedikit. Berbeda dengan generasi penerusnya bernama Mas Marco Kartodikromo. Takashi Shirasi mengulasnya dengan detail.

Baca Juga: Sejarah Jurnalistik di Indonesia: Mengenal Mas Marco Kartodikromo

Mas Marco terkenal ramah dan kerap berdandan ala sinyo Belanda. Ia memiliki surat kabar revolusioner bernama Doenia Bergerak.

Kehidupan Mas Marco Kartodikromo

Dalam sejarah wartawan di Indonesia, mencatat nama Mas Marco Kartodikromo dengan gambaran seorang pemuda yang berasal dari Cepu Jawa Tengah.

Ia lahir pada tahun 1890 dan memiliki latar belakang keluarga yang tergolong ke dalam priyayi rendahan.

Asalnya yang dari kalangan priyayi itulah membuatnya punya kesempatan untuk sekolah dan lulus dari lembaga pendidikan swasta bumi putera Belanda di Purworejo. Mas Marco kemudian pindah ke sekolah bumi putera angka dua di Bojonegoro.

Kisah menarik Mas Marco mulai sejak remaja, ia terkenal sebagai siswa yang pandai, Maka setelah lulus tak heran ia langsung bekerja menjadi juru tulis di Dinas Kehutanan Semarang pada tahun 1905.

Terdidik oleh Gaya Barat

Selain pernah sekolah di dua lembaga pendidikan elit di kalangan pribumi, secara tidak langsung Marco mewarisi sistem pendidikan gaya barat.

Keterampilannya dalam menulis membuat kreatifitasnya meningkat. Tak tanggung-tanggung akar kreatifitasnya itu ia aplikasikan dalam bisnis surat kabar.

Doenia Bergerak adalah salah satu surat kabar favorit zaman kolonial yang pada saat itu sangat eksis. Hal ini lantaran semua kalangan bisa membaca Doenia Bergerak, termasuk penduduk bumi putera.

Baca Juga: Sejarah Diskriminasi Tionghoa di Indonesia yang Dianggap Selalu Mujur

Karena pendidikannya, tulisan-tulisan Mas Marco dalam Doenia Bergerak juga tak jarang menampilkan pemikiran-pemikiran modern pada zamannya.

Menurut beberapa kesaksian, tulisan beliau sering menampilkan pemikiran-pemikiran khas orang Eropa dalam bahasa daerah yang sangat sederhana. Karena kalimatnya sangat sederhana itulah, maka semua kalangan dengan mudah mengerti apa isi tulisan Mas Marco.

Doenia Bergerak, Pertama Terbit Tahun 1914

Kehadiran surat kabar revolusioner ini membantu menyadarkan massa untuk melihat keadaan yang terjajah dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, surat kabar ini begitu berani dan sering menampilkan berbagai konten menarik dalam bahasa “tanpa adanya tedeng aling-aling”. Padahal surat kabar ini berkembang dalam peraturan pers yang begitu ketat.

Hingga sekitar tahun 1915, surat kabar ini terkena bredel atau pelarangan untuk terbit karena memuat konten berita yang membahayakan negara.

Hal itu seperti tertulis dalam, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926”, (1997: 115),hasil penelitian dari Takashi Shiraishi.

Baca Juga: Sejarah PKI Madiun 1948, Musso Pemimpin Komunis yang Terlatih dari Soviet

ISDV (Embrio Partai Komunis Indonesia) Menolong Mas Marco

Ketika surat kabar Doenia Bergerak dibredel, secara otomatis redakturnya yang saat itu adalah Mas Marco Kartodikromo juga ikut ditahan.

Saat dalam kesulitan, banyak yang menolong Mas Marco. Seperti beberapa tokoh ISDV dan partai Insulinde lainnya seperti dr. Cipto Mangunkusumo, H. Misbach, Ki Hadjar Dewantara, dan lain sebagainya.

Akhirnya ia mendapatkan vonis hukuman 7 bulan penjara, hal ini sesuai dengan undang-undang yang sah dalam negara kolonial Hindia Belanda.

Adapun cara mereka menolong Marco yaitu dengan menggunakan aksi-aksi rapat terbuka antar organisasi massa, yang kemudian dikenal dalam bahasa Belanda sebagai vergadering.

Doenia Bergerak Didukung Banyak Pihak dari Tokoh Bangsa yang Berpengaruh

Nah sebelum vonis tujuh bulan penjara kepada Mas Marco, rupanya pembredelan surat kabar Doenia Bergerak sudah tersiar ke berbagai kalangan.

Peristiwa memprihatinkan ini mengundang banyak simpati dari berbagai pihak, khususnya para tokoh bangsa yang berpengaruh di waktu itu.

Salah satunya datang dari Ki Hadjar Dewantara yang merupakan tokoh bangsa, dikenal juga sebagai bapak pendidikan Indonesia.

Ki Hadjar juga ikut membantu dukungan untuk melepaskan Mas Marco dari penjara. Beliau mengirimkan surat dari Belanda untuk dibacakan oleh Marco tatkala sidang vonis berlangsung.

Selain itu banyak juga dukungan yang lain untuk membebaskan Marco dari hukuman meja hijau Belanda yang dinilai kurang adil.

Itulah kisah Mas Marco dan surat kabar Doenia Bergerak yang ia terbitkan seperti dikisahkan oleh Takashi Shiraishi dalam, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -