Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920 dan Upaya PKO Membendungnya

Misionaris Kristen di Jawa
Para pengurus badan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) saat berfoto di sekolah pendidikan guru Muhammadiyah. Tempat ini diperkirakan di Yogyakarta, sekitar tahun 1920. Foto: Ist/Net

PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) merupakan salah satu badan sosial milik Muhammadiyah. Badan sosial ini lahir karena dua peristiwa yaitu, meletusnya Gunung Kelud dan upaya membendung misionaris Kristen di Jawa tahun 1920.

Berdasarkan beberapa penelitian, organisasi berbasis derma kasih ini lahir pada tahun 1912. Namun publik baru mengenalnya secara resminya pada tahun 1920.

Sejarah PKO dan Upaya Membendung Misionaris Kristen di Jawa Abad 20

Fakta-fakta berikut mengungkap upaya Muhammadiyah dalam membendung misionaris Kristen di daerah Yogyakarta, dan Jawa Tengah sekitarnya.

Sejak peristiwa meletusnya gunung Kelud sekitar tahun 1912, PKO menjadi satu divisi derma Muhammadiyah yang berfungsi sebagai penolong korban bencana.

Seiring beranjaknya waktu, pada tahun 1920 terjadi fenomena kristenisasi secara besar-besaran oleh orang-orang kolonial saat itu.

Baca Juga: Historiografi Kolonial Ungkap Kebiasaan Sehari-hari Orang Belanda di Batavia

Adapun artikel ini bersumber dari Seminar Sejarah Muhammadiyah online pada 6 September 2021, dengan pembicara Dr. (Cand) Muarif, M.Si, berjudul “Muhammadiyah dan Wong Cilik: Sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem”.

Kelahiran PKO, Sejarah yang Tersembunyi

Sebagaimana catatan sejarah Muhammadiyah, menyebutkan bahwa kelahiran PKO bermula dari letusan Gunung Kelud. Seiring berjalannya waktu PKO juga terlibat dalam upaya membendung misionaris Kristen di Jawa.

Badan kecil dari organisasi besar Muhammadiyah ini, awalnya hanya mengurusi bagian pertolongan pada orang-orang yang sedang kesusahan, sebagaimana korban bencana alam, wabah, dan lainnya.

Kelahiran badan ini juga didorong oleh seruan K.H. Ahmad Dahlan yang sering mengutamakan revolusi Al-Maun, atau menyantuni anak-anak yatim dan piatu di sekitarnya.

Nah seiring dengan perkembangan zaman, kepeloporan badan ini akhirnya terendus oleh Sultan Yogyakarta. Terutama karena prestasi yang memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak.

Akhirnya Sultan Yogyakarta menarik PKO sebagai satu badan pengurus amal kota resmi, dengan tugas menyantuni anak-anak fakir miskin yang sering berkeliaran di Alun-Alun.

Muhammadiyah Memperluas Program PKO karena Kristenisasi

Dr. (Cand) Muarif, M.Si menyebut, pada tanggal 17 Juni 1920, Muhammadiyah memperluas program PKO dalam beberapa bagian.

Program-program tersebut meliputi, urusan kesehatan umum, sekolah atau pendidikan, dan dana sosial.

Apalagi ketika saat itu sedang gencar terjadi fenomena misionaris Kristen besar-besaran di pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah sekitarnya.

Baca Juga: Mengenal KH Ahmad Dahlan, Penggagas Lahirnya Muhammadiyah

Badan ini pun diperluas dengan tujuan menjadi kekuatan tandingan melawan kristenisasi kolonial yang sering terjadi menggunakan motif pertolongan sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Dengan adanya perluasan bidang pertolongan di atas, menuntut PKO memiliki ladang sumber pendapatan yang tentu harus mencukupi dana untuk para fakir miskin.

Adapun sumber pendapatan Muhammadiyah saat itu berasal dari festival pasar Ramadhan, yang digelar di sekitar kampung Kauman Yogyakarta.

Atas usahanya yang kreatif itu, akhirnya dana terkumpul dengan cepat sehingga PKO mampu membangun panti-panti sosial di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Perjalanan PKO, Pernah Dibantu Oleh Orang “Kiri” bernama Triwongso

Sejarah misionaris Kristen di Jawa juga mencatat bahwa, perjalanan panjang yang dilalui PKO, pernah dibantu oleh orang “Kiri” bernama Triwongso.

Triwongso merupakan seorang radikalisme kiri yang terlibat kerusuhan buruh di Polanharjo Klaten Jawa Tengah.

Meskipun Triwongso seorang kiri radikal yang tidak dekat dengan agama, namun karena ia mengerti gerakan PKO Muhammadiyah yang bersifat sosialis, akhirnya ia bergabung dengan Muhammadiyah.

Bahkan pada suatu ketika ia mendekam di penjara karena kerusuhan buruh, Triwongso berkirim surat kepada pengurus Muhammadiyah untuk menjemput anak istrinya ke Sidoarjo Jawa Tengah.

Adapun penjemputan itu dilakukan untuk mendidik anak istrinya yang berasal dari kalangan orang tidak terdidik menjadi cerdas di kantor PKO cabang Jawa Timur.

Badan Penolong Kesengsaraan Oemoem, Menjadi Daya Tarik Organisasi Muhammadiyah

Bukan hanya berupaya membendung misionaris Kristen di Jawa, menurut Dr. (Cand) Muarif, M.Si, badan Penolong Kesengsaraan Oemoem juga menjadi daya tarik organisasi Muhammadiyah untuk memperoleh anggota. Seperti halnya terjadi pada Triwongso.

Selain itu, ada juga peristiwa yang tidak kalah penting dan menariknya dari sejarah ketokohan kiri Triwongso, yaitu K.H. Fachrodin.

Pada saat itu K.H Fachrodin sudah menjadi salah satu tokoh terkenal dalam Syarikat Islam. Bahkan ia juga menduduki salah satu jabatan penting dalam organisasi tersebut.

Namun beberapa orang mengenal beliau juga seorang Muhammadiyah sejati yang pernah berkecimpung dalam badan PKO.

Nah pada suatu waktu, pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan yang melarang rangkap jabatan dalam organisasi. Sehingga K.H Fachrodin harus memilih organisasi mana yang akan ditinggalinya.

Akhirnya karena beliau tertarik dengan program-program PKO, maka K.H. Fachrodin pun lebih memilih organisasi Muhammadiyah untuk meneruskan perjuangannya membela ummat.

Nah begitulah sejarah Muhammadiyah yang mencoba membendung fenomena misionaris Kristen di Jawa yang terjadi sekitar tahun 1920, ternyata PKO salah satu badan sosial untuk menyelesaikan ini. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)