Ideologi Palu Arit di Indonesia, Pernah Diprioritaskan Komunis Dunia tahun 1919

Palu Arit di Indonesia
Potret utusan Hindia Timur yang sedang rapat dalam kongres Komunis Internasional, foto ini diperkirakan diambil sekitar tahun 1925-1927. Foto: Net/Ist

Sejarah ideologi palu arit di Indonesia ternyata memiliki catatan unik dalam perjalanan panjangnya. Selain mendapatkan cap sebagai ideologi berbahaya, ternyata cara pandang yang dinilai radikal ini pernah berjaya pada masanya.

Ideologi yang sering berseberangan di bumi ibu pertiwi hingga saat ini, ternyata pernah menjadi prioritas badan komunis dunia pada tahun 1919.

Adapun simbol perkakas tersebut merupakan sebuah perumpamaan dari dua profesi yang memiliki kesamaan taraf hidup, antara lain yaitu buruh dan petani.

Nah pada kesempatan kali ini, artikel ini akan membahas sejarah perjalan-an panjang dari Partai Komunis Indonesia yang terlarang sejak tahun 1966.

baca juga: Kisah Bung Karno Pernah Satu Kos dengan Pendiri PKI

Fakta Partai Bersimbol Palu Arit di Indonesia

Sejarah partai bersimbol perkakas buruh dan petani ini rupanya begitu panjang dan menarik untuk kita bahas.

Bahkan, beberapa kisahnya cukup unik dan memberikan inspirasi yang bermanfaat, tatkala saat kita mengambil suatu keputusan.

Meskipun sejak tahun 1966 dilarang menjadi partai yang bisa berlaga dalam kancah politik Indonesia, ternyata sejarah partai komunis Indonesia sudah mulai sejak tahun 1921.

baca juga: Sejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

Pernah Jadi Prioritas Sejak Tahun 1919

Badan Komunis Internasional pernah memprioritaskan partai palu arit di Indonesia sebagai sebuah kekuatan bagi jalannya haluan kiri yang ada di seluruh dunia.

Komunis dunia menyebut bahwa partai komunis Indonesia bisa menjadi ladang dalam memperoleh massa komunis dunia terbanyak dari wilayah Asia.

Sejak terbentuknya badan ini pada tahun 1919, jaringan komunis di seluruh dunia semakin berkem-bang dan kuat.

Hingga puncaknya jatuh pada tahun 1921, Indonesia sah menjadi ladang penarik massa terbanyak untuk ideologi komunis dengan lahirnya PKI.

baca juga: Sejarah Tan Malaka, Pernah Buron hingga Menyamar dari Kejaran Komintern

Terjadi Revolusi Troelstra Tahun 1918 di Belanda

Gerakan palu arit di Indonesia ini, seiring terjadinya peristiwa di Belanda pada tahun 1918 yang berhasil mengundang kekaguman banyak pihak, terutama bagi mereka yang berhaluan kiri seperti PKI.

Pemberontakan berdarah yang terkenal dengan nama Revolusi Troelstra 1918, merupakan sebuah perlawanan dari kaum tertindas Belanda terhadap kekuasaan raja di sana.

Keberhasilannya meluluhlantahkan kerajaan Belanda yang menjadi penindas yang formal.

Akhirnya peristiwa ini berubah menjadi sebuah inspirasi penting bagi para pejuang kiri di seluruh dunia, tak terkecuali di Hindia Belanda.

Sejak saat itu ideologi komunis semakin berkembang dan banyak peminatnya, terutama dari kalangan buruh serta petani yang hidup sekitar tahun 1910.

Kepercayaan para kaum buruh dan petani akan ideologi ini antara lain, mempercayai gerakan radikal ini bisa melawan pemerintahan kolonial yang menindas dan bobrok.

Karena Tuntutan Masuk Komintern, ISDV Berubah Menjadi PKI

Menurut Ruth T. dan Mc. Vey, dalam bukunya berjudul “Kemunculan Komunisme Indonesia”, (2009: 93), menyebutkan bahwa karena adanya tuntutan masuk komunis internasional, ISDV terpaksa berubah menjadi PKI.

Badan baru ini juga sangat formal dan tak bisa tawar menawar. Menurut pemaparan dari sumber yang sama mengungkap bahwa komintern sangat menuntut keseragaman.

Dari tekanan keseragaman itulah yang menurut Semaoen menjadi sebuah halangan bagi kemenangan komunis itu sendiri.

Hingga pada suatu kesempatan, rapat kesepakatan berubah nama dari ISDV menjadi PKI kurang mendapatkan persetujuan. Salah satunya oleh anggota ISDV cabang Ternate.

Mereka berinisiatif untuk memecah ISDV menjadi tiga bagian terpusat di Jawa, antaralain berada di Semarang, Surabaya dan Bandung.

Sempat Menolak Masuk Komunis Internasional

Dalam catatan sejarah, partai berlambang palu arit di Indonesia ini rupanya sempat menolak masuk dan bergabung dengan badan komunis dunia pada tahun 1921.

Adapun di antara tokoh-tokoh PKI  yang menolak bergabung dengan Komintern (pelafalan dalam bahasa Inggrisnya) yaitu; Bergsma, Baars, dan Semaoen.

Tiga tokoh komunis Indonesia di atas menolak karena badan komunis dunia yang mendominasi adalah aliran komunis Trotsky.

Sementara Semaoen dan kawan-kawan adalah seorang komunis aliran Bolshewik asli dari Russia.

Prioritas Karena Optimis Memimpin Komunis di Seluruh Asia

Kekuatan komunis di Indonesia yang pernah menjadi prioritas oleh Komintern. Rupanya karena harapan PKI bisa memimpin gerakan kiri di seluruh Asia.

Sebab, kekuatan kiri terbesar di Asia saat itu oleh Hindia Belanda yang pada saat ini bernama Indonesia.

Selain memiliki jumlah anggota yang cukup besar, komintern menilai komunis di Indonesia lebih radikal dan berani melancarkan aksi massa.

Maka dari itu, komintern sangat mengharapkan partai palu arit di Indonesia ini sebagai badan politik terkemuka yang mampu mengontrol dan menguasai kebijakan kolonial sepenuhnya. (Erik/R6/HR-Online)