Panen Melon di Kota Banjar, Konsumen Bisa Petik Sendiri

Panen Melon
Pengunjung saat mengunjungi area penanaman melon di Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Panen melon di Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar menyedot perhatian warga. Pasalnya, mereka yang akan membeli bisa langsung memetik sendiri.

Areal tanah di pesawahan sekitar 120 bata yang berada di dekat jalan raya menjadi daya tarik sendiri bagi pembeli, baik itu warga sekitar maupun dari luar.

Suharno (47), petani melon, mengatakan, melon yang ia tanam ada dua jenis, yakni action 88 dan 434. Sejak penanaman benih hingga panen, hanya membutuhkan waktu sekitar 56 hari.

Berbekal pengetahuan yang ia dapat selama 2 tahun di Yogyakarta, hingga akhirnya di Rejasari ia bisa mengembangkan atas dukungan H Tato sebagai pemodalnya.

“Dari total lahan seluas ini bisa menghasilkan panen sekitar 4-5 ton. Tanah di Langensari itu sangat subur, berbeda dengan Yogyakarta. Sehingga ini sangat besar potensinya untuk kita kembangkan lagi,” ujarnya.

Untuk perawatannya, selain menggunakan pupuk organik, juga menggunakan obat guna mengendalikan hama yang menyerang melon, seperti ulat, kupu-kupu dan lainnya.

Dalam penanaman melon perdana ini, lanjut Suharno, ia melibatkan anak-anak muda sekitar untuk bersama-sama belajar memanfaatkan lahan pesawahan pasca panen.

Sehingga, sawah yang masih menunggu musim tanam bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman melon yang mana hasilnya sangat menguntungkan.

baca juga: Wujudkan Banjar Agropolitan, Poktan Sukadana Kembangkan Alpukat Pangeran

Pemuda Ikut Andil dalam Panen Melon

Ryastabari, salah satu petani muda, mengaku awal mula ikut terjun ke dunia pertanian ini karena setelah lulus kuliah butuh pendapatan tambahan selain mengajar.

Sebelumnya ia mencari petani yang memiliki kemampuan khusus dalam menanam melon dan akhirnya bertemu Suharno.

“Modal awalnya sekitar Rp 5 jutaan. Untuk hasilnya bisa lihat sendiri luar biasa banyak, yakni sekitar 4-5 ton dengan harga per kilogramnya kita jual Rp 10 ribu. Ini potensinya sangat besar bila kita kembangkan lebih luas lagi di Banjar, apalagi masih jarang,” ujarnya.

Paling penting, dalam penanaman melon ini paling cocok ketika musim kemarau untuk di areal pesawahan. Sebab, buah ini membutuhkan panas dan sedikit air.

Ia pun mengaku was-was akhir-akhir ini terjadi hujan yang berdampak pada rasa melon itu sendiri.

“Setelah ini kita akan tanam lagi. Bila kondisi cuaca kurang memungkinkan di sawah, kita akan lari ke pegunungan. Pada intinya, anak muda itu jangan gengsi untuk turun ke sawah. Bila kita mau bekerja keras dan melihat potensi di sekitar, ini akan menambah penghasilan,” pungkasnya.

Bermula Dampak PPKM

Di lokasi yang sama, H Tato, pemodal budidaya melon, mengaku awal mula mengambil langkah tanam melon karena penerapan PPKM beberapa bulan lalu.

Berawal dari kecintaannya terhadap buah-buahan, sehingga ia pun memutuskan memberikan modal untuk pengembangan buah yang terbilang langka dibudidayakan di Kota Banjar.

“Saya itu suka buah dan saya sudah menanam bermacam-macam, mulai dari kelapa, apel, kelengkeng, jeruk dan yang di Langensari ini melon. Seterusnya akan saya kembangkan ini, baik di pesawahan ataupun pegunungan” ucapnya.

Menurutnya, kondisi alam di Kota Banjar, terutama di Langensari, sangat potensial untuk pengembangan aneka buah-buahan. Apalagi ia melihat kesuksesan panen perdana ini mendapatkan respon besar dari masyarakat.

“Untuk perdana kita ke masyarakat dulu supaya bisa menikmati dari lahannya langsung. Jika nanti tidak habis, baru ke tengkulak,” tuturnya.

Langensari Miliki Aneka Buah

Ketua Pegiat Agrowisata Langensari, Eman Sulaeman, mengapresiasi penanaman melon yang ada di Rejasari. Sebab, ini akan menambah varian buah-buahan yang ditawarkan kepada masyarakat dari wilayah Langensari.

Ia menyebut, di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini sudah cukup banyak varian buah yang sudah dikenal masyarakat umum.

Melihat potensi yang masih begitu besar, maka dari itu adanya pembeli yang bisa petik sendiri menjadi daya tarik bagi masyarakat.

“Di sini sebelumnya sudah ada, hanya saja belum begitu signifikan. Dengan adanya ini harapannya tentu saja bisa berjalan lancar dan Langensari bisa dikenal sebagai kawasan agrowisata yang memiliki aneka ragam buah,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)