Pedagang Sate Keliling di Kota Banjar, Puluhan Tahun Memikul Dagangan

Pedagang Sate
Muhammad Khoeroni (67), warga Dusun Jajawar, RT. 3, RW. 1, Desa Jajawar, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, yang berjualan sate keliling dengan cara ditanggung sejak tahun 80-an. Foto: Abdulloh Mucklis/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Pedagang sate keliling, Muhammad Khoeroni (67), warga Dusun Jajawar, RT. 3, RW. 1, Desa Jajawar, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, Jawa Barat, di masa pandemi ini sangat merasakan dampaknya.

Terlebih Muhammad Khoeroni yang kerap dipanggil Mas Roni itu, berjualan satenya menggunakan tanggungan. Ia pun berjalan kaki dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya.

Untuk bisa kembali modal, dalam setiap harinya Mas Roni harus berjualan dari siang sampai malam. Dengan menanggung dagangannya, ia biasanya berangkat dari rumahnya selepas sholat dzuhur.

“Saya berjualan sate dengan cara ditanggung ini dari tahun 80-an. Dulu waktu awal mula jualan sate itu tahun 1967, saya mangkal jualan depan Klenteng Kota Banjar. Tapi tidak begitu ramai,” tutur Mas Roni, warga Jajawar asal Purbalingga, Jawa Tengah itu, kepada HR Online, Senin (30/08/2021).

Setelah menikah dengan istrinya yang merupakan warga Jajawar, jualan satenya tak lagi mangkal. Ia memilih keliling ke kampung-kampung menggunakan tanggungan.

Baca Juga : Pemdes Jajawar Kota Banjar Beri Bantuan Ternak Domba untuk Warga

Ingin Jualan Pakai Roda Terbentur Biaya

Setiap hari puluhan kilometer Mas Roni lalui dengan berjalan kaki sambil memikul dagangan satenya. Hal itu ia lakukan sampai sekarang dengan gigih dan penuh kesabaran, walaupun kini usianya semakin tua.

“Jualan sate saat pandemi seperti sekarang ini, habis tidak habis setiap harinya saya membawa dagangan sebanyak 250 tusuk sate. Star dari rumah setelah dzuhur, kemudian keliling ke Balokang, Banjar Kolot, Perum Karangpucung, ke Pesantren Al Kautsar, Stasiun Kereta Api Karangpucung. Terakhir mangkal di perempatan Desa Jajawar, dekat rumah saya. Itu sampai jam 7 malam,” katanya.

Mas Roni mengaku tidak tahu mau sampai kapan ia akan bertahan menjadi pedagang sate keliling dengan menggunakan tanggungan.

Ia mengaku bukannya tidak ingin berganti dengan berjualan sate memakai roda, hanya saja terbentur masalah biaya untuk pembuatan rodanya.

“Bikin roda dagangan zaman sekarang tidak terjangkau untuk orang seperti saya yang punya penghasilan pas-pasan. Boro-boro buat bikin roda jualan, bisa pulang modal saja, saya harus jualan sampai malam hari,” ungkapnya. (AM/R3/HR-Online)

Editor: Eva