Minggu, Oktober 17, 2021
BerandaBerita TerbaruPenemuan Fosil Rhamphorhynchoid, Dimakan Ikan Aspidorhynchus

Penemuan Fosil Rhamphorhynchoid, Dimakan Ikan Aspidorhynchus

Penemuan fosil Rhamphorhynchoid menggambarkan pterosaurus yang dimakan oleh ikan ganoid. Pterosaurus bukanlah dinosaurus, namun berupa reptil terbang di era Mesozoikum. 

Spesimen fosil, sebagian besar berasal dari Jurassic Tengah. Bahkan sampai memasuki periode Kapur Awal. 

Penemuan Fosil Rhamphorhynchoid, Dimakan Ikan Ganoid Aspidorhynchus

Melansir Scitech Daily, fitur jaringan lunak pterosaurus banyak mendapatkan rekonstruksi. Rupanya kebiasaan memakan hewan terbang vertebrata ini tetap spekulatif. Pasalnya isi usus yang membatu jarang ditemui. 

Para peneliti untuk pertama kalinya melaporkan hubungan yang aneh, yakni antara ikan predator Aspidorhynchus dan pterosaurus ekor panjang berupa penemuan fosil Rhamphorhynchoid. Pada waktu itu merupakan zaman Jurassic akhir.

Kemudian fosil mereka awetkan di Solnhofen Limestone, Bavaria, Jerman Selatan. Fosil tersebut membuktikan jika Rhamphorhynchus merupakan mangsa dari Aspidorhynchus. 

Sebab, terdapat interaksi yang tidak disengaja. Ternyata keduanya tewas. Kemudian terdapat empat spesimen Rhamphorhynchoid ditemukan terjerat dengan Aspidorhynchus besar. 

Berdasarkan penemuan fosil Rhamphorhynchoid, para peneliti tidak menemukan satupun dari mereka yang hidup. Hewan tersebut kemungkinan telah mati pada saat penangkapan. 

Perilaku dari pemangsa ini menjadi ciri khas pada zaman itu. Kemudian mengingatkan pada hiu putih besar yang melompat keluar dari kedalaman. Hiu mempunyai tujuan menangkap burung laut yang berada di perairan Afrika Selatan. 

Baca Juga: Fosil Anak Singa Sparta, Ungkap Kehidupan Spesies yang Punah

Spesifikasi Fosil

Rhamphorhynchus merupakan reptil terbang. Umur fosil ini kurang lebih 159 juta hingga 144 juta tahun. 

Panjang binatang tersebut sekitar 50 cm atau 20 inci. Kemudian mempunyai kemudi berbentuk berlian pada ujung ekor. Tengkorak panjang dengan mata besar. Selanjutnya giginya miring ke depan dan saling bertautan, kemungkinan untuk memakan ikan. 

Pada setiap selaput sayap tipis membentang dari jari keempat yang panjang. Kemudian selaput sayap tersebut terlihat menempel dekat tungkai belakang. 

Sementara penemuan fosil Rhamphorhynchoid  pada tubuhnya terlihat sangat pendek. Para ilmuwan dapat melihat detail halus dalam struktur binatang tersebut. Sebab jaringan pada sayap masih terpelihara dengan baik. 

Kemudian para tim mendeteksi lapisan kulit dengan pembuluh darah, serat panjang, dan otot.  Sehingga sayap menjadi lebih kaku. 

Hal tersebut mengarah pada peningkatan pemahaman tentang sayap binatang. Kemungkinan sayap membuat mereka terangkat di udara. 

Baca Juga: Fosil Laba-laba Lagonomegopidae, Berusia 99 Juta Tahun Lindungi Anak

Fosil Naga Terbang Diawetkan di Batu Chili

Para peneliti telah melakukan identifikasi sisa fosil sebagai naga terbang di gurun Atacama Chili. Untuk jenis yang pertama ditemukan di belahan bumi selatan. 

Penemuan fosil Rhamphorhynchoid 160 juta tahun silam memiliki lebar sayap lebar. Namun genus dan spesies yang tepat dari kadal bersayap belum diketahui.

Para ilmuwan berpendapat hewan itu masuk dalam anggota Rhamphorhynchinae, subfamili Rahamphonhinchoids. Hewan tersebut menjadi salah satu dari beberapa jenis utama pterosaurus.

Apabila membandingkannya dengan pterodactyloid, misalnya pteranodon yang masuk spesies dengan lebar sayap lebih dari 7 meter. Maka rhamphorhynchinae rata-rata kecil. Kemudian mempunyai ekor lebih panjang. 

Selain itu gigi rahang lengkap. Kemungkinan mangsanya berupa ikan dan mamalia kecil dari laut. Penemuan fosil Rhamphorhynchoid pertama kalinya di bawah khatulistiwa untuk subfamili Rhamphorhychinae. 

Seorang ilmuwan dari Universitas Chili, Jonathan Alarcon menjadi pemimpin penyelidikan. Dia bersama tim mengungkap keberadaan subfamili Rahmphorhynchinae di belahan bumi selatan. Sebelum menemukan fosil ini, mereka memperkirakan pterosaurus tidak ada pada garis lintang. 

Rhamphorhynchus Muenster

Rhamphorhynchus Muenster merupakan pterosaurus dengan ekor panjang. Hewan tersebut memakan ikan dan hidup di Eropa.

Hewan ini tampaknya makan hewan air dan menangkap mangsanya ketika terbang di atasnya. Atau bisa juga ketika mengambang di atas permukaan air. 

Para peneliti menyimpulkan hal demikian pasalnya mereka menemukan gigi pterosaurus akuatik. Gigi tersebut tertanam dalam spesimen jaringan lunak cephalopoda Pleseioteuthis subovata yang telah diawetkan. 

Kemudian gigi tersebut telah defosfatisasi. Pemeriksaan tersebut mereka lakukan di bawah sinar ultraviolet.

Berdasarkan morfologi, penemuan fosil Rhamphorhynchoid berupa gigi kemungkinan berasal dari daerah anterior hingga tengah rahang atas atau bawah. Kemudian berasal dari individu yang besar, secara ontologis telah matang. 

Sebagian email dekat ujung gigi penuh dengan mantel fosfat. Akan tetapi bercak coklat di sekitar bagian tengah dapat mewakili email. 

Tekanan mekanis yang tinggi diberikan hingga dasar gigi. Kemudian bersentuhan langsung dengan cephalopoda dan setidaknya mematahkan satu gigi. Hingga penemuan fosil Rhamphorhynchoid yang tetap menempel di mantel. (R10/HR Online)

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img