spot_imgspot_img
BerandaBerita TerbaruPKI dan Sarekat Islam, Sejarah Dua Kompetitor Politik yang Saling Sindir

PKI dan Sarekat Islam, Sejarah Dua Kompetitor Politik yang Saling Sindir

- Advertisement -

Catatan sejarah PKI dan Sarekat Islam dinilai memberi pandangan politik yang begitu inspiratif dan tidak penuh dengan ketegangan, hingga menyebabkan perang urat saraf seperti sekarang.

Hal ini bisa terlihat saat sejarawan asal Jepang bernama Takashi Shiraishi mengungkapkan kisa dua kompetitor politik yang saling menyindir antara satu sama lainnya.

Dua partai itu adalah Partai Komunis Indonesia dengan Sarekat Islam. Adapun pada kesempatan kali ini, kami mencoba untuk mengupas tentang 5 kisah unik dari peristiwa tersebut.

5 Peristiwa Menarik dari Saling Sindir PKI dan Sarekat Islam

Peristiwa ini dimulai sejak Sarekat Islam terpecah belah menjadi dua haluan, pertama sarekat Islam Poetihan dan yang kedua Sarekat Islam Abangan.

Nah haluan kedua (abangan) ini kemudian berafiliasi aktif dengan gerakan politik orang Komunis Belanda yang saat itu menyebarkan ideologinya di pulau Jawa.

Baca Juga: Sejarah Pembantaian PKI di Kota Pendekar, Kolonel Soetarto jadi Korban

Hingga pada tahun 1920 ideologi itu mengakar setahun setelah Partai Komunis Indonesia berdiri.

Dua golongan ini juga kerap melakukan agitasi massa supaya keduanya saling mendapatkan prestise partai terbaik menuju Indonesia merdeka.

Nah berikut ini merupakan 5 peristiwa dari dua golongan politik yang hobi menyindir satu sama lainnya. Apa saja kisahnya? Perhatikan ulasan di bawah ini.

Sarekat Islam Mengutamakan Persatuan Politik dari Golongan Pedagang

Sejarah PKI dan Sarekat Islam juga mencatat partai yang diketuai H.O.S Tjokroaminoto ini sangat mengutamakan persatuan politik dari golongan pedagang.

Alhasil banyak anggota dari partai mereka yang berasal dari berbagai kalangan pedagang. Namun paling banyak didominasi oleh para pengusaha batik yang berasal dari Surakarta, Surabaya, dan kota lainnya.

Organisasi yang hobi menghimpun para pedagang ini juga rupanya mengembangkan koperasi dalam gerakan partainya.

Hal ini sebagaimana budaya para pendirinya yang memiliki sikap terstruktur dan berpendidikan tinggi. Selain itu koperasi dibentuk supaya membantu para anggota yang sedang kesulitan.

PKI Menuduh Sarekat Islam Sebagai Partai Penggelap Uang

Takashi Shiraishi dalam bukuya “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926”, (1997: 335), mengungkapkan PKI pernah menuduh Sarekat Islam sebagai golongan partai penggelap uang.

Baca Juga: Kisah Bung Karno Pernah Satu Kos dengan Pendiri PKI

Hal ini kemudian memicu timbulnya permusuhan yang semakin kuat dari PKI dan Sarekat Islam. Selain menuduh sebagai partai koruptor, PKI juga menganggap SI sebagai partai yang lemah.

Lebih parahnya PKI juga menyebut Sarekat Islam sebagai sebuah kelompok politik yang sering melakukan pencitraan saja.

Sindiran-sindiran ini yang kemudian menjadi omongan membabi buta dari kedua organisasi tersebut, banyaknya perkataan yang bersifat sindiran kerap menjadi akar pemicu konflik antar anggota.

Sarekat Islam Menganggap PKI Sebagai Partai Revolusioner yang Gegabah

Anggapan Sarekat Islam untuk PKI ini berdasarkan realita yang ada saat itu. Bahkan pendiri SI sendiri yaitu, HOS Tjokroaminoto menganggap PKI sebagai kelompok yang gegabah dan tak teratur.

Partai ini juga sering memicu kerusuhan yang tidak bertanggungjawab. Adapun pemimpin partai komunis pertama yaitu Semaun, merupakan salah satu murik dari Tjokroaminoto.

Partai berwarna hijau milik Tjokroaminoto ini, tak jarang menemukan ulah PKI yang gegabah justru menjadi penyebab dari kerusuhan yang sangat berisiko bagi SI.

Sebab pemerintah kolonial mengetahui kedekatan Semaun dengan partai yang lahir di Surabaya ini. SI dianggap sebagai guru dari lahirnya gerakan-gerakan radikal yang terjadi dalam rentang waktu 1926-1927.

PKI Menyudutkan Haji Agus Salim Sebagai “Haji Belanda”

Menurut penggalan dari penelitian Takashi menyebutkan bahwa PKI pernah memanggil Haji Agus Salim sebagai “Haji Belanda”.

Hal ini merupakan sindiran yang keluar dari idiom komunis untuk menggoda kompetitor politiknya tatkala Vergadering (Diskusi Lapangan) dimulai.

Ada juga yang mengungkapkan mengapa Haji Agus Salim disamakan dengan Haji Belanda. Hal itu karena sentimen partai merah ini terhadap jabatan yang dimiliki beliau dalam organisasi SI.

H. A. Salim dianggap sebagai penghalang bagi PKI untuk memperoleh massa dari kalangan Sarekat Hijau. Mereka menganggap kehadiran Salim sebagai pengunci organisasi yang sulit untuk dibuka.

Central Sarekat Islam Menyebut PKI Tak Percaya dengan Tuhan

Kelompok Islam dalam organisasi yang diisi oleh para pedagang batik ini, menyebutkan bahwa PKI adalah organisasi haram karena tidak percaya pada Tuhan.

Hal ini disampaikan dalam pidato politik vergadering, para pembicara di sana juga mengajak semua masyarakat agar tidak terayu oleh partai komunis.

Menurut catatan Sarekat Islam dan PKI, vergadering yang dilakukan oleh SI sering memberikan keterangan bahwa PKI sangat berbahaya, dan bisa mengantarkan masyarakat pada semua hal buruk.

Namun meskipun ini terus diorasikan di tengah rapat lapangan, tak membuat banyak orang begitu terpengaruh. Bahkan sekitar tahun 1924-1925 PKI memiliki jumlah anggota yang bisa melebihi anggota SI pada tahun 1910.

Sementara yang paling mengejutkan yaitu, terdapat kaum poetihan (terminologi anggota SI pimpinan Tjokroaminoto) yang kemudian berpaling pada gerakan radikal seperti yang dilakukan oleh H. Misbach.

Kini PKI dan Sarekat Islam tinggal sejarah yang perlu diabadikan. Dalam kancah perpolitikan ternyata dua kelompok ini sangat berpengaruh bagi perkembangan politik pada masa mendatang.  (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -