Sentra Produksi Bata Merah di Kota Banjar Terancam Gulung Tikar

Bata Merah
Wahyu, salah seorang pengrajin di sentra produksi bata merah, Lingkungan Pataruman, Kelurahan/Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sentra produksi bata merah di Kota Banjar, Jawa Barat, tepatnya di Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, terancam gulung tikar.

Sejumlah pengrajin bata merah di lokasi tersebut kini mulai resah dengan semakin terkikisnya bahan baku untuk memproduksi bata merah.

Wahyu, salah seorang pengrajin bata merah di RT.2, RW.15, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menuturkan, sudah 23 tahun ia menekuni usaha tersebut sebagai ladang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Namun sekarang ini ia bersama sejumlah pengrajin bata merah lainnya mulai resah, seiring mulai terkikisnya bahan baku tanah untuk menunjang proses produksi.

“Iya, sudah mulai habis bahan bakunya. Tapi kalau untuk produksi masih tetap jalan. Paling berhenti juga karena cuaca sekarang lagi hujan,” kata Wahyu kepada HR, Selasa (14/09/2021).

Sejauh ini, untuk memenuhi ketersediaan bahan baku ia membelinya dari wilayah desa tetangga, yaitu Gunung Gembok, Desa Sinartanjung. Atau tanah yang berasal dari tepian Sungai Citanduy.

Bahkan terkadang juga membeli bahan bakunya dari wilayah lain, seperti daerah Cipadung, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Namun, menurut Wahyu, bahan baku yang ia dapat dari luar daerah tersebut kurang bagus. Hal itu pun berdampak terhadap kualitas produksi, hingga akhirnya tidak mengambil lagi bahan baku dari luar, dan bergantung dari bahan baku yang sudah tersedia.

“Sementara kami ambil yang barang yang sudah ada. Cuma ya itu, sekarang barangnya sudah mulai langka. Pernah juga ambil dari luar, tapi jadinya kurang bagus. Banyak yang remuk,” tutur Wahyu.

Dalam satu bulan, ia bisa memproduksi sekitar 15 ribu lebih bata merah, dengan rata-rata produksi per hari sebanyak 500-600 biji bata merah untuk sekali produksi. Proses produksinya juga masih dilakukan secara manual.

Setelah proses produksi selesai, bata merah kemudian ia jual ke penampung di Banjar. Terkadang juga dikirim ke luar daerah seperti Tasikmalaya dan Ciamis dengan harganya sedikit lebih mahal.

Baca Juga : Sentra Produksi Bata Merah di Kota Banjar Harus Bisa Bertahan

Bahan Baku di Sentra Produksi Bata Merah Kota Banjar Menipis

Akibat menipisnya ketersediaan bahan baku tersebut, Wahyu mengaku pasrah dan belum mencari bahan baku ke luar daerah lainnya. Terlebih lagi hal itu akan menambah biaya produksi.

“Sementara ini kami masih tetap produksi, tidak tahu nanti kedepannya. Untuk penjualan kami di sini ada yang menampung, kadang juga ke luar daerah,” ungkap Wahyu.

Pengrajin bata merah lainnya, Sutarmo menambahkan, jika nanti ketersediaan bahan baku sulit didapat, ia mengaku akan beralih ke profesi lain. Apalagi kondisinya yang sudah tua sehingga tenaganya pun juga sudah berkurang.

Adapun untuk jumlah pengrajin di sentra produksi bata merah yang ada di Lingkungan Pataruman sendiri, Sutarmo menyebutkan bahwa saat ada sekitar 100 orang. Semuanya masih produksi.

Terpisah, Kadis KUKMP Kota Banjar, Edi Herdianto, melalui Kabid. Perindustrian, Hani Supartini mengatakan, berdasarkan data yang ada, untuk jumlah pengrajin bata merah di Kota Banjar saat ini sebanyak 408 orang.

Sedangkan, untuk pengrajin yang ada di sentra produksi bata merah Lingkungan Kelurahan Pataruman jumlahnya ada sebanyak 78 orang.

“Data pada kami untuk yang wilayah Kelurahan Pataruman ada 78 orang. Adapun soal mereka ingin beralih menjadi petani, saya belum mengetahui hal itu,” kata Hani. (Muhlisin/R3/HR-Online)

Editor : Eva