Minggu, Agustus 14, 2022
BerandaBerita TerbaruChoi Young Ah dan Isu Aborsi pada Perempuan

Choi Young Ah dan Isu Aborsi pada Perempuan

Aborsi pada perempuan menjadi perbincangan hangat sejak Choi Young Ah, mantan penyiar cuaca di KBS menulis postingan di sebuah forum online.

Ia mengaku sebagai mantan pacar Kim Seon Ho, pemeran utama di drama Hometown Cha Cha Cha. Di postingan tersebut, ia menulis bahwa mantan pacarnya berperilaku kasar dan memaksanya untuk menggugurkan kandungan.

Menurut penelusuran Dispatch, Choi Young Ah ternyata melakukan aborsi atas kesepakatan bersama dengan Seon Ho. Bahkan setelah aborsi, mereka berdua masih berpacaran kemudian Seon Ho memperkenalkan Choi pada orang tuanya.

Baca Juga: Kronologi Skandal Kim Seon Ho Hingga Pemaksaan Aborsi Choi Young Ah

Meski Seon Ho tidak terbukti bersalah, namun budaya penolakan atau cancel culture di Korea Selatan membuat karir sang aktor menjadi redup.

Selebriti yang terlibat skandal akan kesulitan memulihkan karirnya karena ditolak oleh stasiun TV, majalah, dan brand terkemuka. Tak hanya merusak karir, topik aborsi pada perempuan juga menjadi persoalan.

Di Korea Selatan, aborsi kini dianggap legal untuk membela hak perempuan. Syaratnya, usia janin kurang dari 24 minggu untuk situasi darurat atau di bawah 14 minggu dengan kondisi apapun.

Syarat lainnya yaitu adanya persetujuan pasangan (seperti halnya Choi Young Ah dengan Kim Seon Ho), tenaga medis bersertifikat, dan berkonsultasi pra-tindakan pada konselor yang berwenang.

Legalisasi aborsi pada perempuan juga menimbulkan pro-kontra. Salah satunya ada pendapat yang mengatakan bahwa hak bayi untuk hidup sama pentingnya dengan hak perempuan.

Kemudian perempuan yang menggugurkan kandungan juga tersiksa oleh tekanan moral karena tidak mampu membesarkan anak.

Sayangnya, perempuan masih kesulitan untuk mengakses aborsi yang aman. Kendala yang dihadapi antara lain: cara pembayaran, menemukan tenaga profesional, dan mengumpulkan biaya tambahan untuk transportasi karena lokasi praktek beda kota bahkan provinsi.

Akibatnya, perempuan terpaksa meneruskan kehamilan karena tidak menemukan jalan keluar.

Dampak Kehamilan Tidak Terencana

Tidak hanya soal aborsi pada perempuan, kehamilan tidak terencana dapat menimbulkan gejala depresi yang berbahaya bagi ibu dan janin.

Perempuan yang mengalami depresi punya kecenderungan gizi buruk, minum alkohol, merokok, bahkan mengkonsumsi obat terlarang. Tidak jelas apa alasan Choi Young Ah menceritakan masa lalu, namun depresi bisa menandakan konflik yang belum selesai.

Banyak perempuan memutuskan untuk menjadi ibu tunggal setelah melalui berbagai pertimbangan. Misalnya karena sudah tidak ada komunikasi dengan ayah dari bayinya, sehingga masalah keuangan menjadi tanggungan sendiri.

Anak dari ibu yang depresi cenderung kurang perhatian dan kesulitan bergaul sehingga rentan menjadi korban perundungan di lingkungannya.

Baik aborsi pada perempuan atau meneruskan kehamilan, sama-sama pilihan yang tidak mudah. Keduanya bisa memunculkan trauma berkepanjangan setelah hubungan berakhir.

Baca Juga: Kasus Giselle Aespa Berkata Rasis dan Menuai Kontroversi, Ada Apa?

Seorang narasumber berkata bahwa ia melihat Seon Ho membelikan sup rumput laut usai Choi Young Ah menjalani aborsi. Sejak saat itu, Seon Ho tidak pernah makan sup rumput laut karena itu mengingatkannya pada kenangan pahit.

Dampak Aborsi bagi Kesehatan

Selain menyisakan trauma berkepanjangan, aborsi juga membahayakan kesehatan reproduksi. Sulitnya mendapatkan akses yang aman membuat beberapa perempuan terpaksa menjalani prosedur beresiko. Apabila tidak mendapat penanganan dari tenaga ahli, maka tindakan aborsi bisa merobek rahim.

Rahim yang robek akibat alat aborsi bisa sebabkan pendarahan, sulit untuk hamil lagi, bahkan terkena kanker serviks. Pada janin yang berusia 13 minggu ke bawah, pendarahan mungkin lebih ringan. Namun ada kalanya pasien harus menjalani rawat inap setelah aborsi kehamilan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Agar tidak terjadi kehamilan di luar rencana, ada baiknya masyarakat menggunakan kontrasepsi. Di sinilah pentingnya edukasi tentang reproduksi sedini mungkin yang bertujuan mengendalikan angka kelahiran.

Dengan kehamilan yang terencana, Anda dan pasangan sama-sama siap secara mental dan finansial untuk berbagi tanggung jawab.

Biaya yang perlu dipersiapkan mulai dari pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, obat-obatan dan vitamin, persalinan, hingga fasilitas rawat inap untuk ibu dan bayi.

Penetapan anggaran butuh komunikasi dari kedua belah pihak terutama jika pemasukan hanya bergantung pada suami. Pasangan suami istri yang ingin punya anak adakalanya harus menjalani program kehamilan dengan dokter kandungan atau obgyn. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)