Rabu, Juni 29, 2022
BerandaBerita TerbaruDampak Perubahan Iklim, Bumi Semakin Redup, Begini Menurut Ilmuwan!

Dampak Perubahan Iklim, Bumi Semakin Redup, Begini Menurut Ilmuwan!

Dampak perubahan iklim kali ini tampaknya sudah membuat bumi menjadi kehilangan cahaya dan meredup, sama halnya seperti pengungkapan dari para ahli. Terutama dari sebuah penelitian yang telah dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters dan menunjukkan jika bumi semakin gelap.

Sementara para peneliti juga mengungkapkan penyebab dari masalah tersebut karena adanya pergantian sebuah iklim secara natural. Bahkan studi tersebut juga telah melihat dari Earthshine dan menggunakan data tersebut hingga dua dekade.

Baca Juga: Objek 2005 QN137, Terdeteksi Astronom di Sabuk Utama Asteroid

Dampak Perubahan Iklim Kali Ini Terjadi dan Membuat Planet Bumi Kehilangan Cahaya

Rupanya belakangan ini kita sering melihat bumi yang semakin redup karena hanya bisa memantulkan cahaya sedikit karena iklim berubah drastis. Pasalnya dalam dua dekade ini bumi menunjukkan adanya perubahan cuaca. Seperti laut yang semakin menghangat dan awan lebih cerah bahkan lebih dekat cahaya matahari yang dipantulkan ke luar angkasa.

Sedangkan dari sebuah data terungkap bahwa peneliti sudah mengukur albedo atau reflektansi bumi dengan mengamati sinar bumi yang menyinari bulan. Secara tidak langsung, tentunya hal ini akan membuat bumi semakin hangat.

Dari para peneliti juga mengungkapkan bahwa bumi kian redup hingga bertahun-tahun dampak dari perubahan iklim yang terjadi saat ini. Sementara menurut pada ilmuwan terutama dari Big Bear Solar Observatory di California AS juga mengatakan.

Bahkan telah berhasil mempelajari hal itu serta melakukan pengukuran dari siklus matahari serta tutupan awan hingga selama 20 tahun terakhir. Mereka mengamati fenomena tersebut bernama Eartshine dan kekuatannya cukup bervariasi juga.

Baca Juga: Bagian Mikroskop dan Fungsinya, Anda Wajib Tahu!

Pengamatan Lebih Kuat

Selama perubahan iklim para ilmuwan juga telah mempelajari mengenai bagaimana cahaya bumi mulai berfluktuasi sejak 1998 lalu. Pasalnya para peneliti telah mencatat dari hasil pengukuran tersebut hanya relatif namun memerlukan pengamatan yang kuat.

Sedangkan pada penelitian terbaru, para ilmuwan juga menggabungkan sebuah data dengan proyek CERES dan Clouds NASA. Sebab proyek tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1997 dengan instrumen di satelit NASA dan NOAA.

Lebih lanjut, para peneliti juga telah mengumpulkan data dua set yang berguna untuk mengetahui tingkat perubahan cahaya bumi. Sementara pada rentang waktu dua dekade, jumlah cahaya yang telah dipantulkan bumi turun hingga 0,5%.

Bahkan sebagian besar pula bahwa perubahan telah terjadi selama tiga tahun terakhir dari hasil kumpulan data Earthshine. Untuk data CERES yang berlanjut sampai 2019 lalu telah menunjukkan adanya penurunan yang sangat tajam.

Hilangnya Awan Terang

Menurut hasil data, bahwa dampak perubahan iklim ini juga bisa terjadi karena hilangnya awan terang pada bagian atas Samudera Pasifik bagian Timur. Itu menunjukkan bahwa ada suatu peningkatan suhu yang sangat mencolok di permukaan air laut.

Lebih lanjut lagi bahwa peneliti menyimpulkan jika perubahan pada jumlah cahaya berasal dari perubahan Bumi itu sendiri. Seperti tadi bahwa ilmuwan juga sudah berhasil mengamati cahaya bumi sejak 1998 lalu bagaimana bumi bisa berfluktuasi.

Seperti yang kita ketahui, bahwa cahaya bumi merupakan iluminasi redup pada bagian gelap permukaan bulan dari sinar matahari. Biasanya fenomena seperti ini bisa kita amati dari bumi sesudah atau sebelum bulan baru.

Selain itu para ilmuwan juga menggunakan data satelit guna mengukur suatu faktor yang bisa mendorong cahaya bumi redup. Bahkan awan, es, lautan dan daratan semua pasti juga memiliki tingkat reflektifitas.

Baca Juga: Pengertian Sel Punca, Pembahasan dan Kemungkinan Bidang Medis

Penemuan Studi Baru

Dari adanya perubahan iklim menurut jurnal AGU Geophysical Research Letters telah menemukan dampak penurunan yang lebih signifikan atau Albedo. Apa itu? Albedo merupakan besaran yang mampu untuk menggambarkan perbandingan antara cahaya matahari yang jatuh ke bumi.

Para peneliti juga mengatakan jika kini bumi mampu memantulkan cahayanya hingga setengah watt lebih sedikit daripada 20 tahun yang lalu. Sedangkan sebagian besar penurunan itu terjadi dalam waktu kurang lebih tiga tahun terakhir.

Perubahan dari Albedo bumi ini tak berkorelasi dengan adanya perubahan periodik pada kecerahan matahari oleh sesuatu yang lain. Selanjutnya ilmuwan juga melihat adanya penurunan tutupan awan yang lebih cerah dan reflektif.

Karena dampak perubahan iklim itu akibatnya meningkatkan panas di sejumlah wilayah termasuk lautan yang menyebabkan dapat mengurangi tutupan awan. Sehingga bumi akan semakin redup. (R10/HR Online)

- Advertisment -