Kamis, Desember 9, 2021
BerandaBerita TerbaruFosil Kepiting Cretapsara Athanata Diawetkan Dalam Amber

Fosil Kepiting Cretapsara Athanata Diawetkan Dalam Amber

Fosil kepiting Cretapsara athanata telah berusia 100 juta tahun. Peneliti menemukan kepiting era dinosaurus pertama di Burma Amber. Kepiting tersebut terawetkan sepenuhnya dalam Amber. 

Penampilan modern dari kepiting ini mempertahankan mata majemuk yang besar. Mulutnya halus, bahkan terlihat seperti mempunyai insang.

Baca Juga: Fosil Laba-laba Lagonomegopidae, Berusia 99 Juta Tahun Lindungi Anak

Temuan Fosil Kepiting Cretapsara Athanata Berusia 100 Juta Tahun

Javier Luque adalah seorang peneliti pasca-doktoral di Departemen Biologi Organisme dan Evolusi Harvard. Dia melihat potongan amber kuno, Luque bertanya-tanya apa yang dilakukan kepiting sehingga terjebak dalam fosil resin pohon. Apakah Krustasea yang terjebak di dalamnya bisa mengisi celah penting evolusi kepiting?

Melansir scietechdaily-com, hampir membutuhkan waktu 3 tahun untuk dapat mengungkap misteri tersebut. Dia bersama tim ilmuwan internasional melaporkan temuan fosil kepiting Cretapsara athanata di Science Advances pada tanggal 20 Oktober 2021.

Evolusi Kepiting

Kepiting sejati merupakan kelompok Krustasea ikonik, mempunyai bentuk yang beraneka ragam, dan kaya akan spesies. Mereka banyak ditemukan di seluruh dunia. Mulai dari kedalaman lautan, terumbu karang, pantai, gua, sungai, bahkan pepohonan. 

Kemudian catatan mengenai fosil kepiting meluas. Kemungkinan kepiting sudah ada sejak zaman Jurassic Awal atau lebih dari 200 juta tahun silam.

Namun sayangnya, fosil kepiting non laut jarang mereka temukan. Sebagian besar ada di batuan sedimen dengan jejak cakar, kaki, serta potongan karapas hewan. 

Hal tersebut menunjukkan jika kepiting non laut datang dari darat dan air tawar. Kurang lebih sekitar 75 hingga 50 juta tahun silam. 

Salah satu spesimen spektakuler yang ada hingga sekarang adalah fosil kepiting Cretapsara athanata. Tim peneliti menjelaskan jika potongan tersebut ada dari hutan Asia Tenggara. 

Kondisinya benar-benar masih lengkap. Luar biasa, tidak ada satu rambut pun yang hilang dari tubuhnya. 

Dengan adanya penemuan ini, dapat memberikan wawasan baru tentang evolusi Krustasea. Bahkan dapat mempelajari kapan mereka menyebar ke seluruh dunia. 

Lebih dari itu, para peneliti berpendapat jika penemuan tersebut merupakan bukti tertua dari serangan ke lingkungan non-laut oleh kepiting sejati. Kepiting 5 milimeter ini pertama kali ditemukan dalam damar dari era dinosaurus.

Baca Juga: Penemuan Fosil Rhamphorhynchoid, Dimakan Ikan Aspidorhynchus

Revolusi Kepiting Kapur

Fosil kepiting Cretapsara athanata terlihat sangat modern. Sekilas menyerupai kepiting pantai yang banyak kita jumpai sekarang ini. 

Tidak seperti kebanyakan kepiting selama periode Kapur Pertengahan. Karena pada waktu itu terlihat mencolok perbedaannya dari kepiting modern.

Cretapsara athanata terkubur dalam kuning kapur. Hewan ini termasuk kategori akuatik hingga semi-akuatik. Pasalnya, terdapat insang yang berkembang dengan baik. 

Fosil kepiting Cretapsara athanata dapat terjebak dalam damar kemungkinan karena berada di dekat hutan. Kepiting menunjukkan terestrial atau amfibi, mungkin mati di lingkungan air tawar dekat pantai. 

Tim peneliti mengidentifikasi kepiting telah melakukan versifikasi di seluruh dunia. Kemudian mulai mengembangkan karakteristiknya sehingga bentuk tubuh tampak seperti kepiting. 

Setelah itu, penelitian terbaru memperhitungkan kapan spesies kepiting tersebut berevolusi secara independen hidup di luar habitat laut. Fosil kepiting Cretapsara athanata terkenal sebagai kepiting sejati. Karena fosil tersebut merupakan temuan paling lengkap dari yang pernah mereka temukan. 

Baca Juga: Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan 5 Kingdom, Apa Saja?

Penelitian Spesimen Amber Fosil 

Agar detail jaringan halus pada kepiting lebih jelas, peneliti memakai pemindaian mikro-CT. Tampak antena, mulut yang berlapis rambut halus, kaki, mata majemuk, dan insang. Bahkan bagian rambut utuh, tidak ada sehelai pun yang hilang. 

Tim peneliti berkolaborasi antara Harvard dan China University of Geosciences. Lalu melibatkan penulis dari 10 institusi. Meliputi Yale University, University of Alberta, UC Berkeley, Yunnan University, Smithsonian Tropical Research Institution Panama, dan Royal Saskatchewan Museum.

Pendanaan proyek berasal dari National Science Foundation yang lebih besar. Bersama dengan Javier Ortega-Hernández, yakni asisten profesor di OEB dan kurator paleontologi invertebrata di Museum of Comparative Zoology.

Di Museum Amber Long Yin di China, spesimen fosil ini tersimpan. Penambang lokal dari Myanmar yang mengumpulkan potongan tersebut. Kemudian pada tahun 2015 dibeli secara ilegal. 

Luque sudah mempelajari evolusi kepiting lebih dari satu dekade. Kemudian baru mengetahui spesimen tersebut pada tahun 2018. 

Harapan dari penemuan fosil kepiting Cretapsara athanata mendapat sorotan dari khalayak. Keragaman bentuk dari kepiting dapat kita pelajari lebih lanjut dan memikat imajinasi publik ilmiah dan non-ilmiah. (R10/HR-Online)

- Advertisment -