Kamis, Januari 20, 2022
BerandaBerita BanjarHidup Sebatang Kara, Nenek di Banjar Menyambung Hidup dari Seikat Lidi

Hidup Sebatang Kara, Nenek di Banjar Menyambung Hidup dari Seikat Lidi

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Meski hidup sebatang kara dan usia yang sudah tidak muda lagi, namun nenek Ruwi (74) masih semangat untuk menjalani hidup.

Sementara untuk menyambung hidup sehari-hari, nenek warga Dusun Muktiasih, RT 3/6, Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, ini mengandalkan dari seikat sapu lidi.

Setiap hari, ia dengan telaten mengumpulkan daun kelapa yang sudah kering, yang kemudian ia merautnya untuk dijadikan sapu lidi. Setelah itu, lidi yang sudah menjadi sapu tersebut ia jual.  

“Sehari-hari meraut lidi untuk nantinya saya jual. Kalau lagi santai suka dapat tiga ikat sapu,” ujar nenek sebatang kara asal Kota Banjar, Ruwi kepada wartawan, Sabtu (16/10/2021).

Ruwi menuturkan, sapu lidi yang ia buat tersebut dijual ke seorang pengepul, dengan satu ikat sapu lidi dihargai sebesar Rp 1.300.

“Kadang sapu lidi yang saya jual ke pengepul bisa sampai 20 ikat. Tapi nggak tentu sih,” tambahnya.

Bantuan untuk Nenek yang Hidup Sebatang Kara Asal Kota Banjar

Selain dari hasil jualan sapu lidi, nenek Ruwi juga mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa beras sebanyak 5 kilogram. Bantuan tersebut ia terima setiap satu bulan sekali.

“Kalau dari desa suka ada beras 5 kilogram setiap bulan. Dulu lagi ramai itu ada bantuan beras juga 10 kilogram, cuma satu kali aja,” terangnya.

Sebelumnya, nenek yang hidup sebatang kara asal Kota Banjar itu juga menempati rumah yang tidak layak huni. Namun, kini nene Ruwi bisa bernapas lega. Pasalnya, ia mendapat bantuan bedah rumah dari Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Hegarmukti beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Ketua RT 3, Sahdi mengatakan, bantuan yang nenek Ruwi terima itu hanya dari program Rastrada, yakni berupa beras 5 kilogram.

“Bantuan dari pemerintah cuma Rastrada berupa beras 5 kilogram per bulan,” katanya Sabtu (16/10/2021).

“Kalau kemarin waktu pertama pandemi, ada tambahan berupa uang Rp 100 ribu, sama beras 10 kilogram. Selebihnya tidak ada lagi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia mengajukan bantuan kepada FKM Hegarmukti untuk membantu dengan bedah rumah. Karena kondisi sebelumnya tidak layak huni.

Selain mengajukan bantuan bedah rumah, Sahdi juga telah berusaha untuk mengajukan kepada pemerintah desa agar nenek yang hidup sebatang kara tersebut mendapat bantuan untuk lansia.

“Saya juga mengajukan ke desa untuk bantuan lansia, berupa uang sebesar Rp 500 ribu. Tapi sampai sekarang belum cair,” ujarnya.

Sahdi menuturkan, nenek Ruwi hanya hidup sebatang kara tidak memiliki suami dan anak. Sehingga tidak ada yang memperhatikannya.

“Ada memang di sini sifat anak, kalau bahasa sundanya. Tapi kan mereka udah punya keluarga, jadi tidak hanya memperhatikan nenek Ruwi saja,” tuturnya.

Sehingga, ia berharap pemerintah bisa membantu dan memperhatikan nenek Ruwi yang hidup sebatang kara tersebut. (Sandi/R5/HR-Online)

Editor : Adi Karyanto

- Advertisment -