Selasa, Desember 7, 2021
BerandaBerita PangandaranLangkaplancar dan Cigugur Penghasil Kapulaga Terbesar di Pangandaran

Langkaplancar dan Cigugur Penghasil Kapulaga Terbesar di Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-  Sampai saat ini Kecamatan Cigugur dan Langkaplancar merupakan wilayah penghasil kapulaga terbesar di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, setiap tahunnya.

Tak heran, karena hampir setiap keluarga memiliki tanaman kapulaga baik di kebun maupun di pekarangan rumah.

Ketua Asosiasi Kapulaga Indonesia Kabupaten Pangandaran Kunkun Herawanto mengatakan, tanaman rempah kapulaga sampai saat ini masih menjadi penghasilan unggulan bagi masyarakat Langkaplancar dan Cigugur.

“Hampir semua kepala keluarga memiliki tanaman kapol, jadi tak heran jika Langkaplancar dan Cigugur menjadi kecamatan penghasil kapulaga terbesar di wilayah Kabupaten Pangandaran,” ujar Kunkun Kamis (21/10/2021).

Baca Juga: Harga Turun Drastis, Petani di Pangandaran Tetap Tanam Kapulaga

Kunkun mengatakan, meski menjadi kecamatan penyumbang kapulaga terbanyak, namun sampai saat ini pihaknya belum bisa memastikan berapa ratus ton penghasilan kapulaga dari 2 kecamatan tersebut.

“Angka pastinya saya belum bisa memastikan berapa ratus ton kapulaga per tahunnya, yang pasti ratusan ton,” ungkapnya.

Selama ini para petani kapulaga di wilayah Cigugur dan Langkaplancar menjual hasil panennya tidak menentu.

Terkadang ke wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, bahkan sampai ke daerah Bandung dan Jakarta.

“Sebenarnya para petani kapulaga sampai saat ini masih jarang yang menjual kapulaga ke wilayah Pangandaran,” katanya.

Adapun para petani yang menjual kapulaga ke sini (Asosiasi Kapulaga Indonesia Pangandaran) hanya petani yang tergabung dalam kelompok asosiasi saja.

“Hal itu karena mereka sudah terbiasa menjualnya ke luar Pangandaran,” paparnya.

Sementara itu Asisten Perhutani (Asper) wilayah Cijulang Pangandaran Aceng mengatakan, banyaknya kapulaga dari wilayah Cigugur dan Langkaplancar tak lepas dari luasnya lahan perhutani di dua wilayah itu.

Kata dia, banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan perhutani menjadi lahan kapulaga.

Pihaknya tidak melarang hal itu, yang penting prosedurnya ditempuh dan masyarakat harus memahami daerah mana yang bisa ditanami daerah mana yang tidak boleh ditanami.

“Karena tidak semua lahan perhutani bisa untuk masyarakat tanami,” ucapnya. (Enceng/R8/HR Online/Editor Jujang)

- Advertisment -