Kamis, Januari 27, 2022
BerandaBerita TerbaruObjek 2005 QN137, Terdeteksi Astronom di Sabuk Utama Asteroid

Objek 2005 QN137, Terdeteksi Astronom di Sabuk Utama Asteroid

Objek 2005 QN137 merupakan asteroid sabuk utama kedelapan dari setengah juta asteroid lebih. Astronom memastikan asteroid ini telah aktif, bahkan lebih dari satu kali. Perilaku seperti ini menunjukkan jika penyebab aktivitasnya karena sublimasi bahan beku. 

Baca Juga: GW Ori Mengorbit 3 Bintang Sekaligus, Berhasil Ditemukan Para Astronom

Penemuan Objek 2005 QN137 Langka di Tata Surya

Melansir sci-news, objek ini ditemukan aktif dalam data dari teleskop survei Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System (ATLAS). Pada tanggal 7 Juli 2021, jarak heliosentris objek tersebut berada pada 2,39 AU (satuan astronom). Kemudian menunjukkan ekor debu lurus dan tipis. 

Dr. Henry Hsieh, ilmuwan senior di Planetary Science Institute menyatakan penyebab aktivitas objek 2005 QN137 tersebut karena sublimasi material es. 

Hal tersebut sebagai komet sabuk utama. Lalu menjadi salah satu dari sekitar 20 objek yang sekarang ini telah mereka konfirmasi atau duga sebagai komet sabuk utama. Termasuk adalah beberapa objek yang diamati aktif sekali.

Hsieh mempresentasikan Karakterisasi Fisik Komet Sabuk Utama (248370) 2005 QN173. Pada konferensi pers di Pertemuan tahunan ke-53 dari American Astronomical Society’s Division for Planetary Sciences.

Objek 2005 QN137 kemudian sebagai komet dan asteroid. Lebih khususnya asteroid sabuk utama yang baru-baru ini banyak kita kenal sebagai komet. 

Sesuai dengan definisi fisik komet, kemungkinan besar bentuknya seperti es. Selain itu, objek mengeluarkan debu ke luar angkasa. Meskipun dia tidak mempunyai orbit asteroid.

Dualitas serta kaburnya batasan yang sebelumnya sebagai objek yang terpisah, yakni komet dan asteroid. Ini merupakan bagian vital dari hal yang membuat objek tersebut sangat menarik. 

Baca Juga: Planet Raksasa Panas TOI-1518b, Exoplanet Temuan Tim Astronom

Ukuran 2005 QN137

Hsieh menemukan ukuran inti objek 2005 QN137 ini lebarnya 3,2 kilometer. Lalu panjang ekor lebih dari 720.000 kilometer pada Juli 2021. Benda padat di kepala komet tersebut dikelilingi oleh awan debu. 

Panjangnya setara dengan tiga kali jarak Bumi ke Bulan. Sementara ekornya pada waktu itu lebarnya hanya 1.400 kilometer. 

Ekor yang begitu sempit ini mengindikasikan jika partikel debu hampir tidak melayang keluar dari nukleus. Pada kecepatan yang sangat lambat. Kemudian aliran gas yang keluar dari komet, biasanya akan mengangkat debu ke luar angkasa, namun sangat lemah. 

Kecepatan lemah ini pada umumnya akan menyulitkan debu lepas dari gravitasi inti. Jadi, ada hal lain yang dapat membantu keluarnya debu di objek 2005 QN137.

Menurut Hsieh adalah nukleus dapat berputar dengan cepat untuk membantu menghembuskan debu ke ruang angkasa dan sebagian telah terdorong oleh gas yang keluar. 

Orbit Asteroid

Asteroid sabuk utama yang mengorbit Mars dan Jupiter, kemungkinan berada di Tata Surya bagian dalam yang hangat. Kita dapat melihatnya dalam orbit Jupiter selama 4,6 miliar tahun terakhir. 

Fenomena tersebut terjadi dalam waktu cukup panjang sejak keberadaan objek dekat Matahari dalam waktu yang lama. Artinya, aktivitas komet sebenarnya tidak diharapkan dari objek-objek tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, penyebab aktivitas komet biasanya karena transformasi es menjadi gas. Terjadi pada objek 2005 QN137 di Tata Surya. Sehingga sebagian besar komet berasal dari tempat yang dingin di  luar Tata Surya atau di luar orbit Neptunus.

Objek-objek tersebut menghabiskan sebagian besar waktu di sana. Orbitnya memanjang dan membawa mereka lebih dekat ke Matahari dan Bumi dalam waktu yang singkat. 

Baca Juga: Asteroid 2021 RS2 Meluncur Melewati Bumi, Kecil dan Tidak Berbahaya

Hsieh mengatakan jika selama objek cukup dekat dengan Matahari, maka akan memanas dan melepaskan gas serta debu. Kejadian tersebut merupakan akibat dari sublimasi es, bahkan menghasilkan penampilan yang kabur. 

Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat beberapa objek langka. Astronom menemukannya sebagai komet sabuk utama. Hsieh dan David Jewitt menjadi penemu pertama pada tahun 2006 sebagai kelas baru komet. 

Menariknya, objek ini bermula dari tumbukan asteroid dan sabuk asteroid utama ketika Bumi terbentuk. 

Karena pengamatan aktivitas objek ini kemungkinan masih mempunyai kandungan es, para tim menawarkan cara potensial untuk menguji hipotesis itu. Lalu mempelajari lebih lanjut mengenai asal-usul kehidupan di Bumi. 

Selain itu, perlu mempelajari lebih kompleks tentang kelimpahan, distribusi, sifat fisik objek, dan benda-benda di Tata Surya bagian dalam. Pengamatan objek 2005 QN137 sangat penting untuk mengkonfirmasi kecepatan rotasi nukleus. 

- Advertisment -