Rabu, Desember 8, 2021
BerandaBerita TerbaruSifat Koligatif Larutan, Pengertian, Jenis, dan Penerapannya

Sifat Koligatif Larutan, Pengertian, Jenis, dan Penerapannya

Sifat koligatif larutan akan kita bahas pada artikel kali ini. Tentu, Anda sudah pernah terbesit pertanyaan mengapa air teh lebih sulit beku ketimbang air biasa.

Contoh pertanyaan lain yang barangkali pernah Anda alami adalah mengapa air garam lebih sulit mendidih daripada air biasa. Nah, di sinilah kita akan tahu keterkaitan dengan konsep koligatif larutan.

Sebenarnya banyak sekali kasus di kehidupan sehari-hari yang mengandung konsep ini. Hanya saja, orang-orang masih awam dengan hal tersebut. 

Lantas, apa definisi dari kata koligatif yang sebenarnya? Mari sama-sama temukan jawabannya.

Baca Juga: Jenis Larutan Elektrolit dengan Berbagai Karakteristiknya

Pahami Pengertian Sifat Koligatif Larutan

Mengambil pengertian dari sudut pandang seseorang, yaitu Ramon Chang yang ia tuangkan dalam buku bertajuk “Chemistry 10th Edition”. Konsep koligatif larutan tidak mempunyai ketergantungan pada sifat alami partikel terlarut. Sehingga hanya bergantung pada berapa jumlah partikel terlarut di dalam suatu larutan.

Mengambil definisi dari KBBI, pengertian konsep koligatif yang sebenarnya adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada zat terlarut dan hanya berkonsentrasi pada partikel zat pelarutnya saja. Ada dua macam pembagian sifat dalam konsep koligatif larutan inj. 

Jadi, sifat koligatif larutan ini tidak memandang identitas partikel zat pelarut, baik itu ion, atom, atau molekul sekalipun. Ia hanya memandang dari sisi kuantitas saja, bukan kualitas.

Pertama ada koligatif larutan elektrolit. Lalu yang kedua adalah koligatif larutan non elektrolit. Sedangkan macamnya terbagi menjadi empat jenis. 

Ada penurunan tekanan uap, penurunan tekanan beku, peningkatan titik didih, dan jenis yang terakhir adalah tekanan osmotik.

Baca Juga: Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, Ciri-Ciri, Contoh, dan Perbedaannya

Penurunan Tenaga Uap (∆P)

Jenis sifat koligatif larutan yang pertama adalah penurunan tenaga uap (∆P). Tekanan uap dari suatu cairan berasal dari jumlah molekul yang mendatangkan fase cair menjadi fase uap.

Apabila jumlah partikel zat terlarut Anda tambahkan ke dalam sebuah cairan murni, maka molekul cairan murni akan terhalang saat hendak meninggalkan fase cairnya. Hal ini akan mengakibatkan uap cairan murni (P⁰) lebih besar dari tekanan uap larutan (P).

Kasus tersebut sudah menggambarkan adanya penurunan tekanan uap ((∆P). Rumusnya adalah

Untuk yang larutan non elektrolit:

∆P = P⁰ – P

P = Xp . P⁰

∆P = Xt . P⁰

Sedangkan apabila larutan elektrolit:

∆P = P⁰ – P

P = Xp . P⁰ . i

∆P = Xt . P⁰ . i

Keterangan:

i adalah 1 + (n-1)α yang masih bagian dari faktor Van’t Hoff dengan derajat disosiasi. Sementara α adalah derajat disosiasi, lalu n adalah jumlah koefisien ion-ion.

Kenaikan Titik Didih (∆Tb)

Kesamaan temperatur antara tekanan uap larutan dengan tekanan atmosfer internal merupakan pengertian dari titik didih. Sedangkan sifat koligatif larutan yang kedua ini adalah kenaikan titik didih.

Kenaikan titik didih ini berarti kondisi dimana titik didih suatu larutan lebih tinggi ketimbang pelarut murninya. Penyebab kenaikan titik didih ini antara lain adalah adanya zat terlarut yang tidak mudah menguap (nonvolatile) sehingga menjadi penghalang molekul pelarut untuk menguap.

Kemudian keadaan tersebut menimbulkan suatu larutan menjadi lebih sulit untuk mencapai titik didihnya. Mudahnya, kenaikan titik didih ini adalah titik didih larutan lebih besar daripada titik didih pelarut.

Larutan Non Elektrolit

∆Tb = m . Kb

Larutan Elektrolit

∆Tb = m . Kb . i

Keterangan:

m adalah molal, sedangkan Kb adalah tetapan titik didih. Kemudian i merupakan faktor Van’t Hoff.

Penurunan Titik Beku (∆Tf)

Penurunan titik beku merupakan salah satu jenis sifat koligatif larutan dimana penambahan zat terlarut pada pelarut murni akan mengakibatkan terjadinya penurunan titik beku dari pelarut murninya tersebut.

Penyebab utama dari penurunan titik beku ini adalah terdapat partikel zat terlarut yang menjadi penghalang sesama molekul pelarut untuk saling berhubungan dalam membentuk fasa padatnya. Kondisi titik beku zat pelarut juga lebih besar ketimbang titik beku dari zat larutannya.

Larutan Non Elektrolit

∆Tf = m . Kf

Larutan Elektrolit

∆Tf = m . Kf . i

Keterangan:

m adalah molal, Kf adalah tetapan titik beku. Kemudian i adalah faktor Van-t Hoff.

Sifat Koligatif Larutan Tekanan Osmotik (π)

Osmosis merupakan aktivitas zat pelarut pindah dari larutan yang encer menuju larutan ke yang lebih kental dengan media membran semipermeabel.

Berdasarkan tekanan osmotik ini, pembagian larutan ada tiga macam. Pertama larutan isotonik yang mempunyai tekanan osmotik sama.

Kedua ada larutan hipertonik yang tekanan osmotiknya lebih besar. Terakhir, larutan hipotonik yang tekanan osmotiknya lebih kecil.

Larutan Non Elektrolit

π = M . R . T

Larutan Elektrolit

π = M . R . T . i

M adalah molaritas, R adalah tetapan gas ideal ( 0,082 L.atm/mol.K), sedangkan T adalah suhu dalam bentuk Kelvin. Lalu i adalah faktor Van’t Hoff.

Dalam kehidupan sehari-hari sudah banyak aktivitas yang juga melibatkan sifat koligatif larutan ini. Ada cairan infus, pembuatan es krim, penambahan etilen glikol pada radiator mobil, dan masih banyak lainnya. (R10/HR Online)

- Advertisment -