Jumat, Januari 28, 2022
BerandaBerita TerbaruFase Bulan Purnama, Berhubungan dengan Perubahan Bentuknya

Fase Bulan Purnama, Berhubungan dengan Perubahan Bentuknya

Fase bulan purnama cukup bervariasi dan sangat menarik karena menampakkan fenomena unik. Pancaran sinar bulan menghiasi langit malam yang bisa terlihat melalui mata telanjang. Bagian gelap dari bulan biasanya merupakan bagian yang tak terkena sinar matahari.

Ada juga bagian yang terang karena terkena pancaran matahari sebagian. Terlihat bahwa bulan sering berubah bentuk. Ada yang bulat sempurna, setengah lingkaran, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Gerhana Bulan 19 November 2021, Semburat Merah di Beberapa Daerah

Nah, bentuk tersebut merupakan pengaruh dari fase bulan yang selalu berubah. Bulan selalu berputar mengelilingi Bumi yang disebut sebagai gerakan revolusi. Dalam sekali revolusi, bulan membutuhkan waktu kurang lebih 29.5 hari.

Ketahui Fase Bulan Purnama

Bulan memiliki bentuk yang bulat seperti Bumi dengan ukuran 80 kali lebih kecil. Diameter dari bulan hanya sepanjang 3.476 km. Sedangkan jarak bulan ke Bumi sangat dekat hanya sepanjang 384.400 km.

Selain itu, bulan juga merupakan satelit dari bumi yang memancarkan sinar saat malam hari. Tentu sinar tersebut berasal dari pantulan sinar matahari ke Bumi. Pada dasarnya, satelit merupakan benda langit yang bergerak di sekitar planet.

Adanya pergerakan tersebut berasal dari gaya tarik planet. Bulan adalah satelit yang mengelilingi Bumi selama kurun waktu 27 hari 7 jam 43 menit 11,5 detik. Pada permukaannya bulan memiliki daerah gelap dan terang.

Berikut adalah fase bulan purnama yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk.

Bulan Baru

Fase pertama bernama bulan baru. Posisi ini bulan terlihat hampir sejajar dengan Bumi serta matahari. Bulan tidak terkena pantulan cahaya matahari sehingga terlihat gelap.

Bahkan mata telanjang tidak bisa melihat keberadaan bulan saat mengalami fase ini. Kebanyakan orang menyebut bulan baru dengan nama “bulan mati”. Seolah-olah tidak ada bulan yang mengelilingi Bumi.

Baca Juga: Proses Terjadinya Aurora dengan Cahaya Menyala Warna-Warni di Langit

Seperempat Pertama

Kemudian ada fase bulan seperempat pertama dengan posisi bulan membentuk sudut tertentu. Posisinya hampir menghadap ke matahari dan Bumi. Dalam hal ini, bulan sudah mulai terlihat dalam keadaan sabit maupun separuh.

Orang-orang sudah bisa melihat munculnya bulan yang samar-samar. Istilah penyebutan kondisi ini adalah bulan sabit dan bulan separuh.

Bulan Purnama

Fase bulan purnama terletak pada posisi hampir segaris dengan Bumi dan matahari. Ketika mengalami fase tersebut, posisi Bumi berada di bagian tengah. Sehingga urutannya adalah bulan, Bumi, dan matahari.

Bagian bulan yang terpapar sinar matahari merupakan bulan terang. Hal tersebut memperlihatkan bentuk bulan yang bulat penuh. Sehingga terlihat jelas dengan mata telanjang dari Bumi.

Pada fase ini, bulan menampakkan pesonanya yang sangat eksotis. Bahkan banyak orang yang berusaha menyaksikan fenomena bulan purnama. Permukaan Bumi menjadi lebih terang dengan adanya pantulan cahaya dari bulan.

Seperempat Terakhir

Ketika fase bulan purnama telah usai, maka akan datang fase seperempat terakhir. Fase ini hampir sama seperti posisi bulan pada seperempat pertama. Bulan akan membentuk sudut tertentu terhadap matahari dan Bumi.

Posisi tersebut mengakibatkan bulan tidak terlihat dari Bumi. Artinya bulan dalam keadaan gelap gulita dan tidak memancarkan sinar apapun. Bulan akan kembali membentuk separuh dan sabit.

Namun, posisi tersebut bertolak belakang dari posisi ketika seperempat pertama. Bulan seperempat terakhir membentuk bulan sabit separuh cakram yang menghadap ke kiri. Setelah itu, bulan akan kembali ke fase mati dan seterusnya.

Baca Juga: Matahari Terbit Lebih Awal Beberapa Hari Kedepan di Daerah Tertentu

Bentuk dan Ukuran Bulan

Setelah memahami fase bulan purnama, kemudian akan ada pemahaman mengenai bentuk dan ukuran bulan. Pada dasarnya, bulan berbentuk bulat dengan massa 7.4 1022 kg. Terdapat garis tengah bulan sama dengan 1/4 garis tengah Bumi.

Massa bulan sangat kecil sehingga menyebabkan gaya tarik pada benda di permukaannya juga kecil. Kekuatan gaya tarik bulan hanya sebesar seperenam dari Bumi. Hal ini menyebabkan bulan tidak mampu menahan molekul udara tetap mengelilinginya.

Bulan tidak memiliki atmosfer karena tak ada kehidupan. Permukaan bulan sangatlah kasar sehingga benda jatuh tidak ada yang menahan. Suara tidak ada yang merambat ke bulan karena udara merupakan medium tempat perambatan suara.

Dengan memahami fase purnama, maka bisa meneliti setiap bentuk bulan. Mudah bagi mereka untuk menyebut fase bulan purnama pada setiap waktunya. Sehingga tidak hanya mengagumi keindahan bulan, tetapi juga memahami proses perubahan bentuknya. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -