Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita TerbaruBintik Hitam Matahari Sebagai Penanda Aktivitas Tertinggi

Bintik Hitam Matahari Sebagai Penanda Aktivitas Tertinggi

Bintik hitam matahari merupakan fenomena solar minimum. Terjadinya fenomena tersebut juga menjadi penanda datangnya siklus matahari 25.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan bintik hitam di matahari dan apa dampaknya bagi kehidupan di bumi?

Mengenal Fenomena Bintik Hitam Matahari

Menurut jurnal Buletin Cuaca Antariksa yang LAPAN keluarkan, dijelaskan bahwa bintik hitam di matahari merupakan sebuah penanda tingkat aktivitasnya.

Bintik hitam tersebut berada di permukaan matahari dan menjadi penanda adanya konsentrasi medan magnet yang kuat.

Baca Juga: Teleskop Luar Angkasa Tercanggih yang Bantu Ilmuwan, Apa Saja?

Selain itu, suhu yang lebih rendah dari daerah sekitarnya juga kemungkinan terjadi di sana. Kemunculan bintik hitam di matahari bukanlah suatu fenomena acak.

Fenomena alam terjadinya bintik pada matahari sesungguhnya memiliki pola yang teratur dengan lokasi dan jumlah kemunculannya mengikuti suatu siklus dengan periode 11 tahun.

Siklus tersebutlah yang disebut dengan siklus matahari. Adapun fenomena solar minimum yang terjadi jika pada periode tertentu bintik matahari tidak muncul.

Sebaliknya, apabila bintik yang terlihat cukup banyak, hal itu menandakan matahari sedang dalam keadaan aktif.

Seiring berjalannya waktu, bintik matahari akan bermunculan di lintang menengah. Bintik hitam matahari yang terbentuk tersebut dapat bertahan beberapa jam dan akan terus berputar.

Sejarah Pengamatan Bintik Matahari

Sebuah catatan tertua astronom China pada sekitar 800 SM menandai pertama kali bintik matahari ini datang.

Baca Juga: Proses Terjadinya Tornado, Si Angin Ribut yang Merugikan

Sejalan dengan berkembangnya zaman, sketsa yang memperlihatkan kehadiran fenomena tersebut pertama kali dibuat oleh John Worcester pada 1182.

Bahkan sebelum Galileo Galilei mempublikasikan pengamatan bintik matahari, Thomas Harriot sudah lebih dulu mencatatnya.

Catatan tersebut juga berisi beberapa sketsa bintik matahari yang terjadi. Teori bintik matahari yang paling terkenal adalah dari Bapak Astronomi Modern, Galileo Galilei.

Ia mempublikasikan hasil pengamatan bintik matahari yang Galileo lakukan di pagi dan sore hari. Galileo juga menggunakan sebuah metode proyeksi yang lebih aman dalam proses pengamatannya tersebut.

Ia bahkan sempat mengklaim bahwa telah menemukan bintik hitam matahari di tahun 1620. Tetapi argumen tersebut tidak dapat terpercaya karena tak ada bukti pengamatannya.

Pengamatan bintik matahari masih terus para ahli lakukan selama berabad-abad, bahkan hingga hari ini.

Saat ini dengan berbagai teknologi canggih seperti teleskop luar angkasa dan lainnya dapat membantu proses penelitian.

Siklus Matahari 25

Dokumentasi akan fenomena bintik matahari terjadi sejak orang-orang mengamati kemunculannya secara rutin.

Arsip data penelitian tersebut jugalah yang menjadikan siklus matahari mulai para ilmuwan ketahui.

Mengacu pada data, siklus matahari pertama yang berhasil teridentifikasi berlangsung sekitar tahun 1775-1776. Sejak saat itu siklus yang terjadi memiliki nama sesuai dengan urutan waktu terjadinya.

Baca Juga: Fenomena Hujan Meteor Monocerotid, Saksikan Puncaknya Malam Ini

Berdasarkan beberapa ciri pergantian siklus matahari, para ilmuwan menyimpulkan bahwa siklus 25 akan segera terjadi.

Siklus matahari yang terakhir yang tercatat berlangsung selama 12 tahun yaitu antara tahun 2008-2020 dan memiliki nama siklus matahari 24.

Sebenarnya tanda dari pergantian siklus matahari ini sudah terdeteksi sejak akhir Desember 2016. Tanda pergantian tersebut berupa terlihatnya bintik di lintang menengah belahan matahari bagian selatan.

Berkebalikan dengan bintik di siklus matahari 24. Pada akhir 2019 barulah muncul bintik dengan ciri siklus matahari 25.

Hubungan Bintik Matahari dan Bumi

Pada 8 Desember 1620, melalui buku agendanya Thomas memperlihatkan catatan pergerakan matahari dari 1560-1621.

Ia melakukan pengamatan terhadap matahari dengan teleskopnya lantas mencatat segala bentuk serta posisi matahari.

Melalui pengamatan tersebut, ia menemukan sebuah fakta baru bahwa pada awal siklus yang baru, bintik hitam matahari terbentuk di jarak jauh dari ekuator.

Posisi bintik matahari tersebutlah yang kemudian hari akan terbentuk di lintang lebih rendah. Selain posisi bintik, Richard juga menemukan rotasi matahari beda di daerah ekuator serta kutub.

Di ekuator, matahari berotasi sekitar 25,38 hari. Sedangkan di kutub, jumlah rotasinya adalah 36 hari.

Pada tahun 1976, Jack Eddy menemukan hubungan antara perpanjangan minimum siklus dengan zaman es kecil atau musim salju ekstrim yang melanda Eropa.

Minimum maunder merupakan hubungan antara aktivitas matahari yang sedikit dengan iklim di Bumi.

Kesimpulannya, bintik hitam matahari dapat mempengaruhi temperatur di bumi. Bahkan hingga badai matahari yang dapat menyebabkan terjadinya kiamat internet. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -