Kamis, Juli 7, 2022
BerandaBerita TerbaruKisah Teladan Imam Syafi'i, Semangat Tholabul 'Ilmi Hormat pada Guru

Kisah Teladan Imam Syafi’i, Semangat Tholabul ‘Ilmi Hormat pada Guru

Kisah teladan Imam Syafi’i ternyata menjadi salah satu ilmu pengetahuan penting dalam Islam. Berbicara tentang Imam Syafi’i, tentunya nama tersebut sudah tidak asing lagi kita dengar.

Bisa kita simpulkan bahwa Imam Syafi’i adalah seseorang yang mempunyai derajat lebih tinggi. Ia merupakan sosok imam mazhab. Imam Syafi’i adalah imam yang mempunyai karakteristik patut kita jadikan teladan.

Tidak hanya mazhab saja yang perkembangannya sangat pesat. Tetapi jika kita telaah lebih dalam, faktanya Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penganut mazhab Syafi’i paling banyak.

Lebih tepatnya adalah Imam Syafi’i itu ulama besar dan termasuk sebagai salah satu dari empat imam mazhab dengan ilmu yang sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Dari kalimat ini, kita bisa mendapatkan sedikit kesimpulan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ulama besar ini.

Sebab dijelaskan bahwa ia merupakan imam yang ilmunya sudah tersebar luas. Jadi, tidak heran apabila kisahnya juga harus kita ketahui dan teladani.

baca juga: Kisah Kedermawanan Utsman bin Affan Menjadi Teladan Bagi Kehidupan

Inilah Kisah Teladan Imam Syafi’i yang Menginspirasi

Sebelum kita lebih dalam membahas kisah teladan Imam Syafi’i, supaya ilmu yang kita dapatkan lengkap, ada baiknya jika kita mengetahui tentang biografinya.

Perlu Anda ketahui, nama asli Imam Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad Bi Idris As SyafI’i Al Muthalibi Al Quraisy. Ia merupakan ulama yang lahir pada tahun 150 Hijriyah di Gaza, Palestina.

Selain itu, sosok imam ini merupakan mujtahid yang mempunyai karya, menjadi rujukan dalam ilmu fiqih Islam, atau biasa disebut sebagai mazhab Syafi’i.

Orang tua Imam Syafi’i adalah Idris. Ayahnya tinggal di Hijaz. Ia merupakan keturunan Al-Muththalib.

Nasab dari kisah teladan Imam Syafi’i tersebut bertemu dengan Rasulullah SAW di Abdul Manaf. Sebab, kakek Muhammad bin Idris As Syafi’i adalah saudara kandung dari Hasyim bin Abdi Manaf yang merupakan kakek dari Nabi Muhammad SAW.

baca juga: Kisah Ratu Siti Aminah Pemimpin Banten dan Anaknya yang Tamak

Masa Belajar Ulama Besar

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal, selang dua tahun dari kelahirannya, ibundanya membawa Syafi’i ke Mekkah yang merupakan Tanah Air dari nenek moyangnya. Hingga, kemudian ia tumbuh besar di Mekkah.

Ia sejak kecil juga sangat pandai menghafalkan syair, bahasa Arab, dan sastra sampai Al-Ashma itu berkata, “Aku mentahshih syair-syair bani Hudzail yang merupakan pemuda dari Quraisy atau Muhammad bin Idris”.

Nah, kisah teladan Imam Syafi’i bermula ketika ibundanya membawa ke Mekah. Sebab di Mekah, Imam Syafi’i berguru fiqih kepada Mufti. Ia adalah muslim bin Khalid Az-Zanji. Sehingga, ia juga mengizinkan SyafI’i tersebut memberi fatwa saat usianya masih 15 tahun.

Selanjutnya, ia juga belajar dari Dawud Bin Abdurrahman Al Athar. Belajar juga dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Safi’i serta menimba ilmu kepada Sufyan bin Uyainah.

baca juga: Kisah Nabi Ilyas AS Mengajak Bani Israil Menyembah Alloh SWT

Belajar di Banyak Kota

Sebenarnya kisah teladan Imam Syafi’i bisa kita lihat dari usahanya untuk tidak lelah dalam menimba ilmu. Hal ini juga bisa kita lihat dari tempat-tempat di mana saja ia belajar. Jika demikian, memang ulama besar ini tidak hanya belajar di Kota Mekah saja, melainkan juga Madinah dan Yaman.

Bukan hanya itu saja, akan tetapi Imam Syafi’i juga mengetahui bagaimana adab-adab menuntut ilmu yang baik dan benar. Sehingga di manapun ia belajar, juga selalu menghormati gurunya.

Menghormati Guru

Karena Imam Syafi’i begitu menghormati gurunya, hal itu juga sempat membuat orang lain heran terhadap apa yang ia lakukan kepada gurunya.

Suatu hari Imam SyafI’i bertemu dengan gurunya, tiba-tiba ia mencium tangan serta memeluk hangat gurunya yang sudah tua tersebut. Hal inilah yang membuat orang lain heran terhadap apa yang Imam Syafi’i lakukan.

Hingga pada akhirnya, orang tersebut bertanya kepada Imam Syafi’i. “Mengapa engkau melakukan itu, bukankah laki-laki itu sudah tua, apakah engkau juga mengenalnya?”

Dengan sangat santainya dan tidak perlu berpikir panjang, Imam Syafi’i menjawab “Ia adalah guruku. Ia harus ku muliakan karena aku suatu hari pernah bertanya kepadanya mengenai bagaimana cara untuk mengetahui bahwa seekor anjing sudah dewasa. Lantas menjawab pertanyaanku, kita bisa melihat anjing sudah dewasa apabila ketika kencing, anjing tersebut mengangkat sebelah kakinya”.

Dari sepenggal kisah tersebut, juga bisa kita simpulkan bahwa sikap teladan Imam Syafi’i terlihat dari semangatnya dalam menimba, menuntut ilmu, serta selalu memuliakan guru. Hal itu juga menjadi salah satu yang penting dalam menuntut ilmu.

Ketika kita tidak lelah dalam menuntut ilmu, maka akan menyebabkan kita mengetahui tentang banyak hal baru yang bahkan orang lain saja belum mengetahuinya.

Sedangkan jika kita memuliakan guru atau seseorang yang memberi pengajaran kepada kita, atas izin Allah, apa yang mereka berikan kepada kita, entah ilmu apapun yang mengandung kebaikan dengan mudahnya kita akan paham.

Dengan demikian, mari bersama kita mengamalkan kisah teladan Imam Syafi’i yang menyebabkan dirinya sukses menyebarluaskan ilmu ke seluruh penjuru dunia. (MUhafid/R6/HR-Online)