Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita BisnisKapasitas Pasar Kripto Kembali Hijau, Bitcoin Lagi-Lagi Memimpin

Kapasitas Pasar Kripto Kembali Hijau, Bitcoin Lagi-Lagi Memimpin

Kapasitas pasar kripto mulai menghijau kembali pada Selasa (25/1/22). Setelah nilainya anjlok, saat ini pasar kripto kembali naik dengan Bitcoin memimpin.

Kenaikan Bitcoin bahkan sempat menembus level US$ 37.000. Tentu saja, dengan menghijaunya pasar kripto membuat para investor dapat bernapas lega.

Baca Juga: Investasi Ala Strategi Sir Alex Ferguson dengan Cara Perkuat Pertahanan

Kabar Terbaru, Kapasitas Pasar Kripto Meningkat Kembali

Angin segar sepertinya sedang dirasakan oleh para investor mata uang kripto. Setelah beberapa waktu lalu mengalami penurunan nilai, saat ini kembali menghijau.

Melansir dari data CoinDeck pada Selasa (25/1/22), tepatnya pukul 16.00, harga BTC atau Bitcoin berada di US$ 36.224,79. Nilai tersebut memiliki persentase kenaikan 3,59% daripada posisi 24 jam sebelumnya.

Harga mata uang kripto terbesar dari sisi kapitalisasi pasar bahkan sempat mencapai US$ 37.500. Tidak hanya BTC, beberapa mata uang kripto juga mengalami kenaikan.

Ethereum, mata uang kripto yang tidak kalah populer dari BTC naik sebesar 0,75% menjadi US$ 2.392,42. Hal tersebut terjadi juga di Dogecoin yang melesat naik 0,42% menjadi ke posisi 0,134666.

Terakhir, terlihat harga Shiba Inu yang mendaki 0,13% menjadikannya di posisi 0,000021. Dengan begitu, para investor kripto dapat mengambil napas sejenak setelah sepanjang awal tahun menghadapi kemerosotan nilai.

Baca Juga: Ciri-Ciri Saham Akan Ara, Investasi Risiko Tinggi dengan Banyak Pilihan

Pasar Kripto Sempat Menurun Lebih dari US$ 1 Triliun

Sebelum mengalami kenaikan kembali harga, pasar kripto sempat merosot dengan ekstrim. Kapasitas pasar kripto global turun lebih dari 1 triliun dollar AS.

BTC, aset terbesar mata uang kripto bahkan kehilangan nilainya lebih dari 12% pada Jumat (21/1/22). Nilai BTC menurun hingga di bawah US$ 36.000. Ini merupakan level terendah sejak Juli 2021.

Penurunan aset BTC memang tidak terjadi secara tiba-tiba. Jika dihitung dari puncaknya pada bulan November 2021 lalu, total kehilangan nilai BTC mencapai 45%.

Dengan penurunan tersebut, BTC berhasil menghapus lebih dari US$ 600 miliar dan lebih dari US% 1 triliun aset telah hilang dari pasar kripto secara agregat.

Menurunnya nilai BTC tentu mempengaruhi aset kripto yang lain. Koin ether ikut mengalami kemerosotan lumayan tajam.

Baca Juga: Tanda Saham Rebound Melalui Analisa Teknikal dan Fundamental

Pasar Saham AS Mengalami Rebound

Setelah harga mata uang kripto jatuh, para investor akan melaksanakan rapat pertama bank sentral Amerika Serikat, The Fed di 2022. Rapat tersebut berlangsung pada pekan ini.

Di sisi lain, nampaknya pasar kripto baru-baru ini mengikuti kinerja pasar saham. Hal itu terlihat dari hubungan BTC dengan indeks Nasdaq 100 yang penuh saham teknologi, namun tetap lemah.

Terjadinya hal itu menjadi pengingat bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi harga BTC dan pasar kripto namun belum dapat diketahui.

CoinDesk menyebut bahwa setidaknya untuk saat ini, harga BTC menjadi kombinasi berbagai selera risiko global dengan banyaknya dinamika pasar di China.

Lebih lanjut, pemerintah Biden juga tengah bersiap untuk merilis strategi awal di seluruh pemerintahan mengenai aset digital.

Biden juga menugaskan lembaga federal untuk menilai risiko dan peluang yang dapat timbul dari kapasitas pasar kripto. (R10/HR-Online)