Kamis, Mei 19, 2022
BerandaBerita JabarMantan Pembina GMBI Irjen Anton Sesalkan Demo Ricuh di Polda Jabar

Mantan Pembina GMBI Irjen Anton Sesalkan Demo Ricuh di Polda Jabar

Berita Jabar, (harapanrakyat.com),- Mantan Kapolda Jawa Barat yang juga mantan Pembina GMBI, Irjen Anton Charliyan, menyesalkan adanya aksi anarkis berujung ricuh, yang dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di depan Mapolda Jabar, Kamis (27/1/2022).

Terkait kasus demo ricuh tersebut, Anton merasa prihatin. Pasalnya, menurutnya, apapun komunitasnya ketika mengadakan aksi unjuk rasa harus damai. Selain itu juga tidak boleh merusak.

“Apalagi merusak institusi alat-alat atau gedung menara. Karena itu adalah kepunyaan negara,” ungkapnya saat ditemui di kediamanya, di Jl Kapten Naseh Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jumat (28/1/2022).

Alasan Anton Tidak Lagi Jadi Pembina GMBI

Selain sebagai mantan Kapolda Jawa Barat, Anton ternyata pernah menjadi bagian dari GMBI. Ia pernah menduduki posisi sebagai pembina dalam organisasi tersebut tahun 2008.

Akan tetapi, pada tahun 2018, Anton sudah tidak jadi Pembina GMBI karena beberapa alasan. Salah satunya adalah mencalonkan diri jadi anggota DPR RI.

“Jadi semenjak saat itu dan sampai hari ini, saya tidak pernah ikut dengan kegiatan-kegiatan GMBI,” tuturnya.

Alasan lainnya adalah kurang nyaman. Selain itu juga sudah tidak cocok dengan visi dan misi dari GMBI. Menurutnya, saat itu visi-misi sudah tidak sejalan dengan hati nurani.

Baca Juga : 60 Anggota GMBI Tasikmalaya Diindikasi Ikut Demo Ricuh di Polda Jabar

Karena menurutnya, biasanya dulu sebagai Dewan Pembina GMBI setiap gerakan atau aktivitas selalu dirundingkan bersama dan dipertanggung jawabkan secara bersama. “Karena GMBI itu satu komando,” jelasnya.

Bantah Terlibat Unjuk Rasa Ricuh

Sementara terkait dengan demo ricuh yang berlangsung di depan Mapolda Jabar, Anton membantah terkait dengan aksi tersebut.

“Jadi saya tegaskan sekali lagi, yang mengaitkan saya dengan GMBI, mohon maaf. Bukan saya tidak mau bertanggung jawab, karena sejak tahun 2018 sudah tidak sebagai Pembina GMBI,” tegasnya.

Lebih lanjut Anton menambahkan, bahwa ia bukan mau lempar batu sembunyi tangan. Akan tetapi, katanya, memang kenyataannya sudah tidak berada di GMBI, baik menjadi anggota maupun Dewan Pembina.

Anton menceritakan ketika ia menjadi pembina ormas tersebut, dulu pernah ada kejadian dengan salah satu ormas Islam.

“Saya tegaskan bahwa saya tidak mundur. Kalau iya saya katakan iya. Kalau tidak ya tidak,” katanya.

“Jadi setiap langkah gerakan dan aksi dari komunitas manapun juga, ketika saya sudah tidak berada di dalamnya, berarti sudah tidak bisa apa-apa lagi. Apalagi mau bertanggung jawab,” imbuhnya.

Menurutnya, bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Sehingga, ia mempersilahkan terapkan aturan hukum sesuai dengan yang seharusnya.

“Karena oknum-oknum inilah yang telah merusak. Jadi itu yang harus ditindak. Bahwa negara kita adalah negara hukum,” ujarnya.

Harapan GMBI Kedepannya

Sebagai mantan Pembina GMBI, tentu Anton sangat prihatin dan sedih dengan kejadian tersebut. Karena ia pernah menjadi bagian dari GMBI.

Lebih lanjut Anton mengatakan, bahwa ia pernah mendidik, mengajari, bahkan pernah makan bersama mereka (GMBI).

Menurutnya, militansi, kekompakan dan solidaritas bukan untuk menyerang negara. Bukan untuk menyerang aparat negara, apalagi untuk merusak.

“Karena salah satu jargon dari GMBI itu adalah NKRI harga mati,” katanya.

Sehingga, sambung Anton, seharusnya GMBI harus mampu menjaga simbol-simbol negara. “Jadi tolong kepada GMBI yang pernah saya bina, kembali ke GMBI sebagai penjaga NKRI,” ucap mantan Pembina GMBI.

Ia berharap, kepada anggota GMBI jangan mengedepankan emosi. Akan tetapi harus mengedepankan logika. Terlebih menurutnya, yang diperjuangkan itu masalah hukum.

“Karena hukum itu tidak bisa diintervensi, tidak bisa dipaksakan. Biarkan hukum berjalan sesuai dengan jalurnya masing-masing,” pungkasnya. (Apip/R5/HR-Online/Editor-Adi)

- Advertisment -