Senin, Februari 6, 2023
BerandaBerita PangandaranWarga Pangandaran Sulap Sampah Akar Pohon Jadi Barang Berharga

Warga Pangandaran Sulap Sampah Akar Pohon Jadi Barang Berharga

Berita Pangandaran (Harapanrakyat.com),- Sebagian masyarakat menilai sampah adalah barang yang tidak berguna. Namun bagi Aweng (45) warga Karang Bungur, Desa Bangun Karya, Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, sampah akar pohon jadi memiliki nilai ekonomi tinggi.

Melalui tangan kreatifnya, Aweng menyulap sampah akar pohon menjadi berbagai barang berharga dan layak jual. Aweng memungut sampah itu dari sungai terbawa arus. Baik akar pohon maupun sampah yang berbahan kayu, seperti dahan dan ranting.

“Bahan dasar kerajinan yang saya buat ini dari akar bambu yang terbawa hanyut dan pohon kayu,” ujar Aweng, Selasa (8/2/2022).

Aweng biasa menyusuri aliran sungai setelah hujan deras. Ia mencari bahan baku untuk kerajinannya. Biasanya saat hujan, arus sungai cukup deras dan membawa berbagai jenis sampah. Menurutnya hal itu menjadi sebuah peluang untuk mendulang rupiah.

Menurut Aweng, menyusuri aliran sungai ini tidak semata-mata memungut sampah. Namun juga melakukan sebuah tradisi membersihkan sungai atau Mulasarah. Sehingga ada dua manfaat yang Aweng dapatkan, yakni menjaga kebersihan aliran sungai sekaligus mengais rezeki.

Setelah berhasil mengumpulkan sampah akar pohon dan bambu, Aweng kemudian mengeringkannya. Setelah kering kemudian melakukan proses produksi dengan diukir.

“Proses pembuatannya itu sesuai tekstur dan bentuk sampah itu sendiri. Kemudian mengukir sampah itu menjadi berbagai bentuk yang menarik, seperti hewan dan ada juga wayang,” ucapnya.

Sasaran dari produk kerajinan Aweng ini adalah untuk kalangan pecinta cinderamata. Pemasarannya selain lokal juga ke daerah lain seperti Tasikmalaya, Bandung hingga ke Bali. Untuk harga kerajinan itu sesuai dengan kerumitan dan nilai seni, dari Rp 300 sampai Rp 500 ribu.

“Saya produksi ini sejak 2016 lalu. Kendalanya dari promosi dan produksi ketika ada pesanan. Harapannya ada bantuan promosi dan pasaran. Semoga kerajinan ini bisa menjadi ciri khas cinderamata dari Rest Area Langkob,” pungkasnya. (Ceng2/R9/HR-Online/Editor-Dadang)