Jumat, Mei 27, 2022
BerandaBerita TerbaruSuhu di Luar Angkasa Sangat Ekstrem dan Dingin, Apa Penyebabnya?

Suhu di Luar Angkasa Sangat Ekstrem dan Dingin, Apa Penyebabnya?

Suhu di luar angkasa tidak pernah gagal membuat orang penasaran. Bagaimana rasanya suhu luar angkasa? Apakah lebih dingin atau panas?

Luar angkasa adalah tempat yang penuh dengan misteri. Tidak banyak orang yang pernah benar-benar berkunjung kesana karena risikonya besar.

Baca Juga: Chamaeleon Cloud I Tertangkap Kamera Hubble Dikelilingi Debu Hitam

Kondisi di luar angkasa yang sangat berbeda dengan Bumi membuatnya tidak bisa ditinggali manusia. Karena pada dasarnya, Bumi adalah tempat satu-satunya manusia bisa hidup.

Planet Bumi adalah satu-satunya planet yang memiliki oksigen. Selain itu, radiasi dari matahari juga tertahan oleh atmosfer Bumi, sehingga tidak begitu mematikan.

Tingkat Suhu di Luar Angkasa yang Ekstrem

Teknologi luar angkasa yang semakin berkembang membuat penemuan-penemuan baru yang sangat membantu ilmu pengetahuan. Meski begitu, luar angkasa yang luas masih menyimpan banyak misteri.

Salah satu yang paling sering menjadi pertanyaan adalah suhu di sana. Di luar angkasa, tepatnya tata surya kita, terdapat Matahari yang menjadi sumber panas.

Bahkan, di Bumi yang notabene tidak begitu dekat dengan Matahari sudah terasa panas. Panas Matahari yang sampai di Bumi sudah terpecah dan terhalang oleh lapisan atmosfer sehingga tidak mematikan.

Dengan begitu, mungkin suhu di luar angkasa sangat panas. Namun, ternyata persepsi tersebut salah besar. Suhu luar angkasa sangatlah dingin.

Luar angkasa pada pengertiannya adalah sebuah ruang hampa di alam semesta. Matahari adalah sebuah bola gas api yang memiliki suhu inti hingga 15 juta derajat Celcius dengan suhu permukaannya 5.500 derajat Celcius.

Suhu luar angkasa normalnya bisa mencapai minus 270 derajat Celcius. Seorang ilmuwan NASA bernama Elisabeth Abel yang bekerja di Parker Solar Probe dan mempelajari Matahari menyebutkan bahwa sistem tata surya memiliki suhu sangat ekstrem.

Panas dan dinginnya suhu di luar angkasa memiliki perbedaan yang sangat jauh. Saat terpapar radiasi Matahari mencapai 150 derajat Celcius.

Baca Juga: Nama Lain dari Asteroid dan Kenali Ciri-Cirinya Berikut Ini!

Suhu tersebut bahkan lebih panas dari air yang mendidih. Itulah mengapa, astronot yang menjalani misi penerbangan luar angkasa akan menggunakan baju khusus.

Fungsi dari baju tersebut adalah melindungi para astronot dari paparan radiasi serta suhu ekstrem Matahari. Namun, suhu panas ini juga tidak terus-menerus terjadi.

Matahari dapat menghantarkan panas jika terdapat perantara atau medianya. Perpindahan panas di ruang hampa biasanya melibatkan cahaya.

Apakah Suhu Luar Angkasa Selalu Dingin?

Rata-rata suhu di luar angkasa bisa mencapai minus 270 derajat Celcius. Karena di ruang angkasa tidak memiliki molekul yang saling bergesekan, maka panas bisa terlepas begitu saja dan tak tersimpan.

Itulah mengapa, panas Matahari di luar angkasa tidak bertahan lama. Benda-benda yang mampu menerima panas memiliki suhu tinggi, sedangkan yang tidak tetap akan bersuhu dingin.

Suhu di planet-planet lain juga sama ekstremnya. Di antara semua planet, hanya Bumi yang memiliki suhu stabil untuk manusia.

Pada planet lain, suhu dari bagian yang terkena Matahari dan tidak berbeda. Sisi yang terkena radiasi Matahari adalah siang hari, sedangkan yang tidak adalah malam hari.

Perbedaan suhu panas siang dan malam hari tersebut bisa mencapai 100 derajat Celcius, bahkan lebih. Hal tersebut karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan panas.

Baca Juga: Bintang Tercantik di Alam Semesta Dengan Cahaya Paling Terang

Radiasi Matahari pada siang hari tidak akan tersimpan di manapun. Sehingga saat penyinaran berhenti, suhu akan sangat jatuh dan ekstrem.

Sebenarnya ada banyak hal yang mempengaruhi suhu di luar angkasa. Merkurius, planet paling dekat dengan Matahari bukanlah pemegang predikat planet terpanas, melainkan Venus.

Planet Venus yang berada di urutan kedua dari Merkurius memiliki suhu terpanas hingga 460 derajat Celcius. Hal itu akibat dari adanya awan tebal karbon dioksida yang mencegah panas keluar ke angkasa.

Penyebab Bumi Bisa Menyimpan Panas

Tidak seperti planet lainnya, perbedaan suhu siang dan malam hari di Bumi tidak begitu ekstrem. Panas radiasi Matahari akan tersimpan di lapisan atmosfer Bumi yang tebal.

Sehingga, saat malam hari dan cahaya Matahari berhenti bersinar, atmosfer akan tetap mengeluarkan panas yang mereka simpan. Akibatnya, suhu di Bumi masih lebih stabil daripada planet lainnya.

Perbedaan rata-rata suhu di Bumi juga hanya berkisar 3 sampai 5 derajat Celcius. Berbeda dengan suhu di luar angkasa yang bahkan lebih dari ratusan derajat Celcius sehingga sangat berbahaya bagi manusia. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -