Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita PangandaranHasan Husen: Pagi Bikin Cireng, Siang Meninggal Tertabrak Moge di Pangandaran

Hasan Husen: Pagi Bikin Cireng, Siang Meninggal Tertabrak Moge di Pangandaran

Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- Nurhasanah, Kepala Sekolah SDN 3 Tunggilis, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat tak menyangka pertemuannya dengan dua saudara kembar Hasan dan Husen pada Sabtu (12/3/2022) pagi adalah pertemuannya yang terakhir.

“Saat itu ada praktek tata boga, membuat cireng. Tidak ada tanda-tanda apapun,” tutur Nurhasanah, Minggu (13/3/2022).

Baca Juga: Biker Moge Tabrak Dua Bocah Kembar di Pangandaran Hingga Tewas

Hasan Firdaus dan Husen Firdaus adalah anak didiknya, ia terkejut saat mendengar kabar keduanya tewas karena tertabrak rombongan moge (motor gede) Harley Davidson.

Nurhasanah mengenang saudara kembar tersebut sebagai anak-anak yang periang. Keduanya selalu terlihat ceria.

Apalagi saat bermain bersama teman-temannya di Dusun Babakansari, Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

“Meski kembar, tapi tak pernah berantem apalagi ribut. Kedua anak itu dikenal baik oleh para guru. Anak pemberani, selalu bertanya saat sedang belajar,” lanjut Nurhasanah.

Menurut Nurhasanah, saudara kembar tersebut cukup pintar di sekolah. Keduanya juga kerap saling membantu apabila salah satunya kesulitan dalam pelajaran.

“Kalau yang satunya susah dalam pelajaran, saudara yang lainnya membantu, keduanya juga periang,” katanya.

Sementara itu, saudara Hasan dan Husen, Tuti Hayati (31) mengatakan, si kembar lahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai petani dan serabutan. Karena itu, banyak yang peduli terhadap Hasan dan Husen.

“Banyak yang suka ngasih jajan, saudara-saudaranya juga berasal dari lingkungan itu,” terangnya.

Baca Juga: Hilangkan 2 Nyawa di Pangandaran, Konvoi Moge Ugal-ugalan Diprotes Warga

Tuti mengenang Hasan dan Husen sebagai anak-anak yang selalu semangat pergi sekolah maupun pergi mengaji di madrasah.

“Anak-anaknya rajin. Suka lebih dulu berangkat sekolah dibanding anak-anak lain,” katanya.

Menurut Tuti ayah Hasan Husen, Wasmo (50) bekerja sebagai buruh tani. Sementara ibunya Empong (50) merupakan ibu rumah tangga.

“Mereka menikahnya ketika usia lanjut. Sebelum menikah dua-duanya juga sudah punya anak. Mereka tak menyangka ketika dikaruniai anak kembar,” jelasnya.

Sementara itu, kasus rombongan moge tabrak bocah kembar tersebut berakhir islah. Keluarga ikhlas melepas anak-anaknya dan menganggap kematian keduanya sebagai takdir. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

- Advertisment -