Rabu, Juli 6, 2022
BerandaBerita CiamisJembatan Gantung Ambruk, Puluhan Santri di Ciamis Luka-luka

Jembatan Gantung Ambruk, Puluhan Santri di Ciamis Luka-luka

Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Jembatan gantung yang berada di Dusun/Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ambruk pada Jumat (25/3/2022).

Akibatnya, puluhan santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Huda Turalak Kabupaten Ciamis ini mengalami luka-luka. 

Puluhan santri yang masih duduk di kelas 1 SMP tersebut, ada yang dilarikan ke rumah sakit, puskesmas dan ruang kesehatan Pondok Pesantren. 

Dugaan sementara, jembatan gantung tersebut ambruk karena tidak kuat menahan beban.

Padahal, pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Sukamaju dan Desa Utama itu baru saja selesai.

Pengurus Pondok Pesantren Al Huda Turalak, Mamad Ahmad Solihin mengatakan, pihaknya diberitahu oleh santri, bahwa puluhan santri jatuh ke sungai Cileueur. 

Adanya laporan tersebut, pihaknya langsung bergegas ke lokasi. Pasalnya lokasi jembatan gantung dengan Pondok Pesantren itu kurang lebih sekitar 1/2 kilometer. 

“Semuanya ada sekitar 40 orang santri yang terjatuh dan mengalami luka-luka. Ada yang lebam pada bagian muka dan tangan. Kini sudah dirawat baik di rumah sakit, puskesmas maupun Pondok Pesantren,” katanya kepada HR Online, Jumat (25/3/2022).

Ponpes Tanggung Jawab Penuh Santri Korban Jembatan Gantung Ambruk di Ciamis

Lebih lanjut Mamad menjelaskan, para santri tersebut ingin merayakan atau tasyakur setelah khatam Al-Qur’an. Dirayakannya dengan cara makan nasi liwet di pinggir Sungai Cileueur. 

Mungkin, lanjutnya, sambil menunggu nasi liwetnya matang, santri-santri tersebut berswafoto di jembatan warna-warni yang baru selesai dibangun. 

“Kata santri (korban) mereka berfoto bersama berjejeran di atas jembatan tersebut. Kemungkinan ada sekitar 30-40 orang yang berfoto, tiba-tiba jembatan gantungnya ambruk,” jelasnya. 

Pihaknya tidak mengetahui apa penyebab jembatan gantung tersebut ambruk. Namun ia menduga penyangga jembatan itu tidak kuat menahan beban.

Hal tersebut dibuktikan dengan mengelupasnya kail yang menahan penyangga jembatan tersebut. 

“Seharusnya beban kapasitas itu maksimal 3 ton, karena jembatan itu jadi arus lalu lintas masyarakat. Namun karena mungkin konstruksi bangunannya yang kurang kuat dan diduga over kapasitas, jadi tidak luat menahan beban,” ungkapnya.

Mamad menambahkan, untuk para korban saat ini sudah ditangani baik dilakukan perawatan di rumah sakit, puskesmas dan ruang kesehatan Ponpes. 

“Kalau yang luka ringan kita bawa ke pondok saja. Namun untuk luka yang cukup parah, kita bawa ke rumah sakit dan puskesmas untuk dilakukan perawatan,” bebernya.

Mamad menegaskan, bahwa Ponpes Al Huda Turalak bertanggung jawab penuh untuk kesembuhan santri. Maka dari itu, pihaknya akan merawat santri-santri tersebut sampai sembuh. 

“Rata-rata sakitnya luka lebam pada kaki, tangan, muka, kepala dan juga badan lainnya. Beruntung saat jembatan gantung itu ambruk, aliran sungai sedang tidak pasang sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (Ferry/R5/HR-Online/Editor-Adi)